Marah adalah emosi yang ditandai oleh pertentangan terhadap seseorang atau perasaan setelah diperlakukan tidak benar. Kemarahan membantu kita memahami bahwa diri merasa dirugikan dan memberi dorongan untuk bertindak atau memperbaiki keadaan. Namun terkadang kita cenderung akan mengeluarkan kata-kata dengan nada tinggi saat memperbaiki keadaan tersebut.
Nah, berikut beberapa cara untuk menyampaikan amarah secara elegan agar tidak memunculkan rasa empati atau penyesalan.
1. Menahan diri sejenak untuk tidak berbicara
Ketika marah, diamlah dan berhitung di dalam hati sampai pikiran jernih kemudian baru berbicara. Karena ketika marah, kita cenderung frustasi dan berbicara dengan nada tinggi. Hal itu dapat membuat keadaan semakin tidak terkendali. Sebagaimana sabda Nabi dari Ibnu Abbas RA:“Jika kalian marah, diamlah.”
2. Memposisi kan diri agar lebih tenang
Ketika kita marah dalam posisi berdiri, maka beralihlah ke posisi duduk. Apabila amarah belum juga mereda posisikan diri dengan berbaring. Ketika kondisi kita sedang di luar rumah apakah tetap berbaring?Jawabannya tentu saja tidak.
Apabila kita sudah di posisi duduk dan masih marah, maka ekspresikan kemarahan tersebut dengan senyum dan kemudian pergi untuk menjauhkan pandangan kita dari orang yang menyebabkan kita marah. Kita bisa pergi untuk mengambil air wudu agar pikiran kita lebih jernih ketika ingin memperbaiki atau menjelaskan keadaan yang salah. Sebagaimana sabda Nabi:
"Sesungguhnya marah itu dari syaitan, dan syaitan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudu.” (Hadis riwayat Ahmad dan Abu Daud)
3. Kritik perilakunya bukan orangnya
Kemarahan cenderung membuat kita membenci orang yang membuat kita marah. Padahal yang salah adalah perilakunya bukan orangnya. Sampaikan kemarahan kita secara baik-baik agar orang yang membuat kita marah dapat mengerti maksud dari ucapan dan kritikan kita terhadap perilakunya.
Ketiga cara diatas juga dapat kita aplikasikan untuk menyampaikan amarah secara elegan ketika bersosial media, seperti aplikasi berkirim pesan. Tujuannya tidak lain adalah untuk menjauhkan diri kita dari rasa bersalah dan penyesalan karena kesalahan kita saat menyampaikan kemarahan.
Baca Juga
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Imlek 2026: Mengenal Tahun Kuda Api dan Filosofinya dalam Budaya Tionghoa
-
Cuma 23 Jutaan! Ini Tablet Gaming Paling Worth It Awal 2026
-
4 Toner Matcha Atasi Jerawat hingga Pori-Pori Besar, Mulai Rp20 Ribuan
-
Lebaran 2026 Makin Spektakuler! Pelangi di Mars Siap Bawa Anak Indonesia Menjelajah Planet Merah
-
Tren Blind Box Disorot, Singapura Rancang Aturan Baru Tekan Risiko Judi
Terkini
-
Awas Angpao Digital Palsu! 3 Cara Kenali Modus 'Phishing' di Momen Imlek
-
Belajar Menghargai yang Sudah Ada di Novel Act of (Zero) Money
-
Fenomena Second Account: Solusi Gen Z Hadapi Tekanan Media Sosial
-
John Herdman 'Blusukan' ke Liga 2, Berencana Orbitkan Pemain Baru?
-
Ketika Menjadi Manusia Terasa Begitu Melelahkan, Review Novel 'Ningen Shikkaku' Osamu Dazai