Media sosial belakangan ini diramaikan dengan unggahan salam tiga jari atau three-finger salute yang sempat terlihat dalam aksi demonstrasi pada 28 Oktober lalu.
Salam tiga jari dilakukan dengan cara mengacungkan jari telunjuk, tengah, dan manis secara bersamaan sementara ibu jari menekuk jari kelingking.
Tak sedikit pihak yang bertanya-tanya mengenai apa sebenarnya makna salam tiga jari yang kini ramai digaungkan di media sosial.
Berawal dari The Hunger Games, Berkembang Menjadi Simbol Perlawanan
Salam tiga jari bukan sekadar gestur tangan yang muncul begitu saja dalam aksi demonstrasi. Kalau kamu pernah menonton seri film The Hunger Games, tentunya tidak asing lagi dengan simbol tersebut.
Salam tiga jari tersebut memang memiliki kaitan erat dengan seri film yang dibintangi aktris cantik Jennifer Lawrence itu. Sebuah kisah distopia tentang masyarakat yang hidup di bawah kekuasaan Capitol dan perjuangan para pemberontak untuk mendapatkan kebebasan.
Dalam cerita tersebut, salam tiga jari awalnya merupakan bentuk penghormatan yang digunakan penduduk Distrik 12.
Gestur ini melambangkan rasa terima kasih, kekaguman, perpisahan, sekaligus persatuan di antara orang-orang yang memiliki ikatan emosional.
Momen kemunculannya terjadi ketika sang tokoh utama, Katniss Everdeen secara sukarela menjadi peserta atau tribute dalam Hunger Games ke-74 demi menyelamatkan adiknya, Prim.
Penduduk Distrik 12 kemudian menempelkan tiga jari tangan kiri ke bibir sebelum mengangkatnya sebagai bentuk penghormatan kepada Katniss.
Maknanya kemudian berkembang ketika Katniss menggunakan gestur yang sama untuk berpamitan kepada Rue, peserta muda dari Distrik 11 yang tidak berhasil ia selamatkan. Penduduk Distrik 11 membalasnya dengan mengangkat tiga jari secara massal sebagai tanda solidaritas dan persatuan. Aksi tersebut lalu berujung pada kerusuhan.
Dari sinilah salam tiga jari dalam The Hunger Games semakin lekat dengan simbol perlawanan terhadap Capitol. Gestur yang awalnya bersifat personal berubah menjadi lambang pemberontakan yang dipimpin Katniss.
Diadopsi Demonstran, Menjadi Simbol Solidaritas di Dunia Nyata
Menariknya, salam tiga jari tidak berhenti sebagai bagian dari cerita fiksi. Gestur tersebut kemudian diadopsi oleh sejumlah gerakan pro-demokrasi di dunia nyata, termasuk di Thailand dan Myanmar.
Melansir The Guardian dalam artikel berjudul “Three-finger salute: Hunger Games symbol adopted by Myanmar protesters” salam tiga jari digunakan di Thailand beberapa hari setelah kudeta militer pada Mei 2014.
Sekelompok pengunjuk rasa muda berkumpul di depan pusat perbelanjaan untuk menunjukkan ketidakpuasan mereka.
Salah seorang demonstran mengangkat tangannya dengan gestur tersebut, lalu diikuti oleh peserta aksi lainnya.
Aktivis pro-demokrasi Thailand, Sirawith Seritiwat, menjelaskan bahwa gestur itu kemudian secara otomatis menjadi simbol anti-kudeta.
“Saat orang itu memulainya, yang lain pun mengikuti. Jadi, gestur ini secara otomatis menjadi simbol anti-kudeta,” ujar Sirawith Seritiwat yang merupakan seorang aktivis pro-demokrasi terkemuka asal Thailand yang berada di lokasi demonstrasi saat itu.
Menurutnya, salam tiga jari mudah dipahami sebagai representasi kebebasan, kesetaraan, dan solidaritas.
Tak hanya di Thailand, penggunaan simbol serupa juga terlihat di Myanmar. Para tenaga medis menjadi kelompok pertama yang menggunakannya, kemudian diikuti oleh pengunjuk rasa muda sebagai bentuk penentangan terhadap kudeta militer.
Salam Tiga Jari Jadi Fenomena Budaya Populer
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana budaya populer dan internet dapat menjadi sarana komunikasi bagi generasi muda. Mereka memanfaatkan simbol yang dikenal luas agar pesan perjuangan lebih mudah dipahami, bahkan oleh masyarakat di luar negara mereka.
Siapa sangka, simbol yang muncul dalam sebuah film fiksi itu kini berkembang menjadi tanda solidaritas dan perlawanan terhadap kekuasaan.
Karena itu, kemunculannya kembali dalam aksi demonstrasi 28 Oktober lalu menarik perhatian publik. Salam tiga jari kini bukan hanya gerakan mengangkat tangan, melainkan simbol yang membawa sejarah panjang tentang kebebasan, persatuan, dan keberanian.
Baca Juga
-
Sinopsis Akka, Angkat Kisah Gangster Perempuan di India Era 1980-an
-
Sinopsis Bass X Machina, Anime Steampunk tentang Marsekal Pemburu Bayaran
-
7 Film Dokumenter Netflix, Angkat Kasus Pembunuhan hingga Kehidupan Artis
-
Tren Bahasa Gado-Gado ala Gen Z: Akankah Bahasa Indonesia Terasing di Negeri Sendiri?
-
Siap Uji Nyali? Ini 6 Film Horor Terbaik 2026 Buat Temani Malam Halloween
Artikel Terkait
-
Dari Perjuangan Jilbab ke Reformasi: Kebebasan Tidak Lahir dari Sikap Diam
-
Awas Bahaya Logistik Gratisan: Kasus Teh Berbusa Demo HI Jadi Pelajaran
-
Ramai saat Demo, Sunyi setelahnya: Mengapa Gerakan Rakyat Terjebak Musiman?
-
Dari Tanah Papua ke Jakarta, Jejak Perlawanan di Balik Salib Merah PMKRI
-
Godzilla El Nino Muncul di Aksi Keadilan Iklim Jakarta
Kolom
-
Pajak Pembayaran Digital: Negara Jangan Bikin Rakyat Makin Waswas
-
MagangHub dan Potret Suram Pasar Kerja: Kala Fresh Graduate Berebut Posisi
-
Kala Karhutla Nusantara Terus Berulang: Siapa yang Menanggung Derita?
-
Dari Perjuangan Jilbab ke Reformasi: Kebebasan Tidak Lahir dari Sikap Diam
-
Ramai saat Demo, Sunyi setelahnya: Mengapa Gerakan Rakyat Terjebak Musiman?
Terkini
-
Review Shoplifters: Bahwa Keluarga Tak Selalu Dibentuk oleh Hubungan Darah
-
The Devotion of Suspect X: Bukti Pengorbanan Ekstrem demi Wanita Pujaan
-
Stop Tunggu Mood, Ini Lima Insight Disiplin Menulis dari J.S. Khairen
-
Perempuan Berkebaya Lumut di Jalan Hutan
-
Review The Lament of Autumn: Romansa Era Republikan yang Berakhir Tragis