M. Reza Sulaiman | Rahel Ulina Br Sembiring
Buku Soe Hok Gie (Dok.pribadi/Rahel)
Rahel Ulina Br Sembiring

Menjelang perayaan Imlek, kisah Soe Hok Gie kembali relevan untuk direnungkan. Lewat bukunya, Catatan Seorang Demonstran, Gie menghadirkan potret seorang anak muda Tionghoa Indonesia yang memilih bersuara lantang di tengah zaman yang penuh ketidakadilan. Ia hadir bukan sebagai pejuang etnis, melainkan sebagai penjaga nurani bangsa.

Catatan Seorang Demonstran berisi kumpulan catatan harian, esai, dan refleksi pribadi Soe Hok Gie semasa menjadi mahasiswa Universitas Indonesia di era Orde Lama hingga awal Orde Baru. Buku ini merekam kegelisahan Gie terhadap korupsi, otoritarianisme, serta sikap diam kaum intelektual yang memilih aman daripada jujur.

Sebagai bagian dari komunitas Tionghoa Indonesia, Gie hidup dalam realitas minoritas yang akrab dengan prasangka dan diskriminasi. Namun, pengalaman tersebut tidak ia salurkan menjadi perjuangan berbasis identitas. Ia justru menolak politik etnis dan memilih berdiri sebagai warga negara yang menuntut keadilan untuk semua. Bagi Gie, ketidakadilan tetaplah ketidakadilan, siapa pun korbannya.

Sikap ini tercermin jelas dalam tulisannya yang keras mengkritik penguasa, partai politik, hingga militer. Ia melihat mahasiswa sebagai kekuatan moral yang wajib menjaga jarak dari kekuasaan. Turun ke jalan, menulis dengan tajam, dan menolak kompromi adalah pilihan sadar, meski itu berarti ia harus berjalan sendirian.

Dalam konteks kebangsaan, kehadiran Gie menjadi penting bagi masyarakat Tionghoa Indonesia. Ia mematahkan stigma bahwa etnis Tionghoa hanya berada di pinggir sejarah. Dengan keterlibatan aktifnya dalam gerakan mahasiswa, Gie menunjukkan bahwa menjadi Tionghoa tidak menghalangi seseorang untuk berjuang sepenuhnya bagi Indonesia.

Poin-Poin Penting dalam Buku Soe Hok Gie:

  1. Kritik tajam terhadap kekuasaan yang korup dan represif;
  2. Penolakan terhadap sikap oportunis kaum intelektual;
  3. Mahasiswa sebagai penjaga moral bangsa;
  4. Nasionalisme berbasis kemanusiaan, bukan etnis;
  5. Keberanian minoritas untuk hadir dan bersuara di ruang publik.

Kelebihan

Kekuatan utama Catatan Seorang Demonstran terletak pada kejujurannya. Tulisan Soe Hok Gie tidak dibuat untuk menyenangkan pembaca, melainkan untuk mencatat kegelisahan dan sikapnya terhadap realitas politik yang ia hadapi. Karena berbentuk catatan harian dan esai personal, buku ini terasa hidup dan autentik. Pembaca diajak menyelami cara berpikir seorang mahasiswa idealis yang berani bersikap kritis di tengah tekanan kekuasaan. Pemikirannya tentang peran mahasiswa, bahaya oportunisme, dan pentingnya keberanian moral tetap relevan hingga hari ini, termasuk bagi generasi muda dan komunitas Tionghoa Indonesia yang mencari figur representatif dalam sejarah kebangsaan.

Kekurangan

Namun, format catatan pribadi juga menjadi keterbatasan buku ini. Alurnya tidak tersusun rapi dan sering meloncat dari satu peristiwa ke peristiwa lain sehingga bisa terasa berat bagi pembaca yang mengharapkan narasi sejarah yang sistematis. Bahasa yang digunakan pun kerap emosional dan sarat konteks zamannya, membuat sebagian gagasan sulit dipahami tanpa pengetahuan latar belakang politik Indonesia era 1960-an. Selain itu, subjektivitas Gie sangat dominan; pembaca perlu menyadari bahwa buku ini adalah suara personal, bukan laporan sejarah yang netral.

Penutup

Menjelang Imlek, Catatan Seorang Demonstran layak dibaca sebagai refleksi tentang pembaruan nilai dan keberanian bersikap. Soe Hok Gie mengajarkan bahwa kontribusi terbesar seorang Tionghoa Indonesia bukanlah memperjuangkan identitas secara sempit, melainkan hadir sebagai warga negara yang jujur, kritis, dan bertanggung jawab. Di tengah perayaan harapan dan awal baru, warisan Gie mengingatkan bahwa keberanian moral adalah bentuk bakti tertinggi pada bangsa.

Identitas Buku:

  • Judul: Catatan Seorang Demonstran
  • Penulis: Soe Hok Gie
  • Penerbit: LP3ES
  • Tahun Terbit Pertama: 1983
  • Genre: Nonfiksi, Catatan Harian, Politik
  • Tebal: ±300 halaman
  • ISBN: 978-979-8391-09-6