Akhir-akhir ini perbincangan mengenai generasi sandwich banyak diperbincangkan di berbagai tempat, terutama di media sosial. Banyak yang bercerita pengalaman dirinya sendiri atau orang lain menjadi generasi sandwich. Banyak yang membagikan keluh kesahnya harus berjuang untuk orang lain bahkan hingga melupakan urusan dan kebahagiaan diri sendiri.
Selain itu, banyak pula orang yang berteori tentang generasi sandwich ini. Mulai dari kenapa bisa terbentuk generasi sandwich, hingga bagaimana seharusnya orang-orang yang menjadi generasi sandwich menjalani hidupnya. Banyaknya perbincangan ini mungkin dikarenakan banyaknya orang yang karena keadaan harus hidup sebagai generasi sandwich.
Supaya tidak bingung, berikut ini adalah beberapa hal yang perlu kita ketahui mengenai generasi sandwich.
Kita tentu tahu makanan sandwich bukan? Dimana isiannya diapit di kedua sisinya, atas dan bawah? Hal inilah yang terjadi pada generasi sandwich. Generasi sandwich adalah generasi yang harus menanggung hidup dua generasi selain dirinya sendiri. Yaitu generasi di atasnya yaitu orang tua, dan generasi do bawahnya yaitu anak atau adik-adiknya.
Hal ini tentu bisa menjadi suatu permasalahan. Terlebih jika beban atau tanggung jawab menanggung hidup generasi lainnya harus dipikul di usia yang seharusnya masih butuh peningkatan diri. Misalnya anak yang baru lulus sekolah harusnya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi namun tidak bisa karena harus bekerja mencari nafkah untuk orang tua dan adiknya.
Tidak jarang, karena menanggung hidup orang tua dan anak atau adik-adiknya, generasi sandwich bahkan tidak bisa mendapat hal-hal yang dia inginkan. Sebagian besar hasil kerja kerasnya digunakan untuk menghidupi keluarganya.
Penyebab Timbulnya Generasi Sandwich
Lalu kenapa bisa timbul generasi sandwich? Faktor utamanya adalah karena orang tua yang tidak mempersiapkan masa tuanya dengan baik. Sehingga ketika sudah masuk usia yang tidak produktif atau tidak dapat bekerja kembali, orang tua tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga menjadi tanggungan anaknya.
Selain itu, bisa juga karena jarak kelahiran antar anak terlalu jauh atau lama. Misalnya anak sulung dengan anak bungsu yang terlalu jauh. Terlebih jika anak bungsu lahir ketika orang tuanya sudah mulai berusia lanjut. Ketika anak sulung sudah bekerja, anak bungsu masih harus sekolah sedangkan orang tuanya sudah tidak bisa mencari nafkah. Maka kebutuhan anak bungsu tersebut seringkali harus ditanggung oleh kakaknya.
Risiko Generasi Sandwich
Seperti yang sudah disebutkan, menjadi generasi sandwich bisa menjadi masalah. Risiko utama yang harus ditanggung oleh generasi sandwich adalah kesulitan untuk mencari kebahagiaannya sendiri di luar keluarga. Hal ini karena dia harus bekerja keras agar bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.
Cara Mencegah Anak Menjadi Generasi Sandwich
Setelah membaca atau mendengar cerita dan keluh kesah orang yang hidup sebagai generasi sandwich, hendaknya kita berusaha untuk mencegah anak kita nantinya menjadi generasi sandwich. Hal ini agar kita tidak menjadi beban bagi anak kita sehingga anak kita bisa mencapai kebahagiaannya dengan lebih mudah.
Untuk mencegah generasi sandwich tentu saja kita harus mempersiapkan masa tua dengan baik. Misalnya dengan menabung dana untuk masa tua. Namun sekadar menabung tidak disarankan karena nilai tabungan kita akan menurun karena inflasi, sehingga lebih dianjurkan untuk berinvestasi. Hasil investasi bisa untuk bekal kita di masa tua.
Selain itu, kita juga bisa mulai membuka usaha sendiri agar tidak harus bekerja kepada perusahaan atau orang lain. Pilih jenis usaha yang bisa kita jalankan meskipun usia sudah tidak produktif, misalnya membuka warung.
Demikian beberapa hal yang perlu kita ketahui mengenai generasi sandwich.
Baca Juga
-
Fenomena Mager di Pertengahan Ramadan, Ini 4 Penyebabnya!
-
5 Langkah Jitu agar Keuangan UMKM Tetap Sehat di Bulan Ramadan
-
5 Tips Ramadan Produktif ala Gen Z : Tetap Aktif Ibadah Maksimal!
-
Mau Tajir Mendadak? Ini 5 Bisnis Ramadan yang Selalu Laris Manis!
-
5 Strategi Keuangan di Bulan Ramadan yang Harus Kamu Kuasai
Artikel Terkait
-
Harga Emas 'Menggila', Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
Mengapa Rezeki Bisa Seret? Ini Penyebabnya dalam Islam
-
8 Cara Cegah Kolesterol Meroket Pasca Lebaran: Jangan Kalap Makan Rendang, Perbanyak Air Putih!
-
Ritual Leluhur Berujung Tragis: Pria Ini Diduga Picu Kebakaran Hutan Terburuk dalam Sejarah Korsel
-
Jangan Sampai Ban Pecah Saat Mudik! Simak Tips Penting Ini
Lifestyle
-
Jadi Ibu Bijak, Ini 5 Tips Kelola Uang THR Anak
-
4 Skincare dengan Cactus Extract, Rahasia Hidrasi Kulit Tanpa Lengket!
-
4 Padu Padan Outfit Girly ala Wonyoung IVE, Cocok untuk Gaya Sehari-hari
-
5 Serum Vitamin C dengan Formula Stabil, Cerahkan Kulit Tanpa Iritasi!
-
4 Tips Kelola THR, Cara Cerdas Supaya Uang Gak Cepat Habis!
Terkini
-
Webtoon My Reason to Die: Kisah Haru Cinta Pertama dengan Alur Tak Terduga
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
3 Tahun Hiatus, Yook Sung Jae Beberkan Alasan Bintangi 'The Haunted Palace'
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
-
Hanya 4 Hari! Film Horor Pabrik Gula Capai 1 Juta Penonton di Bioskop