Saat kamu membereskan kamar, barang-barang yang tidak dipakai apakah masih tersimpan? Jika, ya, bisa jadi kamu penderita hoarding disorder. Disadur dari psychiatry, seorang yang sangat sulit berpisah dari barang-barang di sekitar atau miliknya disebut hoarding disolder, penderitanya disebut hoarder. Barang yang disimpan tersebut mungkin dianggap bersejarah, memiliki nilai sentimental, atau digunakan kemudian hari.
Namun, tidak semua orang yang mengumpulkan barang menderita hoarding disorder. Ada beberapa ciri yang membedakan. Apakah itu? Yuk, disimak
1. Senang menyimpan barang yang orang lain anggap tidak berguna
Barang yang disimpan oleh seorang hoarder bermacam-macam. Namun rata-rata barang tersebut tidak banyak gunanya bagi orang banyak.
Dikutip National Health Service barang yang ditimbun, koran, majalah, plastik bekas, kardus, kantong kertas, pakaian, surat tagihan, hingga peralatan-peralatan yang telah rusak masih disimpannya. Ia tidak mau membuang atau menguranginya sehingga bertumpuk-tumpuk.
Pada kasus tertentu seorang hoarder juga mengumpulkan berbagai jenis binatang. Ia memeliharanya tetapi tidak dirawat dengan baik dan terlantar.
2. Tidak dapat mengatur barang
Selain menumpuk dan menyimpan berbagai macam barang, seorang penderita hoarding disorder tidak dapat mengatur barang-barang tersebut.
Dikutip dari Mayo Clinic, seorang hoarder sering menciptakan kondisi hidup yang sempit dan sumpek karena rumah berisi tumpukan barang-barang. Rumahnya menjadi penuh dengan barang, tidak rapi serta kotor dan pengap.
3. Orang lain tidak boleh menyentuh barangnya
Selain barang yang berantakan, seorang hoarder akan marah jika ada yang menyentuh barang-barangnya, terutama jika dibereskan.
Memindahkan barang-barang tersebut juga akan menyulut kemarahannya. Oleh karena itu, orang-orang yang hidup bersamanya, kerap kesulitan untuk membantunya keluar dari kebiasaan buruk tersebut, seperti sekadar menata barang-barangnya.
4. Kualitas hidup yang buruk
Tumpukan barang yang terdapat di mana-mana menyebabkan rumahnya sempit sehingga kediamannya tidak fungsional serta tidak dapat bebas bergerak.
Barang-barang yang bertumpuk tersebut sering tidak dibersihkan sehingga higienitas rumah buruk menyebabkan masalah kesehatan. Akibatnya kualitas hidup buruk
5. Mempunyai hubungan yang buruk dengan penghuni rumah
Seorang hoarder sering mempunyai masalah dengan penghuni rumah. Misal dengan saudara, orang tua, atau istri, karena saat mereka akan membereskan barang ia akan marah.
Keadaan ini membuat seorang hoarder mengisolasi diri dari lingkungan. Di sisi lain ia juga biasanya malu akan kondisi rumahnya yang berantakan, jadi enggan menerima kunjungan tamu.
6. Sering cemas
Penderita hoarding disolder sering dikaitkan dengan masalah kejiwaan.Dilansir Hoarding.iocdf.org, hoarding disolder adalah penyakit kejiwaan. Salah satunya yaitu sering cemas.
Rasa cemasnya menyangkut keberadaan barang-barangnya akan dibuang atau dibereskan oleh orang lain. Selain itu ia juga mengalami kecemasan yang luar biasa jika barang-barangnya disentuh oleh orang lain.
Itulah enam ciri penderita hoarding disorder. Jika ada keluarga, teman, atau tetangga yang menunjukkan gejala seperti di atas jangan dibiarkan. Cari bantuan untuk mengatasinya atau mengajaknya berkonsultasi dengan tenaga medis agar dapat ditangani dengan tepat.
Baca Juga
-
Berencana Menikah Muda? Perhatikan 5 Hal ini untuk Persiapan Pernikahanmu
-
5 Cara Mudah Menghentikan Kebiasaan Berutang agar Tidak Terjerat Pinjol
-
5 Langkah Mudah Mengurangi Polusi Dimulai dari Rumah, Lakukan Yuk
-
5 Trik Masak Daging Ayam agar Matang Merata, Terbebas 'Chicken Anxiety'
-
5 Tips Menjaga Kesehatan Sistem Pernapasan di Tengah Polusi Udara, Catat!
Artikel Terkait
Lifestyle
-
4 Ide Outfit Simpel ala Ranty Maria, Nyaman dan Tetap Modis
-
4 Sepatu Trail Running untuk Medan Licin dan Berbatu, Stabil dan Anti-Slip!
-
Kacang Rebus Terakhir di Pasar Malam
-
4 Serum Actosome Retinol Atasi Tekstur Kulit dan Garis Halus Tanpa Iritasi
-
4 Rice Cooker Digital Multifungsi dengan Fitur Lengkap untuk Sehari-hari
Terkini
-
Fresh Graduate Jangan Minder! Pelajaran di Balik Fenomena Open To Work Prilly Latuconsina
-
Misi Damai di Luar, Kegelisahan di Dalam: Menggugat Legitiminasi Diplomasi
-
Hadapi Sengketa Pajak Rp230 Miliar, Cha Eun Woo Gandeng Firma Hukum Kondang
-
Transformasi AI dalam Ekonomi Kreatif Indonesia: Peluang Emas atau Ancaman?
-
Debut Unit Baru, Jeno dan Jaemin NCT Siap Merilis Mini Album 'Both Sides'