Orang-orang sering mengira laki-laki dewasa di era sekarang adalah ‘manusia’ yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Penampilannya rapi, pikirannya terbuka, cara bicaranya tenang, dan unggahan media sosialnya dapat dipertanggungjawabkan. Mereka terlihat generasi lebih matang dan berwawasan luas dibanding laki-laki masa lalu.
Namun, semakin ke sini, banyak yang ternyata hanya pandai membangun citra sophisticated di permukaan, sementara emosinya sendiri masih berantakan di dalam kepala. Keresahan itulah yang begitu kuat disampaikan dalam Film The Square, satire buatan Ruben Ostlund yang kembali tayang di Indonesia (bioskop tertentu) sejak 16 Mei 2026.
Film peraih Palme d'Or Festival Cannes 2017 ini memang lebih sering dibicarakan sebagai kritik terhadap dunia seni modern dan kemunafikan kelas elit. Namun buatku, ada sisi lain yang jauh lebih menarik sekaligus getir, yakni bagaimana film ini membedah laki-laki modern yang terlihat pintar dan progresif, tapi sebenarnya rapuh ketika berhadapan dengan kedekatan emosional.
Mendalami Pencitraan dan Krisis Emosional dalam Film The Square
Tokoh utamanya bernama Christian, diperankan oleh Claes Bang. Dia adalah kurator museum seni kontemporer bergengsi di Stockholm yang sedang menyiapkan pameran instalasi berjudul The Square. Instalasi tersebut dipromosikan sebagai ruang simbolis tentang kepercayaan, empati, dan tanggung jawab sosial antar manusia. Secara teori, semuanya terdengar mulia. Christian pun tampak representasi sempurna pria urban modern: sukses, elegan, tenang, peduli isu sosial, dan terlihat sangat intelektual.
Kehidupan Christian mulai kacau setelah dia menjadi korban pencopetan di jalan. Peristiwa itu terlihat biasa, tapi efeknya bak membuka sisi dirinya yang selama ini tersembunyi. Christian yang biasanya tenang mendadak impulsif, paranoid, dan haus kontrol. Bersama asistennya, dia melacak lokasi ponsel yang hilang lalu menyebarkan surat ancaman anonim ke satu kompleks apartemen demi mendapatkan barangnya kembali.
Di titik itu, film mulai terasa sangat sinis. ‘Pria’ yang setiap hari berbicara soal empati dan nilai kemanusiaan ternyata dengan mudah meneror orang lain demi kepentingan pribadinya sendiri. Christian tetap ingin terlihat sebagai manusia baik, tapi tindakannya memperlihatkan ego yang rapuh pun sebaliknya.
Semua menjadi semakin menarik ketika film mempertemukannya dengan Anne, jurnalis yang diperankan Elisabeth Moss. Hubungan mereka sebenarnya nggak rumit. Dua orang dewasa saling tertarik, menghabiskan malam bersama, lalu bangun keesokan paginya. Namun dari situ, Sutradara Ruben Ostlund menciptakan salah satu adegan paling awkward sekaligus kece dalam film. Yup, perdebatan soal kondom bekas.
Kedengarannya memang absurd. Bahkan mungkin receh. Justru lewat hal kecil seperti itulah Film The Square terlihat cerdasnya lho. Adegan itu perlahan berubah menjadi perang ego yang dingin dan canggung. Christian terlihat defensif, gelisah, dan nggak nyaman ketika Anne meminta kondom itu. Situasinya menjadi aneh karena dua orang yang tampak cerdas dan dewasa ternyata sama-sama gagal membangun komunikasi emosional yang sehat.
Aku suka bagaimana film ini nggak pernah membuat Christian terlihat seperti pria jahat dalam bentuk klasik. Iya, dia bukan sosok kasar atau agresif kayak stereotip toxic masculinity pada umumnya. Christian jauh lebih realistis dari itu. Dia sopan, pintar, dan terlihat aman. Namun, di balik semua citra masa kininya, dia sebenarnya takut kehilangan kontrol dan kesulitan menghadapi kerentanan emosional.
