Menjelang ujian, banyak dari kita yang baru mulai belajar saat malam sebelumnya. Sistem Kebut Semalam (SKS) akhirnya jadi andalan, meski sering membuat tubuh lelah dan pikiran penuh tekanan.
Materi yang menumpuk dan waktu yang terbatas membuat kita bingung harus mulai dari mana, hingga belajar hanya terasa seperti usaha darurat.
Padahal, ada cara yang lebih efektif untuk mempersiapkan ujian. Hal ini dibagikan oleh Zahid Ibrahim, penerima beasiswa di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jepang.
Melalui video di kanal YouTube-nya pada Jumat (3/11/2023). Ia memberikan tips belajar yang lebih efektif, yaitu belajar dengan metode cicil.
Belajar Lebih Awal: Cukup 20 Menit Setiap Hari
Kita mungkin sering bertanya, SKS ini sebenarnya efektif atau tidak? Setiap orang tentu punya metode belajar masing-masing. Namun, Zahid menilai bahwa mencicil belajar jauh lebih membantu agar kita tidak kewalahan menjelang ujian.
Ia membagikan pengalamannya yang selalu mulai belajar 3-5 minggu sebelum ujian. Dengan begitu, ketika waktu ujian semakin dekat, misalnya tiga hari sebelumnya ia hanya fokus mengerjakan kuis atau latihan soal.
Hal ini untuk me-review kembali detail penting, seperti rumus atau konsep yang sering tertukar.
“Lebih baik belajar 20 menit selama 28 hari daripada 6 jam dalam satu hari,” ujar Zahid.
Dengan belajar sebentar tapi konsisten, otak akan terbiasa memproses informasi dalam porsi kecil. Hari ini membaca buku, besok mengerjakan soal, lusa menonton video materi, semuanya dilakukan dengan durasi yang sama dan tidak memberatkan.
Cara ini juga membantu mengurangi kecemasan yang sering muncul menjelang ujian. Daripada hanya memikirkan ketakutan belum bisa, waktu tersebut bisa digunakan untuk melakukan review ulang.
Zahid juga menekankan pentingnya istirahat di hari sebelum ujian. Bukan untuk belajar keras, melainkan memberi tubuh dan pikiran ruang untuk istirahat.
Catatan Penting, tapi Latihan Soal Lebih Prioritas
Selama di kelas, banyak dari kita yang sibuk mencatat. Namun, menurut Zahid, mencatat saat kelas berlangsung bukan berarti kita benar-benar belajar. Sering kali itu hanya membuat kita merasa sibuk tanpa benar-benar memahami materi.
Catatan tetap diperlukan, tetapi tidak perlu terlalu panjang. Menurut hasil riset yang ia lakukan, mencatat tidak selalu menjadi metode belajar paling efektif bagi semua orang.
Karena itu, ia lebih menyarankan untuk mengambil poin-poin penting saja, kemudian segera beralih ke latihan soal. Melalui latihan soal, otak dipaksa untuk mengingat dan menyusun ulang informasi.
Proses inilah yang membuat pemahaman menjadi lebih kuat dan bertahan lama. Sebaliknya, hanya membaca dan mencatat membuat otak cenderung pasif dan lebih mudah lupa.
Dengan latihan soal, kita juga bisa menargetkan bagian mana saja yang kemungkinan besar akan keluar saat ujian. Setiap pengulangan membuat otak semakin terbiasa dan mampu mengenali pola informasi dengan lebih cepat.
Spaced Repetition: Memberi Jeda pada Belajar
Selain mencicil belajar, Zahid juga mengenalkan metode spaced repetition atau pengulangan dengan jeda waktu tertentu. Teknik ini memanfaatkan cara kerja otak dalam menyimpan dan melupakan informasi.
Jika kita belajar hari ini lalu langsung me-review pada hari yang sama, kita hanya melakukan satu kali pengulangan. Padahal, agar informasi benar-benar tersimpan, otak memerlukan beberapa pengulangan dengan interval yang semakin panjang.
Zahid mengaku dulu selalu langsung mengerjakan PR di hari tugas diberikan. Namun hal itu membuatnya tidak memiliki bahan untuk di-review pada hari-hari berikutnya.
Kini ia memilih mengerjakan beberapa tugas beberapa hari setelahnya, khususnya tugas yang sifatnya formalitas, agar masih ada materi yang bisa diulang dengan lebih efektif.
Zahid mengibaratkan ujian sebagai permainan yang perlu kita menangkan selama masih menyandang status sebagai pelajar atau mahasiswa. Bukan untuk dibebani, tetapi untuk dipahami mekanismenya agar bisa dilalui dengan baik.
Baca Juga
-
Bukan karena Fisik, Ini Alasan Fiki Naki Memilih Tinandrose Menjadi Istri!
-
Konflik PBNU Memanas, Mahfud MD: Saya Hanya Ingin NU Tetap Selamat
-
Kamu Salah Jurusan? Ini Rahasia Roy Nugroho yang Bikin Kamu Tetap Cumlaude
-
Bukan dari Kajian, Cinta Insanul Fahmi dan Inara Rusli Bermula dari Bisnis
-
Di Balik Hobi Rizwan Main Game, Sule Melihat Sisi Positif yang Tak Terduga
Artikel Terkait
-
Sudah Baca Berkali-kali Tapi Tetap Lupa? Ganti Caramu Belajar dengan 6 Langkah Sistematis Ini
-
Stop SKS! Ini 10 'Jurus Sakti' Belajar ala Harvard Biar Gak Cuma Hafal tapi Beneran Paham
-
Sering Ngantuk Pas Dengar Penjelasan Dosen? Ini Tips Belajar ala Agas dan Aghna CoC
-
Cara Belajar ala Yesaya, Peserta Clash of Champions dari UI yang Kantongi IPK 3,71
-
5 Tips Belajar ala Naufal dan Alfie Peserta Clash of Champions, Jangan SKS!
Lifestyle
-
5 Tanda Teman Kamu Quiet Quitting dan Cara Menyikapinya
-
4 Sunscreen Vitamin C Non-Comedogenic untuk Kulit Cerah Tanpa Clogged Pores
-
Tanpa Kalkun pun Bisa, Ini 5 Cara Kamu Merayakan Thanksgiving Versi Lokal
-
Kamu Salah Jurusan? Ini Rahasia Roy Nugroho yang Bikin Kamu Tetap Cumlaude
-
Membongkar Prasangka: Trinity Ajak Pembaca Melihat Dunia Lewat Buku 'Di Luar Radar'
Terkini
-
Pesannya Masih Relevan, Pidato Hari Guru Nasional 1996 Presiden Soeharto Kembali Viral
-
5 K-Drama Romcom Perkantoran yang Kocak dan Bikin Baper, Ada Dynamite Kiss!
-
Klarifikasi Gelang Couple, Insanul Fahmi Beberkan Awal Kenal Inara Rusli
-
Bukan Touchscreen atau Chromebook, Guru Cuma Butuh 3 Hal Ini untuk Mendidik
-
Ulasan Novel Pusaka Candra: Kisah Politik, Mitos, dan Cinta Keraton Abad 17