Sensation seeking dapat diartikan sebagai seseorang yang senang melakukan aktivitas di luar rumah yang penuh dengan tantangan, pengalaman baru, serta berbagai kegiatan lain yang mampu merangsang sensasi. Beberapa contoh kegiatan yang digemari para sensation seeking misalnya berpetualang, memanjat tebing, bermain wahana ekstrem, serta berbagai kegiatan sejenis lainnya.
Berdasarkan unggahan dari akun Instagram @studiodjiwa, sensation seeker atau orang yang melakukan sensation seeking memiliki banyak tipe. Berikut ini adalah beberapa tipe sensation seeker berdasarkan pembagian oleh marvin Zuckerman pada tahun 1964.
1. Thrill and adventure seeking
Tipe pertama adalah thrill and adventure seeking atau orang-orang yang senang melakukan berbagai kegiatan yang memicu adrenalin seperti bermain roller coaster, terjun payung, panjat tebing, naik parasut, bungee jumping, serta berbagai aktivitas yang memicu adrenalin lainnya.
Mereka cenderung senang merasakan sensasi ketika berputar, berada di ketinggian, atau menikmati setiap momen saat tubuh mereka berada di udara.
BACA JUGA: 4 Tantangan Menuju Kedewasaan, Kamu Siap Menghadapinya?
2. Experience seeking
Tipe kedua adalah experience seeking. Tipe ini menyukai pengalaman yang menyenangkan melalui pikiran seperti seni, teater, musik, serta film.
Tipe ini akan berusaha menantang dirinya dengan menonton film horror atau thriller yang dapat memicu adrenalin. Mereka suka dengan film horror karena membuat mereka merasa lebih hidup!
BACA JUGA: 5 Rekomendasi Kerjaan Sampingan untuk Karyawan, Bisa Nambah Penghasilan!
3. Disinhibition
Tipe ketiga adalah disinhibition. Tipe ketiga ini adalah tipe yang cenderung bertindak atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan konsekuensi.
Mereka senang dengan berbagai aktivitas yang menantang, tetapi kurang memperhatikan keselamatan serta antisipasi terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Tipe ini harus bisa membiasakan diri untuk memperhatikan keselamatan diri sendiri.
BACA JUGA: 5 Tantangan Ketika Berbaur dengan Lingkungan Baru, Harus Menjaga Diri!
4. Resistence to boredom
Tipe keempat adalah resisten to boredom. Tipe ini terdiri dari orang-orang yang menghindari pekerjaan atau kegiatan yang sangat monton, repetitif, atau membosankan. Mereka tidak suka dengan kegiatan yang itu-itu saja, mereka lebih senang mencari hal-hal baru yang serba belum pasti.
Mereka sangat anti terhadap jadwal yang teratur, kegiatan yang terus berulang setiap harinya, serta berbagai hal yang mereka anggap membosankan.
Itulah empat tipe sensation seeker yang harus kamu ketahui. Apakah kamu termasuk salah satu sensation seeker?
Baca Juga
-
Tak Hanya Menyembuhkan, 5 Dokter ini juga Bagikan Inspirasi Lewat Tulisan
-
Menguak Andil Manusia, Benarkah Kepunahan Keenam akan Segera Tiba?
-
Dikenal sebagai Perpustakaan Berjalan, 5 Rekomendasi Buku dari Gawon MEOVV!
-
Rilis MV Single Original Ayo Senyumlah, JKT48 Tonjolkan Budaya Indonesia
-
Ulasan Panggung untuk Palestina: Novel Anak yang Ajari Peduli dan Empati
Artikel Terkait
-
Tes Psikologi: Apakah Kehidupan Anda Tidak Bergerak Maju? Ketahui Penyebabnya Melalui Gambar Berikut
-
Menaker Bicara Soal Ketenagakerjaan di Indonesia, Ini Tantangan dan Peluangnya di Masa Depan
-
Tes Psikologi: Ingin Tahu Bagaimana Anda Bisa Hidup Bahagia? Pilih Satu Kartu dan Ketahui Jawabannya
-
4 Perbedaan Fixed Mindset vs Growth Mindset, yuk Kenali dengan Baik!
-
Perkembangan Big Data di Indonesia Cukup Pesat, Refocus Jabarkan Peluang dan Tantangan di Masa Depan
Lifestyle
-
Proteksi Double! 4 Sunscreen Lokal PDRN Ini Bikin Wajah Awet Muda dan Sehat
-
Lebih Higienis! 4 Pelembap Korea Kemasan Tube Buat Perkuat Skin Barrier
-
5 Alasan Tak Terduga Kenapa Tanganmu Gatal Ingin Terus Buka HP
-
Anti-Kusam! Ini 5 Rekomendasi Skin Tint Lokal yang Bebas Oksidasi
-
Kurang Bersyukur Tidak Menjadi Jawaban atas Persoalan Kesehatan Mental
Terkini
-
Merayakan Rindu dan Kegelisahan lewat Puisi di Buku Kidung Para Pencari
-
Sukses Gelar Konser Solo di Seoul, Onew SHINee Umumkan Comeback Album Baru
-
Mary and The Witch's Flower: Kita Tak Butuh Sihir untuk Menjadi Istimewa
-
Ramai saat Demo, Sunyi setelahnya: Mengapa Gerakan Rakyat Terjebak Musiman?
-
Aksi Boikot Raffi Ahmad: Menyoal Efektivitas Cancel Culture di Media Sosial