Bagi mahasiswa tingkat akhir, kira-kira jenjang semester 7 dan 8, tentu sudah berpikir ke arah proposal dan nantinya akan menjadi skripsi pada tahap akhir sebelum wisuda. Masa ini mungkin bisa dikatakan sebagai masa yang akan membutuhkan kefokusan, timbulnya kesadaran dan tuntutan pun juga tinggi. Belum lagi kalau ada yang sering bertanya dari keluarga, kapan wisudanya?
Mendengar tentang nama mahasiswa, tentu saja tidak lepas dari persoalan skripsi dan mungkin juga terkesan klise di masyarakat. Proses pekerjaan skripsi sudah menjadi konsumsi sebagai pekerjaan tidak mudah, bahkan pada masa pengerjaannya pun kadang kala ada mahasiswa yang justru kandas pada masa tersebut. Akhirnya, terpilihlah ia sebagai mahasiswa mapala di Kampus, (mahasiswa paling lama).
Ironisnya juga, ada berita di sosial media mahasiswa bunuh diri gara-gara nggak kuat kerja skripsi, bahkan berita lain ada mahasiswa stress karena skripsinya selalu disuruh riview oleh dosen pembimbing. Sehingga hal itu menjadi dogma bahwa skripsi adalah pekerjaan menakutkan untuk mahasiswa tingkat akhir dan menjadi fobia yang membudaya.
Ada banyak cara unik yang dilakukan mahasiswa untuk mengerjakan skripsi. Berawal dari pengerjaan skripsi di sudut-sudut caffe shoop, sampai pada warung tongkrongan, hingga tempat parawisata pun juga ada. Ya, dengan alasan agar pikiran bisa lebih rileks, mudah mendapatkan ide dan lancar dalam mengerjakan skripsi.
Kadang kala juga ada mahasiswa, bukan ia sendiri yang membuat skripsinya, tetapi ia menyewa orang yang dapat membuatkan skripsi dengan jasa akan di bayar. Kejadian seperti itu tentu sangat tidak dibenarkan bagi seorang penyandang terpelajar dan akademisi, di mana nantinya ia dengan bangga menyandang sarjana, tetapi bukan ia sendiri yang kerja skripsinya. Padahal proses pengerjaan skripsi ada pembelajaran besar teruntuk bagi mahasiswa, dan itu juga suatu proses penelitian sebagaimana tertuang di dalam Tridarma Perguruan Tinggi.
Hal ini disebabkan karena fobia terhadap pengerjaan skripsi terlalu berlebihan, menganggap skripsi sebagai pekerjaan yang seram dan nampak seperti nenek lampir. Alhasil, kondisi tersebut ada mahasiswa justru maunya simpel, kerja instan dan tidak mau ambil pusing. Makanya ia malah mengandalkan uang untuk menyewa orang yang bisa diajak mengerjakan skripsinya.
Tidakkah sadar di awal bahwa ketika siap menjadi mahasiswa maka tentu siap juga menghadapi segala resiko dan tantangannya. Melaluinya sampai akhir, bukan justru menjadi mahasiswa yang hanya gaya-gayaan dan apatis terhadap keadaan.
Bagi mahasiswa yang terlalu fobia terhadap skripsi dan menganggapnya sebagai pekerjaan yang sulit. Saya punya usulan dan rekomendasi yang bisa dilakukan agar fobia tersebut berkurang, kalau perlu dimusnahkan di dalam pikiran.
Pertama, kunci utama yakni membuang dan menghilangkan stigma kalau skripsi itu adalah pekerjaan yang sangat sulit. Stop membebani pikiran dengan hal seperti itu kalau belum mencoba dan berusaha keras untuk mengerjakannya. Mantapkan niat dan fokuskan tujuan yang jelas untuk dapat menyelesaikan skripsi, bukan malah kerja sedikit langsung mengeluh. Memang hal itu lumrah terjadi kalau ada pekerjaan akan terasa berat saat masih di pikiran, namun ketika dilalui dengan penuh keseriusan ternyata tidak juga, begitu pun dengan skripsi.
