Saya adalah tipe orang yang membuka artikel berjudul "Cara Fokus Membaca 30 Menit" dan gagal fokus di menit kedua.
Niat saya waktu itu mulia sekali. Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, saya merasa harus bisa akrab dengan teks-teks panjang. Saya buka satu cerpen di HP. Baru sampai paragraf tiga, notifikasi toko oranye muncul "Ada diskon 70%!" Refleks, saya bilang ke diri sendiri, cek sebentar saja. Alhasil, tiga puluh menit kemudian saya sudah berada di TikTok dan menyaksikan perdebatan netizen di kolom komentar, tentang kenapa kucing oren itu begitu barbar.
Setelah itu saya tutup HP dengan perasaan bersalah yang sangat familiar. Perasaan seperti habis membelot dari tugas sendiri.
Awalnya saya berpikir apa cuma saya yang rusak? Ataukah mungkin saya memang generasi yang tidak tahan bosan. Generasi yang tidak tahan berlama-lama dengan barisan teks? Atau, mungkin otak saya memang sudah di-setting oleh algoritma untuk merasa bosan tiap 7 detik?
Karena pertanyaan-pertanyaan ini lumayan mengganggu, saya pun jadi penasaran. Apakah teman-teman sekelas saya yang setiap minggunya, mendapat tugas bedah novel tebal juga merasakan hal yang sama? Ataukah cuma saya yang luput dari jangkauan kecerdasan?
Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan hal yang sangat Gen-Z, yaitu membuat kuesioner di Google Form dan saya sebarkan ke grup kelas. Isinya pertanyaan-pertanyaan yang kurang membanggakan tentang kebiasaan membaca kami.
Ada 20 orang teman sekelas di Sastra Inggris semester 3, yang dengan sukarela mengisi kuesioner. Saya tidak sedang berpura-pura menjadi seorang peneliti andal. Saya cuma mau validasi, cuma mau memastikan apakah saya sendirian.
Hasilnya ternyata melegakan sekaligus memprihatinkan. Ternyata kami semua sama saja.
Sebanyak 75% dari kami mengaku setidaknya terkadang terganggu oleh notifikasi saat sedang coba membaca serius. 75%! Angka yang cukup fantastis. Jadi kalau di kelas ada 20 orang yang pura-pura khusyuk membaca, maka 15 di antaranya sebenarnya sedang berjuang keras menahan diri untuk tidak buka Instagram, Tiktok, atau main video game.
Lebih parahnya lagi, 85% dari kami mengaku setidaknya terkadang kesulitan mempertahankan perhatian saat baca teks digital yang panjang. Kalau ini bukan lagi soal malas, melainkan soal membaca di HP yang rasanya seperti orang yang lagi curhat serius di tengah konser Metalicca. Berisik sekali.
Yang paling membuat saya merasa tertampar adalah jawaban soal pemahaman. Di kuesioner itu, saya bertanya jika setelah baca teks yang panjang, apakah kamu bisa menjelaskan isinya memakai kata-kata sendiri tanpa ngintip teks aslinya ? Hanya 31% yang menjawab "sering bisa". Sisanya? Jarang atau terkadang. Jadi jika disimpulkan ternyata kami ini sering menyelesaikan bacaan, tapi tidak membawa pulang isinya. Seperti orang yang habis nonton film dua jam tapi kalau ditanya ceritanya tentang apa, maka jawabnya "bagus kok, banyak gambarnya".
Hingga di titik ini, kami sadar ternyata kami ini bermasalah. Kemudian 80% dari kami tahu kalau membaca cepat alias skimming itu hanya membuat kita merasa pintar, dan bukan jadi pintar. Dan terakhir, 60% dari kami bahkan berharap punya waktu khusus untuk membaca tanpa diganggu. Artinya, kami sebetulnya tahu solusinya, tahu obatnya apa. Hanya saja kami tidak pernah mau minum obatnya.
Setelah survei kecil-kecilan itu, saya jadi tergerak untuk memeriksa, jangan-jangan anomali literasi kelas kami ini sudah ada yang pernah menelitinya secara serius.
Dan ternyata, ya, sudah ada.
Apa Kata Sains Soal Otak Kita ?
