Hayuning Ratri Hapsari | Thedora Telaubun
Ilustrasi fenomena quite quitting dalam pertemanan (Freepik)
Thedora Telaubun

Terkadang kita tidak menyadari teman yang dulunya sering jalan bareng, curhat sampai nangis-nangis, atau couple-an outfit, perlahan-lahan mulai menghilang tanpa ada kejelasan masalah yang memang mengakhiri hubungan pertemanan.

Banyak orang sekarang mengalami “quiet quitting” dalam hubungan sosial  bukan cuma di dunia kerja. Quiet quitting dikenal sebagai sikap menarik diri secara perlahan tanpa konfrontasi atau pengumuman besar-besaran. 

Dalam konteks pertemanan, psikolog seperti Dr. Miriam Kirmayer dan Marisa Franco  menyebut fenomena ini sebagai relational drift, yakni koneksi yang melemah pelan-pelan karena energi, waktu, dan prioritas berubah. 

Bagian rumitnya adalah semuanya terjadi halus, tanpa ada yang benar-benar salah. Namun, ada lima tanda  kecil yang bisa kamu sadari sebelum jaraknya makin jauh:

1. Balasan Chat Makin Ringkas 

Obrolan yang dulu penuh cerita, long text, banyak bubble chat, berubah jadi balasan pendek, kadang cuma emoji atau stiker. Kamu bisa merasakannya, ada jarak emosional di balik kata-kata.

Kalau ini terjadi, kamu bisa mulai dengan nada hangat, misalnya mengirim cerita ringan atau inside joke kalian. Bukan untuk memaksa, tapi membuka ruang supaya interaksi kembali alami.

2. Mereka Sering Bilang Sibuk, Tapi Tetap Aktif di Tempat Lain

Ketika temanmu bilang sibuk ketika diajak ketemu, tapi di story mereka keliatan lagi jalan-jalan dengan orang lain, bukan berarti mereka bohong. Medical Daily dengan judul “Why Friends Drift Apart” menunjukkan bahwa orang cenderung menyempitkan lingkar sosial ketika energi mental terbagi ke pekerjaan, keluarga, atau fase hidup baru. 

Di tahap ini, menawarkan pertemuan yang fleksibel jauh lebih efektif daripada memberi dengan tekanan lewat banyak pertanyaan.

3. Kamu Sudah Bukan Orang Pertama Tempat Mereka Bercerita

Kabar penting mereka kamu ketahui dari story atau dari orang lain, bukan dari pribadi. Ini tanda jelas bahwa kedekatan emosional berubah level.

Coba ajak ngobrol dengan lembut dengan menanyakan kabar kesehariannya tanpa harus mempertanyakan mengapa ia tidak pernah mengabari lagi. 

4. Obrolan Terasa Dasar 

Penelitian dari American Psychological Association menyebut keterhubungan emosional sebagai inti persahabatan yang kuat. Ketika topik berat makin jarang muncul, bisa jadi itu cara mereka menjaga batas.

Meresponsnya cukup dengan menunjukkan ketertarikan yang genuine. Kamu bisa berbagi sedikit tentang hal yang kamu alami duluan, supaya suasana tidak menjadi kaku.

5. Kamu Selalu Jadi yang Memulai Duluan

Kalau kamu berhenti ngechat, hubungan itu ikut diam. Ini tanda paling klasik dari quiet quitting, di mana mereka tidak memutuskan hubungan, tapi juga tidak menggerakkannya.

Cara paling sehat menyikapinya adalah jujur ke diri sendiri, apakah pertemanan ini masih seimbang? Kalau terasa berat sebelah, beri ruang. 

Kadang justru ruang itu yang bikin hubungan punya kesempatan tumbuh lagi dengan ritme yang baru.

Oleh karena itu, quiet quitting dalam pertemanan bukan tanda permusuhan. Ini cara halus manusia bertahan di fase hidup yang berubah. 

Yang penting adalah tetap bersikap lembut, tidak menghakimi, dan memberi ruang pada hubungan untuk menemukan bentuk barunya entah jadi lebih berjarak, atau justru kembali hangat dengan sendirinya.