Di situlah The Square terasa relevan banget dengan kehidupan sekarang. Oh, jelas! Banyak laki-laki modern hari ini tumbuh dengan tekanan untuk selalu terlihat mapan. Mereka harus terlihat cerdas, dewasa, tenang, open minded, dan sukses. Media sosial memperparah semuanya. Orang berlomba-lomba membangun persona paling sophisticated, paling aware terhadap isu sosial, paling emosional mature. Padahal kenyataannya, banyak yang bahkan belum benar-benar memahami dirinya sendiri.
Christian tentu adalah gambar dari generasi pria yang terlalu sibuk membangun image sampai lupa cara menghadapi emosi secara jujur. Dirinya bisa berbicara tentang seni dan kemanusiaan di depan banyak orang, tapi kesulitan menjalani percakapan intim. Dia terlihat progresif, tapi tetap ingin dominan dalam situasi kecil. Bahkan ketika berada dalam hubungan personal, dia masih sibuk menjaga citra dirinya sendiri.
Sutradara Ruben Ostlund beneran tajam dalam memperlihatkan kontradiksi itu. Semua dibungkus lewat humor gelap dan kadang bikin penonton malu sendiri. Kita tertawa melihat tingkah Christian, tapi beberapa detik kemudian sadar perilaku tersebut terasa dekat dengan realita sehari-hari.
Sekian impresi dariku selepas nonton Film The Square. Sobat Yoursay sudah nonton? Gimana pendapatmu tentang film ini? Share, yuk!
Baca Juga
-
The Kings Warden dan Luka Pemimpin yang Disingkirkan
-
Film Swapped dan Cara Unik Mengajarkan Empati Lewat Pertukaran Tubuh
-
Man on Fire, Series yang Sibuk Jadi Thriller Politik Sampai Lupa Rasa
-
Noah Kahan: Out of Body, Bukan Soal Tenar, tapi Tentang Bertahan Setelahnya
-
Dalam Film Tumbal Proyek, Nyawa Buruh Lebih Murah dari Beton
Artikel Terkait
-
Viral Nobar Film Pesta Babi Digelar di Masjid, Ratusan Anak Muda Datang Menonton
-
10 Film Dokumenter yang Tayang di Netflix Mei 2026, Didominasi Kisah Sepak Bola dan Olahraga
-
Siap Mengocok Perut, Oh Jung Se Tampil Nyentrik di Film 'Wild Sing'
-
Film Witch on the Holy Night Ungkap Visual Karakter dan Pengisi Suara Utama
-
Young Sheldon: Kisah Anak Jenius yang Sulit Dipahami, tapi Sulit Dibenci
Ulasan
-
Review Serial My Royal Nemesis: Suguhkan Intrik Selir dengan Twist Modern
-
Idgitaf dan Hindia Rilis Masih Ada Cahaya, Bawa Pesan untuk Tetap Melangkah
-
Manajemen Hati Agar Tak Mudah Iri: Pelajaran di Buku Hujan Duit Dari Langit
-
Wande: Tempat Jadul Bertukar Informasi yang Kian Ditelan Kemajuan Zaman
-
Review A Sad And Beautiful World: Romansa Drama di Beirut yang Menggugah
Terkini
-
Performa Kian Gacor, Dean Zandbergen Disetarakan dengan Cristian Gonzales?
-
10 Film Horor Terbaru dengan Skor Tertinggi Versi Rotten Tomatoes
-
Generasi Peduli Iklim, Komunitas yang Ubah Keresahan Jadi Aksi Nyata
-
Sandiaga Uno Resmi Jadi Kakek, Atheera Uno Melahirkan Anak Pertamanya
-
Ironi Literasi di Indonesia: Buku Masih Terlalu Mahal bagi Banyak Orang