Tak hanya menyentuh hati lewat narasi emosional dan sinematografi yang memanjakan mata. Film Sore: Istri dari Masa Depan juga berhasil menciptakan atmosfer yang kuat melalui pemilihan lokasi syuting yang unik dan beragam.
Dalam rangka menggambarkan transformasi batin tokoh utama Jonathan dari kesendirian menuju kehidupan baru bersama Sore. Lokasi-lokasi yang dipilih tidak hanya menjadi latar, tetapi bagian dari narasi itu sendiri. Tak heran jika film garapan Yandi Laurens ini begitu menghipnotis penonton, hingga menembus dua juta penonton hanya dalam 16 hari penayangannya.
Menariknya, sekitar 80–85% adegan film ini diambil di luar negeri, terutama di Kroasia dan Finlandia. Dua negara Eropa ini tidak hanya menyuguhkan keindahan visual, tetapi juga menyimbolkan perjalanan waktu, ruang, dan batin para tokoh. Simak 4 lokasi syuting Film Sore berikut ini!
1. Artotel Thamrin & Artotel Gelora Senayan, Jakarta
Meskipun sebagian besar adegan mengambil latar Eropa, film ini tetap membuka jejaknya di Indonesia. Salah satu yang paling ikonik adalah tangga spiral di Artotel Thamrin, Jakarta, yang juga ditampilkan dalam poster resmi film. Tangga ini seolah melambangkan perjalanan waktu dan transisi emosional tokoh utama.
Selain itu, Artotel Gelora Senayan juga menjadi bagian dari semesta film, terutama melalui penyelenggaraan pameran fotografi bertema Sore yang terbuka untuk umum. Pameran ini menampilkan hasil jepretan Dion Wiyoko (pemeran Jonathan) yang mendokumentasikan proses syuting dan hubungan emosional antar tokoh. Tak hanya sebagai lokasi syuting, Artotel juga menjadi ruang ekspresi lanjutan dari film ke ranah seni visual.
2. Kemi, Finlandia: Zona Waktu Nol yang Membekukan Waktu
Salah satu latar paling penting dalam film ini adalah Kemi, sebuah kota kecil di Finlandia utara yang terletak di lingkar Arktik. Di sinilah diambil adegan kunci yang menyangkut mesin waktu dan konsep zona waktu nol, tempat semua garis waktu bertemu.
Tim produksi menghabiskan 14 hari di kapal pemecah es dengan suhu ekstrem hingga –20°C. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Yandi Laurens ingin memberikan pengalaman sinematik yang otentik. Udara beku yang membekukan napas, suara derit es yang terbelah, dan cahaya senja Arktik yang tak mungkin dipalsukan oleh CGI. Lokasi ini menjadi penyempurna untuk mendapatkan chemistry profesi Jonathan di Film Sore sebagai fotografer. Gila kan, kurang totalitas gimana?
3. Zagreb, Kroasia: Perpaduan Klasik dan Urban
Sebagai ibu kota Kroasia, Zagreb menyuguhkan nuansa Eropa klasik yang berpadu dengan dinamika budaya urban. Kota ini dipilih untuk menggambarkan sisi realistik dan dinamis dalam perjalanan hidup Jonathan.
Beberapa lokasi ikonik yang muncul dalam film di antaranya Tkalieva Street dengan kafe-kafe kecilnya yang hangat, Green Horseshoe yang menjadi ruang terbuka hijau khas Zagreb, serta Katedral Zagreb yang menjulang megah sebagai latar reflektif. Semua ini bukan hanya memperkuat mood film, tetapi juga menunjukkan kontras antara keramaian luar dan keheningan batin tokoh.
4. Gronjan, Kroasia: Kota Seni yang Menyentuh Jiwa
Berbeda dengan Zagreb yang ramai, Gronjan adalah kota kecil nan tenang di Semenanjung Istria, Kroasia. Hanya dihuni oleh puluhan orang, kota ini dikenal sebagai kota seni dan musik. Jalanan batu, gang-gang sempit, dan galeri seni lokalnya memberikan aura kontemplatif yang kuat.
Gronjan menjadi lokasi ideal untuk merepresentasikan sisi introspektif Jonathan. Di sinilah penonton diajak melihat keteduhan pikirannya, dan bagaimana ia memaknai kembali hidupnya bersama Sore. Bahkan karena ukuran kotanya kecil, kru film bisa berpindah lokasi syuting hanya dengan berjalan kaki, menjadikan proses produksi lebih intim dan efisien.
Sebuah Perjalanan Batin yang Diperkuat Lanskap Visual
Pemilihan lokasi dalam Sore: Istri dari Masa Depan bukan sekadar strategi estetika, tetapi bagian dari narasi emosional film itu sendiri. Dari tangga spiral di Jakarta hingga senja beku di Arktik, semua lokasi dirancang untuk menegaskan perubahan dalam hidup Jonathan.
Melalui keberagaman latar ini, penonton tidak hanya diajak menyaksikan kisah cinta lintas waktu, tetapi juga disuguhkan perjalanan visual yang menggugah. Lokasi-lokasi ini ibarat cermin dari perubahan batin tokoh, menjadikan Sore bukan sekadar tontonan, tapi pengalaman sinematik yang penuh lapisan makna.
Baca Juga
-
Merangkul Keragaman dengan Komedi di Buku Pahlawan Tanpa Tanda Tangan
-
Kalau Semua Harus Ditanggung Sendiri, Lalu Pajak Kita untuk Apa?
-
Bansos Bukan Barang Gratis: Ada Amanah yang Harus Dijaga
-
Hutan Hilang, Sawit Tumbuh: Bisakah Ini Disebut Berkelanjutan?
-
Berita Buruk Bukan Sekadar Kabar: Di Balik Layar Ada Orang yang Menderita
Artikel Terkait
-
Review Film Cloud: Dunia Digital yang Menelan Kemanusiaan
-
Totalitas Keisya Levronka di Film Pamali: Tumbal, Rela Basah-basahan 13 Jam
-
Cerita Monita Tahalea Debut Akting di Film Siapa Dia: Bangga Sekali, Semua Berdedikasi
-
Nicholas Saputra Tantang Diri Main Film Musikal: Modalnya Berani
-
Menerka Nasib Film Jisoo BLACKPINK, Raja Box Office tapi Terancam Gagal Balik Modal
Lifestyle
-
Bye Jerawat Meradang! 4 Hybrid Sunscreen Heartleaf Kontrol Produksi Sebum
-
Drama Perkara Busi: Jangan Suruh Orang Beli Suku Cadang Tanpa Catatan Spesifik!
-
5 Inspirasi Busana Kerja ala Seo Kang Joon, Tampil Rapi dan Fashionable!
-
Kulit Halus Tanpa Cekat-cekit! 4 Serum Eksfoliasi untuk Pemula Usia 20-an
-
Bantu Cerahkan Wajah Kusam: 5 Facial Wash Berbahan Vitamin C & Niacinamide
Terkini
-
Humor yang Membunuh Sains: Menyoal Sentilan Prabowo dan Narasi Anti-Intelektual
-
Heboh Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby: Ketika Selisih Usia Jadi Cermin Standar Ganda Kita
-
Stigma Tubuh Perempuan dan Warisan Tabu dalam Bahasa Sehari-hari
-
FIFA ASEAN Cup: Pertaruhan Hidup-Mati Bagi John Herdman di Timnas Indonesia
-
Review Film Soulmate: Pahami Bahwa Belahan Jiwa Tak Selalu Kekasih Romantis