M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
Gagal Menjadi Manusia karya Osamu Dazai. (Dok.Pribadi/Taufiq)
Taufiq Hidayat

Terbit di Jepang beberapa tahun setelah Perang Dunia II, Gagal Menjadi Manusia (Ningen Shikkaku) bukan sekadar novel. Buku ini dianggap sebagai wasiat terakhir Osamu Dazai yang ditulis dengan gaya semiautobiografi sebelum ia mengakhiri hidupnya. Mengangkat tema kesehatan mental yang sangat gelap, seluruh konflik dalam buku ini berpusat pada pergulatan batin tokoh utamanya, Oba Yozo.

Sinopsis: Paradoks di Balik Topeng Kebahagiaan

Kalimat pembuka buku ini seolah-olah merangkum seluruh nasib tragis yang akan dialami pembaca di lembar-lembar berikutnya. Kita diajak mengikuti perjalanan hidup Oba Yozo, atau "Dik Yo", yang sejak kecil hidup dalam kecukupan materi. Namun, di balik kemudahan hidupnya, Yozo menyimpan perasaan rendah diri yang akut.

Sosok ayah yang dingin dan abai menjadi pemicu utama mengapa Yozo memandang dirinya sebagai sebuah kegagalan. Ia menghabiskan hidupnya dengan memakai "topeng" keceriaan hanya untuk menyenangkan orang lain, sementara di dalam dirinya, ia merasa asing dan tidak berhak menjadi manusia.

Antara Malu dan Hilangnya Batas Moral

Menggunakan sudut pandang orang pertama, Dazai membiarkan pembaca masuk ke dalam pikiran Yozo yang paling intim. Kita diajak melihat alasan di balik setiap tindakannya yang destruktif. Rasa malu dan keterasingan yang dialami Yozo terasa sangat nyata, bahkan mungkin terasa familier bagi sebagian dari kita. Novel ini memaksa kita mempertanyakan kembali batasan antara benar dan salah, yang dalam dunia Yozo sering kali menjadi kabur dan tidak tentu.

Buku ini adalah tipe karya yang "ekstrem"; Anda mungkin akan sangat menyukainya karena merasa dipahami, atau justru sangat membencinya hingga tidak ingin menyentuhnya lagi. Meskipun beberapa bagian menggunakan metafora yang cukup berat, kejujuran Dazai dalam membedah kemunculan pikiran-pikiran buruk manusia adalah sesuatu yang patut diapresiasi, meski mungkin membuat sebagian pembaca merasa tidak nyaman.

Jangan Terlalu Keras pada Diri Sendiri

Salah satu momen paling menarik adalah kontras antara cara orang lain memandang Yozo sebagai sosok yang tulus dan perhatian, dengan cara Yozo menghakimi dirinya sendiri sebagai produk gagal. Ini adalah pengingat keras bagi kita semua untuk tidak terlalu kejam menghakimi diri sendiri. Gagal Menjadi Manusia menunjukkan bahwa setiap tindakan manusia memiliki alasan yang sangat dalam, dan sering kali hanya dirinya sendirilah yang benar-benar memahaminya.

Jika Anda memutuskan untuk membaca buku ini, bersiaplah untuk mengambil napas dalam-dalam. Rasakan setiap emosi yang muncul tanpa perlu menghakimi. Ini bukan sekadar cerita tentang kehancuran, melainkan sebuah pengingat tentang betapa rapuhnya definisi "menjadi manusia" itu sendiri. Jika menyenangkan, sebarkan; jika tidak, beri tahu!

Identitas Buku:

  • Judul: Gagal Menjadi Manusia (Judul asli: Ningen Shikkaku / No Longer Human)
  • Penulis: Osamu Dazai
  • Penerjemah: Asri Pratiwi Wulandari
  • Penerbit: Penerbit Mai (dan juga diterbitkan Basabasi)
  • Tahun Terbit: 1948 (Jepang), 2020 (Indonesia)
  • Tebal Halaman: 156 halaman
  • Genre: Novel Sastra Klasik, Psikologis