Clinton-Lisell pada tahun 2021, setelah mengumpulkan banyak penelitian, mereka menemukan kesimpulan yang sangat menyebalkan tapi akurat, bahwa multitasking saat membaca membuat pemahaman turun dan waktu baca jadi lebih lama. Sedangkan kita merasa bahwa, multitasking itu keren dan produktif, padahal faktanya kita cuma butuh waktu lebih lama untuk hasil yang lebih jelek.
Mason dan teman-temannya pada tahun 2025 juga menemukan hal yang sama. Mereka meminta orang untuk membaca sambil membalas chat. Hasilnya? Yang membaca sambil balas chat pemahamannya lebih berantakan. Kaget? Nggak.
Shen pada tahun 2025, merangkum 32 penelitian dan ia mengungkapkan hal yang sama, yakni kalau perhatian kita terbagi-bagi, maka pemahaman pun ikut terbagi-bagi juga. Sesederhana itu.
Lalu apa solusinya? Apakah kita harus kembali ke zamannya baca buku kertas dan singkirkan HP jauh-jauh? Nggak juga. Salmeron dan timnya pada tahun 2024, ditambah dengan penelitian lanjutan Clinton-Lisell di tahun 2026, yang merangkum 56 penelitian. Menemukan kalau membaca teks di kertas ternyata sedikit lebih unggul daripada di HP. Catat ya, sedikit ! Lalu yang lebih mengejutkan mereka juga menyatakan, bahwa, yang paling berpengaruh itu bukan medianya, tetapi kebiasaan kita membaca. Kita bisa saja baca buku cetak sambil melamun, dan kita pun bisa baca teks di HP dengan fokus penuh kalau memang mau.
Jadi masalahnya bukan HP-nya, bukan medianya. Masalahnya adalah kita tanpa disadari sudah melatih otak kita untuk selalu mencari distraksi.
Trik 20 Menit dan Cara "Ngegosip" yang Benar
Akhirnya, apa yang saya lakukan sekarang? Saya tentu saja tidak mau menjadi minimalis digital yang sok-sokan jual HP dan pindah ke tempat terpencil. Saya masih butuh HP untuk berbagai kebutuhan.
Saya hanya buat perjanjian yang sangat kecil dan sangat tidak keren, yaitu 20 menit, satu bacaan, dan notifikasi mati. Selesai membaca, HP saya tutup, lalu saya paksa diri saya untuk menjelaskan isinya pakai bahasa saya sendiri, seperti orang yang lagi bergosip. Kalau tidak bisa, itu artinya saya belum membaca. Saya baru sekadar numpang lewat.
Cara ini memang tidak estetik dan bukan juga sebuah kemewahan yang bisa dijadikan konten Instagram Story. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya akhirnya bisa merasakan kembali kenikmatan membaca yang sesungguhnya, yang sempat hilang karena kebiasaan menggulir.
Dan ternyata, saya tidak sendirian.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Stop Scroll Medsos Seharian! Ini Terapi Paling Manjur Bebas dari Brain Fog
-
Parah Jadi Para, Gaji Jadi Gajih: Ketika Satu Huruf Mengubah Makna Bahasa
-
Di Rumah atau Dirumah? Kesalahan Sepele yang Terus Berulang di Media Sosial
-
Bahasa Indonesia Kreatif Gen Z: Merebut Kembali Kendali Ekspresi di Medsos
-
Sering Dengar Kata 'Slay' atau 'AFK'? Kenali 5 Karakteristik Bahasa Gaul Anak Muda
Kolom
-
Sering Dianggap Remeh, Segini Mahalnya Biaya Menjadi Perempuan Setiap Bulan
-
Beras Bebas Pajak, Pembalut Kena PPN: Potret Hukum Kita Buta Gender
-
Kerja Keras Saja Tidak Cukup! Alasan Mengapa Keluar dari Kemiskinan Bukan Sekadar Soal Usaha
-
Awas Kena PHP Perusahaan! Ini Bahaya Terselubung Tren Ghost Job bagi Pencari Kerja
-
Jebakan Konsumerisme Digital: Di Balik Perilaku Cemas dan Lapar Mata Gen Z
Terkini
-
Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians
-
5 Film Baru Sambut Akhir Pekan Ini, Ada Laut Bercerita hingga The Intern
-
Jay Idzes Cedera Parah, Terancam Absen di Ajang FIFA Matchday November?
-
Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled
-
Thriller hingga Romcom, 5 Rekomendasi Drama yang Dibintangi Kim Young Kwang