Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Pembawa acara Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 (Bidik layar Youtube/MPRGOID)
Fauzah Hs

Dunia penyiaran dan pemandu acara baru saja mendapatkan sebuah pelajaran mahal dari panggung Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Sebuah insiden yang bermula dari ketidakadilan penilaian juri mendadak memanas bukan hanya karena poin yang hilang, melainkan karena cara komunikasi pemandu acara atau MC yang dinilai kurang tepat dalam merespons situasi konflik. Kejadian ini menjadi pengingat bagi siapa pun yang berdiri di atas panggung bahwa mikrofon yang mereka pegang adalah sebuah instrumen kekuasaan yang harus dikelola dengan empati dan netralitas yang tinggi.

Sobat Yoursay, mari kita bayangkan sejenak posisi seorang pembawa acara dalam sebuah lomba cerdas cermat. MC adalah "pemimpin" panggung yang mengatur ritme dan emosi audiens. Namun, dalam kasus di Kalimantan Barat, kita melihat bagaimana sebuah diksi yang salah dapat meruntuhkan kredibilitas acara dalam sekejap.

Ketika peserta dari SMAN 1 Pontianak mencoba melakukan protes secara sopan karena merasa jawaban mereka yang benar justru disalahkan, respons MC yang menyebut protes tersebut sebagai "mungkin hanya perasaan adik-adik saja" adalah sebuah kegagalan komunikasi yang fatal. Kalimat tersebut bukan hanya tidak netral, tetapi juga menunjukkan ketiadaan empati terhadap perjuangan intelektual yang tengah dilakukan oleh para siswa.

Dalam komunikasi profesional, seorang moderator atau MC wajib memiliki kemampuan active listening atau mendengarkan secara aktif tanpa memberikan penghakiman pribadi. Saat konflik muncul, tugas utama pemandu acara adalah memvalidasi perasaan pihak yang berkeberatan tanpa harus memihak.

Kalimat yang lebih tepat seharusnya bersifat administratif dan menenangkan, seperti mengakomodasi keberatan tersebut untuk ditinjau ulang oleh dewan juri berdasarkan aturan yang berlaku. Sobat Yoursay pasti setuju bahwa seorang MC tidak memiliki otoritas untuk menentukan apakah sebuah keberatan itu hanya sekadar "perasaan" atau sebuah fakta teknis.

Dengan mereduksi protes peserta menjadi sekadar masalah emosional, MC tersebut secara tidak langsung telah melakukan gaslighting di ruang publik.

Netralitas adalah harga mati bagi setiap pemandu acara, apalagi yang mewakili lembaga tinggi negara sekelas MPR RI. Seorang MC harus berdiri di tengah, memastikan bahwa semua pihak mendapatkan ruang yang sama untuk didengar.

Ketika juri memberikan penilaian yang kontroversial—seperti memberikan poin minus kepada satu regu namun membenarkan jawaban identik dari regu lain—tugas MC adalah menjaga agar prosedur tetap berjalan sesuai koridor hukum lomba. Sayangnya, dalam insiden ini, MC justru tampak menjadi pelindung bagi keputusan juri yang cacat, yang akhirnya berujung pada penonaktifan dirinya oleh Sekretariat Jenderal MPR RI sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Sobat Yoursay, pelajaran teknis lainnya yang bisa kita ambil adalah pentingnya manajemen krisis di atas panggung. Seorang pemandu acara yang terlatih harus mampu membaca situasi dan mendinginkan suasana saat terjadi ketidakpuasan massal.

Meminta maaf secara langsung atas ketidaknyamanan teknis atau memberikan waktu sejenak bagi juri untuk melakukan verifikasi ulang melalui rekaman video adalah langkah yang jauh lebih elegan daripada melontarkan komentar subjektif. Sikap rendah hati dan pengakuan bahwa sistem mungkin melakukan kesalahan akan jauh lebih dihargai oleh publik daripada sikap defensif yang arogan.

MC yang bersangkutan memang akhirnya meminta maaf melalui media sosial, namun pelajaran ini tetap menjadi catatan hitam tentang bagaimana kata-kata yang tidak dipikirkan secara matang dapat menghancurkan karier seseorang dalam semalam.

Sebagai orang dewasa yang memandu sebuah ajang pendidikan, MC memikul beban moral untuk menunjukkan bagaimana cara berdiskusi dan berdebat secara sehat. Jika sang pemandu acara saja gagal menunjukkan rasa hormat terhadap argumen peserta, maka esensi dari pendidikan karakter dalam lomba Empat Pilar tersebut telah hilang sepenuhnya.

Ke depannya, para penyelenggara acara nasional harus lebih selektif dalam memilih pemandu acara, bukan hanya berdasarkan kelancaran berbicara, tetapi juga kematangan emosional dan pemahaman etika komunikasi.

Sobat Yoursay, kita perlu memahami bahwa mikrofon adalah alat yang sangat kuat; ia bisa digunakan untuk menginspirasi, namun juga bisa digunakan untuk membungkam kebenaran jika berada di tangan yang salah. Penonaktifan MC dan juri dalam kasus LCC Kalbar ini harus menjadi standar baru bagi setiap lembaga untuk tidak menoleransi perilaku yang tidak profesional di atas panggung.

Mari kita jadikan polemik ini sebagai momentum untuk lebih menghargai pentingnya komunikasi yang memanusiakan manusia. Jangan sampai panggung pendidikan yang seharusnya menanamkan nilai-nilai kebangsaan justru menjadi tempat di mana suara-suara jujur dibungkam dengan kalimat-kalimat yang menyinggung perasaan.

Sobat Yoursay, semoga ke depannya, tidak ada lagi panggung cerdas cermat yang dinodai oleh kegagalan komunikasi, sehingga semangat belajar anak bangsa tetap terjaga dalam bingkai keadilan yang sesungguhnya.