Gak semua orang akan mau membuka diri ketika menghadapi masalah dengan mencari solusi lewat saran yang diberikan orang lain.
Ada kalanya orang justru bersikap defensif dan memilih memendam masalahnya sendirian dengan berbagai macam alasan.
Namun, ada hal-hal yang akan tetap menyita pikiran saat seseorang memilih untuk terus memendam masalah sendirian.
Berikut lima hal yang sangat mungkin melatarbelakangi keputusan untuk memendam masalah sendirian saja. Kamu begitu juga, gak?
Baca Juga : 5 Luka Batin Ini Berpotensi Terbawa hingga Dewasa, Jangan Remehkan!
1. Masalah adalah privasi yang pantang diceritakan pada orang lain
Keputusan untuk tetap memendam masalah sendirian seringkali didasarkan pada anggapan bahwa ada batasan privasi yang tidak boleh dilanggar oleh orang lain yang tidak berkepentingan secara langsung. Baginya, masalah adalah aib yang pantang diketahui orang dan wajib ditutup sangat rapat.
Bahkan saat beban terasa makin berat, keinginan untuk berbagi cerita selalu ditepis karena merasa sikap tersebut sebagai bentuk perilaku mengumbar aib. Ujungnya, seberat apa pun beban yang dirasakan, memendam masalah yang tengah dialami tetap jadi bagian dari komitmen sampai kapan pun.
2. Merasa lebih baik membiasakan diri dengan kalimat “aku baik-baik saja”
Adanya prinsip batasan privasi tadi pada akhirnya membuat seseorang harus terus menutupi kegelisahan yang dirasakan.
Di saat harus menahan beban pikiran dan perasaan, mencari solusi sambil menampilkan kondisi baik-baik saja terus saja dilakukan. Meski orang lain bertanya, kalimat “aku gak apa-apa” atau “aku baik-baik aja, kok” akan selalu jadi jawaban.
Terbiasa dengan kalimat seperti ini akan mendorong seseorang untuk menahan diri berbagi keluh kesahnya dan akan terus memendam masalah sendirian.
Baginya, jangan sampai orang melihat sisi dirinya yang terpuruk ketika sedang berjuang setengah mati menghadapi masalah hidup yang sebenarnya sangat berat dilalui tanpa pendampingan.
Baca Juga: 6 Tips agar Tidur Lebih Nyenyak, Kurangi Penggunaan Barang Elektronik
3. Segan dan takut menyusahkan orang lain kalau berbagi masalah
Rasa nyaman memendam masalah sendirian juga gak lepas dari rasa segan dan takut akan merepotkan atau menyusahkan orang lain andai berbagi cerita sampai meminta saran sebagai solusi permasalahannya.
Menutup-nutupi masalah yang tengah dihadapi pun lantas dianggap sebagai solusi terbaik, termasuk pada orang dekat.
Orang terdekat seolah dijaga agar tidak perlu ikut kepikiran kalau gak tahu apa-apa tentang masalahnya.
Perlahan rasa segan dan takut tadi menjelma jadi tembok kokoh yang membentengi pikiran bahwa semua masalah memang harus dihadapi sendiri dan gak boleh sampai menyusahkan orang lain yang pasti juga punya masalah hidupnya sendiri.
4. Takut masalah tambah runyam kalau ada yang ikut campur
Terkadang keinginan memendam masalah sendiri saja juga muncul karena rasa takut kalau malah bakal jadi runyam andai diceritakan pada orang lain.
Sebab, seringkali saat orang lain sudah ikut campur, bukan solusi yang didapat tapi malah masalah jadi makin pelik. Mindset semacam ini kemudian mengantarkan pada keputusan jika lebih baik memendam semua sendirian.
Bisa jadi juga memang ada pengalaman serupa hingga seseorang jadi kapok untuk terbuka lagi pada orang lain.
