M. Reza Sulaiman | Rahel Ulina Br Sembiring
Ragam hidangan yang biasa disajikan saat perayaan Imlek [ANTARA]
Rahel Ulina Br Sembiring

Masyarakat Tionghoa telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan pesisir di Bintan dan pulau-pulau di sekitar Kepulauan Riau. Sejak masa perdagangan laut dan jalur migrasi Asia Tenggara, komunitas Tionghoa menetap, berbaur, dan membentuk identitas khas yang berbeda dari wilayah perkotaan besar.

Di pulau-pulau kecil seperti Pulau Panjang dan kawasan pesisir lainnya, kehidupan Tionghoa tumbuh berdampingan dengan budaya Melayu. Hal ini terlihat dalam bahasa sehari-hari, tradisi keluarga, hingga sajian kuliner yang sederhana namun sarat makna.

Menjelang Imlek, jejak akulturasi itu terasa semakin kuat: bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momen kebersamaan yang merefleksikan sejarah panjang hidup bersama di tanah kepulauan.

1. Mi Jala

Mie Jala (Kompas.com)

Ini merupakan salah satu sajian paling khas yang lekat dengan kehidupan Tionghoa pesisir. Mi jala terbuat dari mi kuning yang sangat tipis, disajikan dalam keadaan kering dengan kuah terpisah yang biasanya berasal dari kaldu ayam atau babi yang dimasak lama hingga gurih dan bening. Cara penyajiannya sederhana, namun justru menonjolkan filosofi di baliknya.

Dalam tradisi Tionghoa, mi dipercaya sebagai simbol panjang umur dan kelancaran rezeki. Oleh karena itu, mi tidak dipotong dan disantap dengan harapan hidup yang utuh serta berkesinambungan.

Karena makna inilah, mi jala hampir selalu hadir dalam perayaan Imlek di komunitas Tionghoa lokal; bukan sekadar sebagai hidangan, melainkan sebagai doa yang disajikan di meja makan keluarga.

2. Mi Lendir

Mie Lendir (Wikimedia)

Meski namanya terdengar unik, mi ini justru menjadi salah satu favorit masyarakat setempat. Mi lendir disajikan dengan kuah kental yang dibuat dari campuran pati, telur, dan kaldu, sehingga menghasilkan tekstur licin serta hangat yang khas. Mi kuning menjadi isian utamanya, lalu dilengkapi taburan bawang goreng yang memberi aroma dan rasa gurih.

Hidangan ini umum dijumpai di Pulau Panjang dan kampung-kampung Tionghoa pesisir, baik sebagai menu sarapan maupun santapan keluarga. Kesederhanaannya mencerminkan karakter kuliner pesisir: mengenyangkan, hangat, dan akrab dengan kehidupan sehari-hari.

3. Ba Kut Teh

Ba Kut Teh (Wikimedia)

Sup tulang babi dengan rempah-rempah khas Tionghoa ini kerap dimasak secara gotong royong, melibatkan beberapa anggota keluarga sejak proses persiapan hingga penyajian. Tulang direbus lama agar kaldunya keluar sempurna, menghasilkan rasa gurih yang hangat dan menenangkan.

Hidangan ini biasanya hadir pada hari-hari awal Imlek, disajikan dalam porsi besar untuk dinikmati bersama keluarga besar. Lebih dari sekadar makanan, sup ini menjadi simbol kehangatan, kebersamaan, dan ikatan keluarga yang dirawat melalui tradisi makan bersama di awal tahun baru.

4. Kue Keranjang (Nian Gao)

Kue Keranjang (Nian Gao) (Wikimedia)

Tak pernah absen saat perayaan Imlek, kue keranjang selalu menjadi sajian wajib di rumah-rumah Tionghoa. Di Bintan, kue ini kerap diolah ulang agar tidak hanya disantap sebagai kudapan manis, tetapi juga menjadi bagian dari hidangan keluarga. Kue keranjang biasanya digoreng dengan balutan telur atau dijadikan campuran kue lain, menciptakan rasa dan tekstur yang lebih variatif.

Di balik rasanya yang legit dan lengket, kue keranjang menyimpan makna simbolis: harapan akan rezeki yang terus meningkat dan kehidupan yang semakin baik dari tahun ke tahun.

5. Lontong Cap Go Meh

Lontong Cap Go Meh (Wikimedia)

Meski identik dengan tradisi di Jawa, perayaan Cap Go Meh di komunitas Tionghoa Bintan hadir dalam bentuk yang lebih sederhana dan bersahaja. Hidangan yang disajikan pun menyesuaikan bahan setempat serta kebiasaan keluarga, tanpa banyak elemen seremonial.

Cap Go Meh biasanya menjadi penutup rangkaian perayaan Imlek, dimaknai sebagai momen berkumpul terakhir sebelum kembali ke rutinitas. Dalam kesederhanaannya, perayaan ini tetap menjaga makna utama: kebersamaan, rasa syukur, dan harapan akan tahun yang lebih baik.

Jika kamu orang Bintan atau Tanjung Uban, pasti punya pilihan sendiri. Mana favoritmu?