Para pembaca buku fiksi biasanya akan mengalami beberapa perasaan yang khas setelah selesai menamatkan sebuah buku fiksi. Hal ini berkaitan dengan perasaan senang dan berbunga-bunga, apalagi jika buku yang dibaca memiliki genre romance dengan karakter tokoh utama yang super idaman.
Buku fiksi memang memiliki daya tariknya tersendiri. Ceritanya yang seru dengan berbagai konflik yang fluktuatif, dipadukan dengan berbagai karakter menarik, membuat buku fiksi termasuk salah satu karya yang mempunyai banyak penggemar di seluruh dunia.
Tak hanya itu, bahkan ada banyak karya klasik dengan genre romantis yang masih eksis dan dibaca banyak orang hingga sekarang. Nah, perasaan apa saja yang dirasakan para pembaca saat membaca buku fiksi?
Mengutip postingan akun Instagram @gramedia.com, berikut empat fiction reader value yang sering dirasakan para pembaca buku fiksi.
1. Terpesona pada salah satu karakter
Setiap pembaca fiksi pasti memiliki satu karakter yang menjadu favoritnya. Biasanya para pembaca perempuan akan dibuat jatuh cinta dan terpesona dengan karakter atau tokoh utama laki-laki dalam sebuah cerita fiksi.
Karakter yang digambarkan dengan sempurna, tampan, sukses, dan berbagai karakter positif lainnya membuat para tipe cowok ideal para pembaca jadi meroket!
2. Susah move on saat selesai membaca
Para pembaca fiksi biasanya juga akan mengalami fase susah move on setelah selesai membaca sebuah cerita fiksi. Kisah yang terlalu seru dan melekat biasanya akan menghadirkan perasaan hampa saat sudah sampai di halaman akhir.
Perasaan ini adalah campuran antara perasaan bahagia sekaligus susah move on. Cara mengatasinya biasanya dengan mencari rekomendasi buku lain yang sejenis.
3. Sering mengalami déjà vu
Perasaan yang sering dialami para pembaca fiksi salah satunya adalah déjà vu. Hal ini dapat terjadi saat membaca sebuah cerita yang mendeskripsikan suatu tempat atau keadaan tertentu.
Entah karena tercampur dengan imajinasi dan khayalan atau memang pernah mengalaminya, beberapa part dari buku yang dibaca biasanya akan menghadirkan perasaan déjà vu seolah-olah kita pernah berada atau mengalami kejadian tersebut.
4. Berharap karakter utama ada versi dunia nyata
Masih berhubungan dengan poin pertama, para pembaca fiksi juga biasanya berharap ada sosok nyata dari karakter idaman yang digambarkan dari sebuah buku.
Meski terdengar sangat mustahil ada orang dengan karakter sempurna seperti cerita fiksi, para pembaca biasanya tetap berharap agar menemukan satu di antaranya di dunia nyata.
Itulah empat fiction reader value yang mungkin dirasakan sebagian besar pembaca fiksi. Kamu pernah mengalami yang mana saja?
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ikuti Perjalanan Hampa Kehilangan Kenangan di Novel 'Polisi Kenangan'
-
3 Novel Legendaris Karya Penulis Indonesia, Ada Gadis Kretek hingga Lupus
-
Geram! Ayu Ting Ting Semprot Netizen yang Hujat Bilqis Nyanyi Lagu Korea
-
Haji Faisal Akui Sempat Syok dengan Konten Atta Halilintar yang Disebut Netizen Sentil Fuji
-
Outfit Bandara Seowon UNIS Jadi Sorotan, K-netz Perdebatkan Usia Debut
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Setengah Jalan, Koleksi Esai Komedi untuk Para Calon Komika
-
Ulasan Novel Death by Dumpling: Misteri Pembunuhan Pelanggan Setia Restoran
-
Ulasan Buku Jadilah Pribadi Optimistis, Lebih Semangat Mengarungi Kehidupan
-
Tragedi di Pesta Pernikahan dalam Novel Something Read, Something Dead
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
Lifestyle
-
Elegan dan Manis! 4 Inspirasi Outfit Feminin ala Minnie (G)I-DLE
-
4 OOTD Minimalis ala Wooyoung ATEEZ yang Tetap Modis untuk Disontek!
-
Jadi Ibu Bijak, Ini 5 Tips Kelola Uang THR Anak
-
4 Skincare dengan Cactus Extract, Rahasia Hidrasi Kulit Tanpa Lengket!
-
4 Padu Padan Outfit Girly ala Wonyoung IVE, Cocok untuk Gaya Sehari-hari
Terkini
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Menelaah Film Forrest Gump': Menyentuh atau Cuma Manipulatif?
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?