Istilah gaya hidup minimalis merujuk pada tata cara seseorang dalam menjalani kehidupan yang sederhana serta meminimalisir pembelian barang pribadi atau rumah tangga.
Saat ini telah banyak orang yang menerapkan gaya hidup minimalis karena memiliki manfaat bagi finansial, salah satunya menghemat pengeluaran dan mendapatkan kesempatan untuk menabung dalam jumlah besar.
Selain dari sisi finansial, ternyata gaya hidup minimalis ini juga berperan dalam menjaga kesehatan mental. Penasaran? Mari kita simak bersama pembahasannya berikut ini.
1. Mencegah Stres dan Perasaan Bersalah
Memiliki terlalu banyak barang di rumah bisa menimbulkan stres dan perasaan bersalah. Terlebih jika barang-barang tersebut tidak terlalu memiliki manfaat yang berarti dan hanya menumpuk memenuhi ruangan.
Sebalinya, jika barang-barang yang kita miliki hanya sedikit tetapi semuanya memang bermanfaat untuk kita gunakan sehari-hari, maka pikiran kita akan menjadi lebih tenang, seperti yang dikutip dari laman Psychology Today.
2. Fokus Kepada Diri Sendiri
Rasa iri dan insecure saat orang lain membeli barang-barang berharga yang nilainya jauh melebihi dari apa yang kita miliki menjadi faktor utama seseorang terjebak pada hidup boros yang pada akhirnya akan membuat mereka terlilit hutang.
Oleh sebab itu kita perlu menerapkan gaya hidup minimalis yang akan membuat seseorang fokus terhadap dirinya sendiri tanpa harus membandingkannya dengan orang lain.
3. Memiliki Emosi yang Positif
Gaya hidup minimalis dapat menjaga emosi yang kita miliki. Melansir dari Well Insiders, Ketika pikiran kita terfokus untuk membeli barang-barang mewah yang tidak terlalu bermanfaat, maka stres akan meningkat dan menimbulkan gejolak emosi karena kita memaksakan diri untuk mendapatkan keinginan tersebut.
Sebaliknya dengan menerapkan gaya hidup minimalis, emosi yang kita rasakan akan lebih positif dengan meningkatnya perasaan bahagia dan kepuasan dari dalam diri.
4. Menghindari Overthinking
Terlalu banyak memiliki barang-barang dirumah akan membuat seseorang overthingking akibat rasa takut akan kehilangan barang secara berlebihan, ataupun takut saat ada orang yang ingin meminjam barang pribadi tersebut.
Tentu hal ini berbanding terbalik saat kita menjalani gaya hidup minimalis. Kita tahu persis apa saja barang yang memang benar-benar dibutuhkan dan memiliki manfaat yang maksimal. Sehingga rasa takut akan kehilangan barang tersebut menjadi berkurang karena kita tahu dimana tempat menyimpan barang itu dan memiliki alasan logis untuk menolak orang lain yang ingin meminjam barang pribadi tersebut.
Itulah tadi empat manfaat menerapkan gaya hidup minimalis bagi kesehatan mental. Semoga bermanfaat!
Video yang Mungkin Anda Suka.
Baca Juga
-
6 Penyebab Penis Berdarah yang Perlu Anda Waspadai, Pernah Mengalaminya?
-
6 Penyebab Mata Kaki Bengkak, Mulai dari Cedera hingga Penyakit Ginjal
-
Catat! Ini 4 Posisi Tidur yang Dianjurkan bagi Ibu Hamil
-
Jangan Anggap Remeh, Ini 5 Dampak Negatif Telat Makan bagi Kesehatan
-
5 Manfaat dan Aturan Penggunaan Minyak Ikan untuk Kucing
Artikel Terkait
-
4 OOTD Minimalis ala Wooyoung ATEEZ yang Tetap Modis untuk Disontek!
-
7 Manfaat Kesehatan Mengejutkan dari Membaca Buku Setiap Hari
-
5 Teknik Psikoterapi untuk Menangani Gangguan Mental, Ciptakan Coping Mechanism Sehat
-
Gus Ipul Salat Ied di Sentra Kemensos, Beri Semangat untuk Penerima Manfaat
-
Sehat dan Bugar dengan Lari: Gaya Hidup Aktif Perempuan Masa Kini
Lifestyle
-
Elegan dan Manis! 4 Inspirasi Outfit Feminin ala Minnie (G)I-DLE
-
4 OOTD Minimalis ala Wooyoung ATEEZ yang Tetap Modis untuk Disontek!
-
Jadi Ibu Bijak, Ini 5 Tips Kelola Uang THR Anak
-
4 Skincare dengan Cactus Extract, Rahasia Hidrasi Kulit Tanpa Lengket!
-
4 Padu Padan Outfit Girly ala Wonyoung IVE, Cocok untuk Gaya Sehari-hari
Terkini
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Menelaah Film Forrest Gump': Menyentuh atau Cuma Manipulatif?
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?