Kedua, buatkan kerangka yang bagus untuk penyusunan proposal dan skripsi nantinya. Menemukan rumusan masalah dan problematisasi yang kuat, untuk kemudian diajukan sebagai judul penelitian kepada dosen pembimbing. Nah, ketika kerangka sudah matang, problemnya sudah kuat, maka tentu juga akan lebih terarah dalam mengerjakan suatu skripsi.
Ketiga, perbanyak konsul kepada dosen pembimbing dan banyak belajar dari skripsi sebelumnya dengan memperlajari problemnya, metodenya dan konsepnya. Sehingga dari situ juga dapat terinspirasi untuk dapat membuat metode yang berbeda meskipun masalahnya sama. Nah, tentu itu tidaklah masalah selama tidak melakukan plagiat, it's okey, lanjutkan.
Keempat, konsisten dan menentukan target. Mungkin hal ini paling panting dan dapat mencakup semua yang di atas. Dalam pekerjaan apapun itu, kalau sudah konsisten, tekun dan sabar untuk terus bekerja, saya pikir akan lebih mudah untuk mendapatkan hasilnya. Konsisten dengan target yang sudah ditentukan adalah salah satu kunci bagi orang-orang sukses. Begitu pun dengan skripsi ketika sudah konsisten mengerjakan, target sudah tepat sasaran, maka tentu mengerjakan skripsi pun akan lebih mudah.
Terakhir, mencintai setiap pekerjaan, termasuk mencintai pekerjaan skripsi. Mengerjakan hanya untuk mendapatkan ilmunya, bukan karena ada tekanan atau paksaan karena tentu akan terasa berat.
Kemudian, yang paling terpenting untuk para dosen dan pembimbing skripsi. Mestinya juga bersikap profesional dalam membimbing mahasiswa untuk mengerjakan skripsi, jangan karena tidak suka kepada mahasiswa tertentu justru membikin sulit, apalagi memang sengaja untuk membuat dia mutar-mutar, coret-menyoret dengan seenaknya. Kan itu justru malah membuat mahasiswa pekerja skripsi akan tambah pusing. Ya, semoga saja apa yang saya asumsikan tidak ada dosen yang seperti itu, wallhu wa'lam.
Jadi, marilah berpusig-berpusing dengan skripsi karena skripsi itu bukanlah pekerjaan yang sulit. Meskipun, ada skripsi yang jumlah halamannya sampai ratusan, dan dipertanyakan itu untuk apa sih? Eits, stop jangan bahas lagi, nanti akan bertambah pusing. Semangat para pejuang skripsi.
Baca Juga
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
Artikel Terkait
-
Novel Zero Byte: Ketika Deadline Skripsi dan Perjodohan Datang Bersamaan
-
Ketika Olahraga Jadi Ruang Mahasiswa Mengasah Skill dan Kekompakan
-
Aliansi Mahasiswa UGM, UI, ITB Ultimatum Rezim: Setop Hamburkan Uang Rakyat dan Bungkam Demokrasi
-
Dari Debat hingga Ide Inovasi Energi, Ini Para Pemenang PGTC 2026
-
5 Zodiak yang Dikenal Mudah Jatuh Cinta, Gampang Baper dan Cepat Terpesona
Lifestyle
-
4 Tone Up Sunscreen Buat Kulit Remaja Bikin Cerah Natural Tanpa Efek Dempul
-
5 Parfum Fresh Pria dengan Aroma Maskulin dan Menyegarkan
-
Sama-Sama dari Singkong, Apa yang Bikin Tepung Tapioka dan Mocaf Beda?
-
Anti Lengket! 5 Sunscreen Gel Lokal SPF 50 untuk Perlindungan Maksimal
-
4 Serum Witch Hazel Andalan Kulit Berminyak Kontrol Sebum dan Atasi Jerawat
Terkini
-
Gonta-Ganti HP Cuma Buat Gengsi? Awas, Kelas Sosial dari Layar Gadget Seringnya Cuma Ilusi!
-
Buku 30 Hari Mengubah Kebiasaan Buruk: Belajar Berubah dari Hal Kecil
-
Sephora Kids dan Obsesi Skincare Dini: Saat Anak SD Lupa Caranya Bermain
-
Review Serial Honor Thy Mother: Mengulik Duka dan Ambisi dalam Keluarga
-
Lou Lou dan Naga Peliharaannya: Kisah Unik di Hari Pertama Sekolah