Meski tahu hal tersebut terjadi karena sudah bercerita dengan orang yang salah, tapi pengalaman buruk tadi membuatnya jadi lebih waspada dan sebisa mungkin membatasi atau bahkan menghindari momen bercerita pada orang lain lagi.
Baca Juga: 5 Ide Side Hustle di Tahun 2023, Layak Dicoba untuk Menambah Penghasilan!
5. Memendam masalah sendiri dirasa jauh lebih nyaman
Pada akhirnya, lahirlah kesimpulan bahwa memendam masalah sendirian dianggap jauh lebih melegakan dan memberi kenyamanan karena bisa terhindar dari sederet dampak negatif.
Dengan menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapi juga memberi kuasa penuh pada diri sendiri atas semua keputusan yang diambil.
Pertimbangan lebih banyak manfaat inilah yang membuat seseorang semakin yakin untuk terus memendam masalahnya sendirian dan tidak melibatkan orang lain.
Bahkan jika keputusan yang diambil salah sekalipun, tetap ada ketenangan batin karena sejak awal sudah tahu risiko yang akan dihadapi selanjutnya.
Ada kalanya memendam masalah sendirian memang bisa berdampak positif. Akan tetapi, gak selamanya kita bisa menahan beban sendirian dan suatu saat pasti akan butuh bantuan, minimal dukungan moril dari orang terdekat.
Selama mampu dihadapi sendiri, ya selesaikan. Namun, jika memang terasa berat, gak masalah, kok untuk sekadar berbagi demi meringankan beban yang sedang dirasakan.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Tumbler, Tote Bag, dan Realita: Apakah Gen Z Benar-benar Peduli Lingkungan?
-
Zero Waste dan Tekanan Sosial: Saat Peduli Lingkungan Jadi Ajang Kompetisi
-
Harga Naik, Gaya Hidup Jalan Terus: Paylater Jadi Jalan Pintas?
-
Keinginan Instan di Era Serba Cepat: Mengapa Paylater Begitu Menggoda?
-
Mudah Dipakai, Sulit Dilepaskan: Ketergantungan Paylater di Era Digital
Artikel Terkait
-
Nikita Mirzani Resmi Dibebaskan, Kuasa Hukum Beri Hormat pada Majelis Hakim: Ditto Telah Melecehkan Lembaga Peradilan
-
Erina Gudono Bongkar Alasan Sering Tersenyum Saat Pelaminan: Nahan Ketawa Lihat Ulah Kaesang dan Nahyan
-
Bharada E Sapa Para Pendukungnya di dalam Ruang Sidang, Auto Jerit Histeris!
-
5 Alasan yang Membuat Orang Kesulitan untuk Beristirahat, Dianggap Malas
-
Cinta Laura Blak-blakan soal Alasan Belum Menikah Jelang Usia 30an: Tuhan Memang Adil!
Lifestyle
-
Masih Salah Pilih Face Wash? Cek 5 Jenis yang Sesuai dengan Kulitmu
-
Clean dan Modis, 4 OOTD Chic ala Jung Chae Yeon I.O.I yang Wajib Dicoba!
-
6 Parfum Floral Notes untuk Daily Office Look: Wanginya Feminin dan Elegan!
-
5 Gel Mask Korea dengan Kolagen untuk Menjaga Kulit Tetap Lembap dan Plumpy
-
5 Pilihan Bedak Remaja dengan Perlindungan UV, Bebas Aktivitas Seharian!
Terkini
-
Soul Plate: Ketika Member Astro Berubah Jadi Malaikat Restoran, Efektifkah Promosinya?
-
Kisah Tragedi Berdarah di Apartemen Virgil dalam film, They Will Kill You
-
Pertemanan Tanaman Plastik: Tampak Hidup di Story, Mati di Kehidupan Nyata
-
Manga Horor Junji Ito, The Long Hair in the Attic Siap Diangkat Jadi Film Live Action
-
Connect Community: Bergerak dari Kampus, Berdampak bagi Remaja Desa