Ketika terjadi perundungan atau bullying, banyak pihak yang menyalahkan pelakunya. Memang benar, pelaku bersalah. Akan tetapi, kalau diperhatikan lebih dalam lagi, ada kalanya sikap buruk pelaku tersebut disebabkan pola asuhnya yang salah sejak kecil.
Itulah kenapa tugas orangtua memang berat. Salah satunya memastikan agar anak tidak sampai menjadi pribadi yang merugikan orang lain.
Oleh sebab itu, ayah bunda perlu tahu apa saja tanda-tanda anak yang berpotensi menjadi tukang bully agar bisa dicegah. Dengan demikian, tingkat perundungan yang umum terjadi bisa ditekan.
1. Haus dengan pengakuan orang lain
Sangatlah wajar ketika anak mengikut tren atau apa pun yang sedang populer di kalangan teman-temannya. Akan tetapi, ayah bunda mesti waspada bila perilaku buah hati sudah sangat berlebihan. Misalnya, segala hal yang sedang tren wajib dipenuhi atau dibelikan.
Perilaku ini bisa jadi sinyal kalau ia haus dengan pengakuan, dan ini dapat menjadi pendorong terjadinya bullying. Merasa statusnya di atas angin, ia jadi merendahkan orang lain dan menindas pihak yang dianggap lemah olehnya.
2. Benci dengan kesuksesan orang lain
Ciri lain dari perilaku anak yang berpotensi besar jadi tukang bully, adalah benci dengan kesuksesan orang lain. Hal ini bisa diperhatikan dari caranya menyikapi teman yang berhasil meraih prestasi. Kalau si kecil merasa iri, dan menjelek-jelekkan temannya itu, maka ayah bunda perlu meluruskan.
Boleh jadi sikap iri hatinya itu disebabkan perasaan kurang percaya diri akibat tekanan dari orangtua, atau disebabkan sikap ayah bunda yang sering membanding-bandingkan. Dengan memberikan pengertian padanya bahwa sukses dan gagal merupakan bagian dari kehidupan, dan kesuksesan orang lain gak akan pernah mengambil jatah suksesnya, maka si kecil akan merasa aman serta tidak merasa iri lagi.
3. Semua kemauan harus dipenuhi
Tanda lain dari anak yang berpotensi besar jadi tukang bully, adalah semua hal harus dituruti. Ini dapat disebabkan sejak kecil ayah bunda terlalu memanjakan. Dengan demikian, ia merasa kalau dunia miliknya dan mesti patuh padanya.
Pemikiran ini yang kerap jadi penyebab seseorang merundung orang lain. Tidak mendapatkan dari orangtua, akhirnya ia mencari sasaran yang dianggapnya lebih lemah untuk memenuhi keinginannya tersebut.
Semoga uraian tadi bisa jadi bahan pembelajaran bagi para orangtua untuk berhati-hati dalam bersikap. Tanamkan sifat baik sejak kecil agar anak tidak menjadi tukang bully nantinya.
Baca Juga
-
Hottest Merapat! Lee Jun Ho 2PM Umumkan Tur Konser pada Januari 2025 Mendatang
-
Min Hee-jin Mantap Ambil Langkah Hukum Usau Tinggalkan ADOR
-
Sejarah Baru! ATEEZ Jadi K-Pop Artist Ketiga dengan Album No. 1 Billboard
-
Jeongnyeon: The Star Is Born, Puncaki Peringkat Drama Korea dan Aktor Terbaik
-
Nantikan! Ji Seung Hyun dan Jung Hye Sung Siap Menghibur di Film Aksi Komedi Baru
Artikel Terkait
-
3 Penyebab Hidup Jadi Tidak Seimbang, Terlalu Ambisius!
-
3 Momen Paling Berkesan Ketika Kita Kecil, Mana yang Kamu Sukai?
-
Sidang Perceraiannya Masih Berlanjut, Dedi Mulyadi Malah Datangi Seorang Janda 5 Anak, Pengganti Ambu Anne?
-
4 Cara Mencegah Malnutrisi pada Anak, Waspada Stunting Sejak Dini!
-
Ingatkan Jasa Besar Anne Ratna Mustika, Padahal Sebentar Lagi akan Berpisah
Lifestyle
-
5 Body Wash dengan Scrub Halus untuk Perawatan Kulit Bersih Menyeluruh
-
Samsung Galaxy S26 FE Segera Hadir, Bawa Exynos 2500 dan Baterai 4.900 mAh
-
Bye Kulit Berminyak dan Kusam! Ini 4 Pelembap Brightening Berlabel Oil Free
-
itel VistaTab 30 Pro: Tablet Layar 13 Inci dengan Baterai 10.000 mAh dan Bonus Keyboard
-
5 Merek Sepatu Lokal dengan Visual Keren dan Harga Terjangkau
Terkini
-
Ulasan Drama Mother and Mom: Kritik terhadap Obsesi Menjadi Ibu Ideal
-
Review Serial Silo Season 1: Adaptasi Novel Wool yang Penuh Teka-Teki Seru!
-
Dari Maryamah Karpov ke Maryam Mah Kapok Garapan Asma Nadia dkk
-
Ironi di Negeri Tropis: Buah Melimpah, Harga Tak Ramah
-
Review Novel Jejak Langkah: Ketika Pena Menjadi Senjata Perlawanan