Setiap orang pasti akan menghadapi masalah secara terus menerus dalam kehidupan. Karena Allah akan selalu menguji hamba-Nya melalui masalah yang diberikan. Namun, setiap orang punya cara tersendiri dalam menyelesaikan masalah.
Ada yang menerima kegagalan, mereka bisa langsung menerima dan langsung bangkit menatap ke depan. Namun, ada juga yang sudah gagal, tapi masih sulit untuk mevalidasi diri atas keadaan yang telah dialaminya.
Berbeda dengan orang yang berhasil melewati masalah, orang yang sulit menerima keadaan akan susah juga untuk move on karena itu adalah bentuk pertahanan dirinya. Dengan sebutan lain, sikap seperti itu dalam istilah psikologi disebut denial.
BACA JUGA: 4 Cara Memilih Celana Dalam yang Nyaman dan Tepat untuk Wanita
Pada pembahasan kali ini, saya akan membagikan pemahaman mengenai dampak buruk apa saja dari terbiasa denial ketika menghadapi suatu masalah. Mari simak pembahasannya.
Tidak bisa menerima keadaan sebenarnya
Pertama, orang yang denial akan berusaha membenarkan kenyataan yang fakta sebenarnya adalah kebalikan dari pembenarannya. Misalnya, ketika kamu kalah dalam persaingan lomba olimpiade, kamu sudah manaruh ekspektasi bahwa kamu bisa tembus ke final dengan modal usaha persiapan kamu sebelumnya. Tapi, pada kenyataannya, kamu gagal lolos ke final.
Awalnya, kamu pasti akan merasakan kekecewaan dengan tidak percaya bahwa itu betul terjadi. Memang sulit, tapi rasa tidak percaya itu harus diusahakan dihilangkan dan cukup merelakan bahwa kamu sudah kalah. Lagipula, masih ada kesempatan di lain waktu untuk mengejar mimpi itu.
BACA JUGA: 3 Gejala Speech Delay pada Anak, Salah Satunya Sulit Mengimitasi Suara!
Menyalahkan orang lain karena merasa paling benar
Ketika kamu sudah kecewa, kamu pasti akan mencari seseorang atau beberapa orang untuk disalahkan. Ini bisa saja terjadi ketika kamu masih berusaha membenarkan tindakanmu sebelumnya. Mungkin pada saat lomba olimpiade, ada beberapa strategi yang belum kamu lakukan seperti rencana di awal.
Itu sudah jelas kesalahan ada di kamu, tapi kamu malah menyalahkan panitia yang kamu pikir melakukan sekongkolan dengan oknum yang berhasil lanjut ke babak selanjutnya misalnya. Hasilnya, kamu memperburuk citra kamu sendiri di mata orang lain atas kelakuan kamu sendiri. Cukup intropeksi diri sendiri dengan tenang dan berdamai dengan keadaan karena menyalahkan orang lain tidak pernah menyelesaikan masalah.
Bisa menghindar dari masalah
Denial juga bisa menyebabkan seseorang menghindar dari masalah. Kamu bisa saja menghindar dari masalah kegagalan kamu setelah olimpiade. Ketika kamu diajak oleh teman untuk lanjut berjuang lagi, kamu malah nolak dengan mencari alasan yang mungkin mencari hobi lain atau tekad lain.
Padahal, olimpiade itu adalah passion kamu sendiri dan salah satu jalan terbaik untuk mengasah potensi kecerdasanmu. Mungkin menghindar sementara untuk mencari pelampiasan itu tidak masalah. Tetapi, jika kamu berusaha benar-benar menghindar untuk melanjutkan lagi, masalah itu tidak akan pernah selesai.
Mungkin saja guru-guru akan memintamu mengikuti lomba olimpiade lagi sehingga itu menjadi tuntutan bagimu yang bisa menjadi tekanan tambahan dalam pikiranmu. Jadi, cukup mencari strategi lain dengan mengevaluasi diri mengenai apa yang masih kurang pada usaha sebelumnya.
BACA JUGA: 5 Tips Membangun Kebiasaan Baik untuk Produktivitas Sehari-hari
Sulit untuk open minded
Dampak yang satu ini bisa berpotensi menghancurkan diri sendiri. Sebab, masih ada teman yang peduli kepadamu dengan memberikan kritik dan saran yang mendukung atau membangun. Jika kamu malah denial, kamu menolak bentuk masukan yang bisa memberimu pandangan baru atau bahkan pengalaman baik dari temanmu yang mungkin merasakan hal yang sama denganmu.
Mereka bisa saja ingin bercerita kepadamu agar kamu bisa lebih bijak mengambil langkah selanjutnya. Kamu tidak akan bisa terus-terusan merasa opini dari pikiranmu itu benar. Ada kalanya kamu harus open minded terhadap pemikiran orang lain yang peduli denganmu.
Dampak buruk ini merupakan hal yang sudah umum terjadi ketika orang bersikap denial. Jadi, jangan sampai kamu terjatuh dalam kesalahan itu karena kamu bisa mengambil langkah yang salah dalam hidupmu. Semoga bermanfaat.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Toxic Positivity di Tempat Kerja: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
-
Makin ke Sini Makin Banyak Istilah Baru, Memangnya Kita Paham Konteksnya?
-
Jebakan Repost di Instagram: Saat Kepedulian Sosial Berakhir Menjadi Validasi Digital
-
Dilema Kelas Menengah: Mapan Entah Kapan, Tapi Checkout Bisa Sekarang
-
Ijazah Masih Penting, Tapi Kenapa Dunia Kerja Hanya Melihat Portofolio?
Artikel Terkait
-
3 Tanda Orang Terjangkit Star Syndrome, Cek Sekarang!
-
Jangan Sering Membentak Anak, Berikut Dampak Buruk yang Bisa Terjadi
-
Sering Disebut Berbahaya, Benarkah Roleplay Berdampak Buruk Pada Anak?
-
4 Dampak Negatif Melakukan Aktivitas Seks Rimming bagi Kesehatan
-
Suka Mengunyah Es Batu? Ketahui 5 Dampak Buruknya bagi Kesehatan Gigi
Lifestyle
-
5 Sabun Muka Anti Acne Lokal Remaja untuk Kulit Bersih Bebas Jerawat
-
Rekomendasi TWS ANC 200 Ribuan, Cocok Buat Musik dan Gaming
-
4 Low pH Cleanser Lokal Berbahan Aloe Vera Buat Kulit Sensitif Tetap Lembap
-
5 Sneakers Empuk yang Cocok untuk Jalan Kaki, Ada Skechers hingga ASICS
-
Seperti Pelukan Hangat! 5 Pilihan Parfum Warm Vanilla yang Lembut di Hidung
Terkini
-
Grow Wild, My Child: Saat Alam Menjadi Ruang Kelas Terbaik Anak
-
Nyore di Kyfein.id: Spot Hidden Gem yang Nyaman buat Nongkrong dan WFC
-
The Castle: Menyusuri Jalan Ketidakpastian Tiada Akhir Menuju Keterasingan
-
Terjebak Situationship yang Melelahkan? Ini Alasan Sikap 'Si Paling Cuek' Tak Lagi Keren
-
Peringatan Gempa Bukan Ramalan: Stop Tunggu Bencana untuk Belajar Mitigasi