Istilah upselling sedang ramai dibicarakan sebagai butut dari keluhan warganet terhadap teknik upselling yang dilakukan oleh sebuah perusahaan makanan. Lantas sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan teknik upselling?
Menyadur dari laman Forbes, upselling adalah teknik penjualan di mana penjual mencoba menjual versi lanjutan atau premium dari produk atau layanan yang digunakan atau dicoba dibeli pelanggan.
Misalnya, kamu sedang ingin membeli sebuah HP serharga Rp1.000.000, kemudian penjual akan menawarkan paket charger, earphone, dan temperes glass dengan menambah Rp50.000 sehingga total menjadi Rp1.050.000.
Dari sisi penjual, ada beberapa batasan dan etika yang perlu diperhatikan jika ingin memberlakukan teknik tersebut, berikut ulasannya.
1. Adanya Pengetahuan tentang Upselling
Sebelum memberlakukan teknik upselling pada pembeli, seharusnya penjual mengetahui terlebih dahulu bagaimana teknik upselling seharusnya dilakukan. Jika memiliki karyawan, pastikan juga mereka sudah mendapat briefing dengan baik sehingga tidak terjadi kesalahan saat melayani pembeli.
2. Memberi Informasi dengan Jelas
Hindari menggunakan taktik penjualan yang menyesatkan atau membuat klaim yang tidak bisa dipertanggung jawabkan, berikan informasi yang jelas soal perbedaan layanan atau produk asli dengan yang di-upsell. Jika perlu, pasang tulisan agar pembeli bisa mempertimbangkan sejak awal.
BACA JUGA: 3 Penyebab Seseorang Mengalami Emotional Numbness, Merasakannya?
3. Menghormati Pembeli
Salah satu etika penting penjual saat memberlakukan upselling adalah menghormati pembeli, mulai dari memberi informasi yang jelas, tidak mendesak mereka untuk beli, serta menerima keputusan yang dibuat oleh pembeli.
4. Tidak Memanfaatkan Ketidaktahuan Pembeli
Jangan sekali-sekali memanfaatkan ketidaktahuan pembeli, banyak penjual nakal yang tidak memberi informasi secara jelas dan langsung memasukkan barang upselling ke tas belanjaan pembeli, seolah-olah mereka setuju. Teknik seperti ini bisa dianggap menyesatkan dan melanggar etika.
5. Perhatikan Keberlanjutan Hubungan dengan Pelanggan
Pemberlakuan upselling ini seharusnya tidak hanya menguntungkan satu pihak, pembeli juga seharusnya bisa merasa untung dengan adanya upselling ini. Jika transaksi initidak berhasil karena pembeli tidak setuju, maka tetap pastikan pembeli merasa dihargai dan didukung. Dengan demikian, keberlangsungan hubungan antara penjual dan pembeli bisa terus berlanjut.
6. Jangan Ada yang Rugi
Hanya demi sebuah keuntungan yang mungkin tidak seberapa, jangan sampai ada yang rugi dengan adanya transaksi ini. Pembeli bisa merasa rugi jika dipaksa, jika sudah demikian, maka penjual pun juga akan menerima imbasnya yakni menurunnya kepercayaan pembeli.
Itulah 6 etika dan batasan penjual jika ingin memberlakukan upselling, kepuasan dan pelayanan baik pada pembeli tetap yang utama.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Jadwal MotoGP Austria 2026: 3 Pembalap Ini Bersiap Menyelamatkan Diri!
-
Mental Juara! Perjalanan Marc Marquez Rebut Puncak Klasemen MotoGP 2026
-
Usai Double Podium di Aragon, Marc Marquez Khawatir Jalani GP Misano 2026
-
Loris Capirossi Dinobatkan jadi Legenda MotoGP di Misano, Apa Prestasinya?
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Kulit Remaja Bebas Jerawat Tanpa Kuras Dompet! 4 Acne Serum Rp30 Ribuan
-
Auto Glowing! 5 Rekomendasi Brightening Ampoule Pembasmi Noda Jerawat
-
5 Sunscreen Korea untuk Kulit Sensitif: Aman, Tanpa Alkohol dan Parfum
-
Hempas Kusam dan Noda Gelap! Ini 4 Sabun Muka Korea Kandungan Brightening
Terkini
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
-
Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan