Psikologi berpandangan bahwa setiap manusia dianggap unik. Pasalnya setiap manusia terlahir dengan kepribadian yang berbeda-beda antar individu. Hal ini dijelaskan Pervin (2005) yang menyebutkan bahwa kepribadian adalah karakteristik yang menetap dalam diri seseorang dan dapat menggambarkan perilaku individu untuk digunakan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Salah satu teori kepribadian yang mengaitkan dengan karier yaitu teori kepribadian lima faktor atau disebut juga dengan The Big Five Personality dikembangkan oleh McCrae. McCrae menjelaskan dalam tulisannya yang berjudul 'Social Consequences of Experiential Openness' menjabarkan lima faktor kepribadian sebagai representasi dari struktur trait yang menjadi dimensi utama dari kepribadian seseorang.
BACA JUGA: 3 Tanda Bahwa Kita Telah Dewasa dalam Pemikiran, Usia Bukan Patokan!
1. Neuroticism
Faktor kepribadian yang pertama yaitu neuroticism. Feist dan Feist (2018) menjelaskan bahwa individu yang memiliki skor tinggi pada faktor neuroticism cenderung mudah cemas dalam menghadapi sebuah tekanan, selain itu terdapat indikasi emosional dan mudah rapuh ketika mengalami stres. Sebaliknya, bagi individu yang memiliki skor rendah cenderung tenang dalam menghadapi segala situasi.
2. Extroversion
Faktor kedua ini dihubungkan dengan hubungan sosialnya dengan orang lain. Robbins dan Judge dalam bukunya organizational behavior menyebutkan bahwa seseorang dengan kepribadian ekstrovert cenderung suka berteman, cukup tegas dalam bertindak dan ramah sedangkan introvert cenderung pendiam, pemalu dan tenang. Faktor kedua ini cukup populer di kalangan masyarakat dan bahkan menobatkan dirinya sebagai orang yang ekstrovert maupun introvet.
BACA JUGA: 3 Manfaat Memiliki Support System dalam Hidup, Bisa Tingkatkan Motivasi!
3. Conscientiousness
Pada umumnya orang yang memiliki skor tinggi pada faktor conscientiousness merupakan individu yang pekerja keras, tepat waktu dan tekun dalam mengerjakan tugas serta tanggung jawabnya. Sebaliknya, pribadi yang rendah skor cenderung tidak terorganisasikan, cenderung malas, ceroboh dan tidak berarah-tujuan serta cukup mudah menyerah jika dihadapkan dengan situasi yang sulit (Feist dan Feist, 2008).
4. Agreeableness
Faktor keempat ini berhubungan dengan kepatuhan seseorang kepada orang lain. Orang dengan tingkat agreeableness yang tinggi merupakan individu dengan kecenderungan bersikap kooperatif, hangat dalam menjalin hubungan, serta memiliki kepercayaan atau mudah percaya kepada orang lain. Selanjutnya diindikasi sebagai individu yang murah hati, suka meringankan beban orang lain, mudah menerima dan baik hati.
Di sisi lain, seseorang yang mendapat skor rendah pada faktor agreeableness merupakan individu yang memiliki kecenderungan antagonistik penuh kecurigaan dalam berhubungan dengan orang lain, kurang ramah, mudah kesal jika suatu keadaan tidak sesuai dengan yang diharapkannya dan mudah mengkritik orang lain (Robbins dan Judge, 2015).
BACA JUGA: Jangan Panik! Ini 5 Tips agar Tidak Canggung Saat Bertemu Mantan
5. Openness to Experience
Faktor yang terakhir yaitu berkaitan dengan upaya individu dalam mencari pengalaman hidupnya. Heller (2002) menyebutkan bahwa openness to experience berkaitan dengan kreativitas dan artistik. Individu dengan karakteristik skor openness to experience yang tinggi cenderung kreatif, mampu berimajinasi, penuh rasa penasaran, terbuka dalam perubahan serta memiliki pandangan luas. Sedangkan individu dengan skor rendah cenderung konvensional, rendah hati, serta tidak terlalu penasaran terhadap sesuatu.
Jadi, wajar jika sebuah perusahan melakukan tes kepribadian untuk memastikan ketepatan kandidat yang dipilih, sehingga pelaksanaan psikotes yang dilakukan pada tahapan seleksi merupakan langkah untuk mendapatkan review kandidat yang sesuai dengan posisinya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Tergulung Doomscrolling, Ketika Layar Jadi Sumber Cemas
-
Tersesat di Usia Muda, Mengurai Krisis Makna di Tengah Quarter Life Crisis
-
Fame Cafe Jambi: Suasana Santai, Rasa Juara, Bikin Tak Mau Pulang
-
Terjebak dalam Kritik Diri, Saat Pikiran Jadi Lawan Terberat
-
Takut Dinilai Buruk, Penjara Tak Terlihat di Era Media Sosial
Artikel Terkait
-
Tes IQ dan Visual: Ada Kesalahan di Gambar, Tugas Anda Untuk Menemukannya Dalam Waktu 10 Detik!
-
Tes Kepribadian: Ungkap Rahasia Terdalam Anda, Gambar Apa yang Anda Lihat Pertama Kali
-
Dinobatkan Jadi MBTI Terunik, Inilah 4 Sifat INFP yang Wajib Kamu Tahu!
-
Cerita Kiki Kanoe Pernah Dicekik Ressa Herlambang di Mall
-
Tes IQ dan Visual: Temukan 5 Perbedaan di Antara Gambar Kucing, Anda Hanya Punya Waktu 10 Detik!
Lifestyle
-
Rezeki Nomplok di Depan Mata, 3 Shio Ini Diprediksi Panen Cuan Besar di 2026
-
4 OOTD Layering Ala Bae In Hyuk, Minimalis tapi Tetap Fashionable
-
4 Hybrid Sunscreen SPF 35, Penyelamat Kulit Berminyak Atasi Jerawat dan PIE
-
5 Jajanan Korea Favorit untuk Buka Puasa, Manis dan Menggoda Selera
-
Minimalist Boy Style! 4 Daily Outfit ala Jinyoung GOT7 yang Wajib Ditiru
Terkini
-
Hukuman Pelaku atau Perbaikan Sistem? Menolak Narasi "Oknum" yang Berulang
-
BLACKPINK Bawa Pesan Keberanian dan Persatuan di Comeback Lagu Terbaru, Go
-
Antara Idealisme dan Uang: Realita Pembajakan Buku dalam Selamat Tinggal
-
Frieren: Beyond Journey's End Season 2, Musim yang Lebih Emosional dan Sepi
-
Dandelion, Manga Debut Kreator Gintama, Resmi Dapat Adaptasi Anime Netflix