Di dua episode sebelumnya, saya sempat menjelaskan tentang sosok pembunuh yang tidak lagi ditampakkan. Sejak episode lima kemarin, alur The Scarecrow sepertinya memang mulai difokuskan ke arah penyelidikan kepolisian. Mereka lebih banyak mencari berbagai petunjuk yang mengarah pada pelaku yang mereka cari selama ini.
Sampai di sini, jujur saya merasa semakin greget saat menonton drama ini. Bukan hanya karena hubungan tokohnya yang semakin rumit, tetapi juga konflik yang terasa semakin kompleks. Di akhir episode enam kemarin, saya sudah dibuat curiga dengan salah satu tokoh dengan ciri fisik yang cocok dengan pelaku. Namun, di episode 7, hampir semua teori yang saya susun selama enam episode akhirnya dipatahkan.
Sebetulnya, ada perasaan sedikit jengkel saat menonton episode 7 kemarin. Karena sebelumnya, saat saya scrolling di TikTok, beberapa potongan adegan sudah di-spoiler. Bahkan wajah pembunuh aslinya pun ikut dibagikan di media sosial.
Meski sempat merasa kurang mood untuk menonton, saya tetap membuka episode tersebut karena penasaran. Di bagian awal, kita dibuat bingung dengan banyaknya petunjuk yang mengarah ke tersangka yang dicurigai Kang Tae-joo sebelumnya. Tapi di saat yang sama, clue tersebut juga ada kemungkinan cocok dengan orang lain yang belum dicurigai Tae-joo. Hal ini kemudian membuat saya berpikir, "jangan-jangan bukan dia, tapi orang ini?"
Pemikiran itu akhirnya membuat saya mengernyitkan dahi sepanjang episode, tapi lagi-lagi kecurigaan saya terpatahkan setelah menyelesaikan episode 7. Berbagai teori berkembang di media sosial. Banyak orang mengatakan bahwa tersangka yang dicurigai karena kecocokan ciri fisik tersebut menjadi orang yang salah ditangkap oleh kepolisian berdasarkan cerita asli kasus Hwaseong yang terjadi di Korea.
Sementara pelaku aslinya adalah orang lain yang sebelumnya memang sempat saya curigai. Tapi sosoknya yang tidak begitu disorot dalam drama, membuat kecurigaan saya terus berpindah dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Menyebalkan memang, tapi bagi saya itulah keseruan menonton drama misteri yang masih on going. Meskipun begitu, salah satu tebakan saya ternyata tidak meleset terlalu jauh.
Setelah menonton episode 7 kemarin, saya mengira kalau episode selanjutnya akan lebih banyak menampilkan latar di tahun 2019. Ternyata masih belum. Ada persoalan lain yang belum benar-benar tuntas di kasus tahun 1988. Tersangka yang ditangkap saat itu terpaksa mengakui pembunuhan yang tidak dia lakukan karena disiksa habis-habisan oleh beberapa oknum kepolisian.
Kemudian kita berlanjut ke episode 8. Di sini, saya benar-benar diperlihatkan ketimpangan kuasa bisa menghancurkan seseorang. Orang-orang yang menangkap pelaku dianggap telah menegakkan keadilan—tanpa peduli bagaimana prosesnya. Mereka bahkan menerima penghargaan sebagai pegawai negeri berprestasi. Sementara itu Kang Tae-joo, yang sudah berusaha keras untuk menemukan kebenaran justru dituduh sebagai dalang kekerasan.
Sepanjang dua episode ini, yang paling membuat saya kesal adalah dua oknum polisi yang terus menyiksa tersangka dan jaksa Cha Si-young yang memerintahkan penyiksaan itu demi mendapatkan pengakuan. Sebagai pihak yang seharusnya menegakkan hukum, mereka malah melakukan hal yang sangat tidak manusiawi pada orang lain. Alih-alih mencari lebih banyak bukti dan menyelidiki lebih jauh, mereka malah menyiksa tersangka agar mengaku sendiri.
Bahkan setelah salah satu tersangka meninggal akibat penyiksaan yang dialaminya, mereka masih belum juga berhenti. Tiga orang itu malah menyiksa tersangka lain yang dicurigai oleh Kang Tae-joo dan memenjarakannya tanpa melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Mungkin ini terdengar jahat, tapi sejujurnya, saya sangat menantikan kehancuran jaksa Cha Si-young bersama oknum lain yang terus mendukungnya di tangan Tae-joo. Tapi mungkin ini baru akan terjadi jika pembunuhan berantai di tahun 1988 benar-benar terungkap secara keseluruhan.
Apakah itu mungkin terjadi saat Si-young masih memiliki orang-orang berkuasa di sisinya? Entahlah. Kita nantikan saja episode-episode selanjutnya sambil menelan rasa penasaran dan memikirkan berbagai kemungkinan.
Baca Juga
-
Saat Anak Dituntut Berprestasi Tanpa Diberi Ruang untuk Gagal
-
Sisi Gelap Hustle Culture: Saat Produktivitas Berubah Menjadi Racun
-
Viral Ucapan MC, Publik Soroti Cara Halus Membungkam Suara Anak Muda
-
Ketika Inflasi Membuat Anak Muda Hari Ini Kehilangan Gairah untuk Bermimpi
-
Perempuan yang Selalu Meminta Diantarkan Pulang
Artikel Terkait
Ulasan
-
Menonton Pesta Babi di Sidrap: Tentang Literasi dan Larangan yang Ironis
-
Dari Budaya Pop ke Kesadaran Publik: Kuasa Media di Indonesia
-
Layak Tonton atau Hanya Eksploitasi Mitos? Kupas Tuntas Film Horor Tumbal Proyek
-
Bukan Sekadar Kisah Sedih: Mengapa Novel Lee Kkoch-nim Ini Justru Terasa Sangat Menghangatkan?
-
Misteri Batu Garuda di Belitung: Keajaiban Geologi yang Membuat Dunia Terpukau
Terkini
-
Bukan Solusi, Membalas "Terserah" dengan "Sepakat" Justru Jadi Bom Waktu bagi Hubunganmu
-
Song Joong Ki Comeback ke KBS Lewat Drama Romantis Love Cloud Usai 1 Dekade
-
Thriving adalah Privilege, Surviving adalah Lifestye: Dilema Gen Z Menjalani Hidup Berkelanjutan
-
Saat Anak Dituntut Berprestasi Tanpa Diberi Ruang untuk Gagal
-
Uji Nyali Para Hantu