Ku kira akan ada kita yang terukir, ternyata aku hanya satu dari ribuan bab yang kau tulis dalam dongeng palsu berjudul “Fana”.
***
Pernah datang masa di mana aku berhenti berharap pada cinta. Luka yang pernah begitu nyata dan menganga saat itu terasa menusuk di sela-sela dingin malam yang menggoda. Ku kira tak akan pernah ada kita dalam cerita hidupku, hingga satu hari kau mengetuk pintu yang seharusnya kokoh tanpa celah.
“Selamat pagi, Mbak Tika. Gimana kabar hari ini? Pasti cerah, dong karna ada aku yang rajin menyapamu sepagi ini,” ucap lelaki muda yang baru menginjak usia 25 tahun itu padaku.
“Pagi, Dhani. Baiknya kau buang saja kelakuan kadalmu itu. Nggak bakal mempan sama aku,” balasku lembut sambil melempar senyum ketus.
“Ih, Mbak Tika mah gitu, digombalin langsung dimentahin lagi. Kan aku jadi hilang semangat jadinya, Mbak tuh semangat pagiku yang selalu bisa bikin mood cerah sampai sore lho,” sergapnya lagi memelas.
Ku abaikan rayuan manisnya itu dan berlalu ke ruang kerjaku. Mendengar Dhani merayu bukan pengalaman istimewa buatku karena dia memang selalu begitu, bahkan pada semua perempuan di kantor ini, apalagi yang masih muda.
Tentu saja aku yang lebih tua 5 tahun darinya ini nggak lagi mudah terjerat kalimat semu setengah bercanda itu. Ku anggap angin lalu atau sekadar gurauan penghangat suasana kantor yang terkadang kaku saat beban kerja mulai menumpuk di akhir bulan.
Tapi, sayangnya anggapanku mulai goyah. Dhani berubah jadi sosok berbeda setelah momen lembur tutup buku. Menjalani pekerjaan di departemen Accounting memang nggak pernah mudah buatku sampai aku protes ke HRD meminta tambahan tenaga untuk jadi bawahanku.
Dhani ditunjuk untuk membantuku, dan akhir bulan lalu jadi momen lembur perdana kami sebagai rekan kerja semalam suntuk. Tidak ada apa-apa yang terjadi, sungguh. Kami benar-benar hanya bekerja dan berkutat dengan angka-angka sialan itu, awalnya.
Sampai satu waktu ponsel Dhani berdering cukup lama, tapi pemiliknya malah acuh seolah enggan berbicara. Baru kali ini aku melihat wajah konyol Dhani begitu serius dan dingin. Aku pun terdiam, menunduk, dan kembali menatap layar monitorku.
Bukan aku tak peduli, tapi aura Dhani seolah memintaku menjauh atau setidaknya diam tanpa pertanyaan apa pun. Aku benci terjebak dalam situasi kaku ini, lalu ku putuskan bangkit dari meja kerjaku dan pergi ke pantry untuk membuat kopi.
“Lho Mbak Tika mau ke mana? Kok aku ditinggal sendiri sih, nggak takut tiba-tiba aku dicolong makhluk tak kasat mata terus Mbak jadi kangen?” celoteh Dhani khas ala palyboy cap kadal tiba-tiba mengagetkanku.
“Bodo amat, sana pergi aja sama setan. Tuh telepon bunyi lagi, siapa tahu itu setannya yang mau jemput kamu,” candaku pada Dhani tapi sayang tak bersambut dengan tawa seperti biasanya.
“Eh, sorry Dhan, bercanda gue. Jangan pasang muka serem gitu lah. Gue cuma mau ke pantry kok bikin kopi, kamu mau?” tanyaku mencoba mencairkan situasi kaku ini.
Dhani bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mendekat padaku, sangat dekat sampai tanpa sadar aku mulai mundur tapi ada jalan lagi. ‘Tembok sialan’ batinku menyadari situasi di mana aku terjepit antara tembok dan Dhani.
“Mbak, kamu cantik. Aku suka,” ucap Dhani tiba-tiba dan sukses bikin dadaku berdegup.
Aku terdiam, tak mampu membalas kata-katanya. Bahkan menatap wajahnya pun aku tak mampu. Matanya terlalu tajam dan menusuk sampai aku jadi salah tingkah dibuatnya.
Dia tiba-tiba melempar senyum lembut, lalu menyentuh daguku sangat lembut. Aku ingin menolak, berpaling, dan keluar dari ruangan sunyi ini. Tapi tubuhku berkhianat, memilih diam dan mengikuti arahan Dhani.
Saat bibir kamu hampir bersentuhan, Dhani menghentikan pergerakannya. Dia tersenyum tipis lalu memilih merapikan helai rambutku yang sebenarnya sama sekali nggak berantakan.
Kesempatan ini ku pakai buat kabur dari Dhani. Aku meninggalkan ruanganku setengah berlari karena gugup dan membiarkan Dhani mematung di depan pintu menatapku kosong.
‘Sialan, hampir saja' batinku.
***
Sejak kejadian itu, aku tak mampu menatap Dhani seperti biasa. Lelaki muda kurang ajar itu membuatku kebingungan setengah mati. Aku benci berada dalam situasi ini. Aku pun memilih menghindar darinya.
Buatku getaran, degup aneh di dada, dan rona panas di pipi tak pernah ingin ku rasakan lagi. Dhani benar-benar sialan. Lebih sialannya lagi, aku yang kacau dan sedang mencoba menata hati ini malah langsung ditampar kenyataan.
Di sudut tangga siang itu, ku lihat Dhani memagut bibir ranum Raya, si anak magang, sangat dalam dan menggebu. Benar-benar sialan, playboy cap kadal. Hampir saja ku kira akan ada kita yang terukir.
Ternyata aku hanya target cadangan yang masuk daftar permainan cinta palsumu. Dongeng fana yang kau tulis masuk ke bab berbeda untuk setiap perempuan yang kau beri rayuan. Aku hanya salah satunya, hampir jadi pemeran dalam dongengmu.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
5 Inspirasi Gaya Girly nan Elegan ala Youngseo ADP, Pancarkan Aura Mahal!
-
Buku Sehat Setengah Hati, Cara Mudah Memperbaiki Pola Hidup
-
Film Jay Kelly: Sebuah Drama Komedi yang Hangat dan Mendalam
-
Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Justru Melestarikan Ketimpangan
-
Usai Scarlett Johansson Mundur, Kathryn Hahn Dilirik Perankan Mother Gothel