Siapa sih yang nggak mau punya kebebasan finansial di usia muda?
Tentu, banyak orang yang menginginkannya, salah satunya saya sendiri. Selama ini, saya selalu banyak menghitung saat akan melakukan sesuatu yang membutuhkan uang, sekalipun itu demi menyenangkan diri saya sendiri. Di beberapa momen, saya bahkan sering kali menahan diri hanya karena takut menyesal setelah uang telanjur dikeluarkan dan berakhir kesulitan bertahan di masa mendatang.
Ketika memikirkan hal itu, saya kerap membayangkan betapa mudahnya hidup jika saya sudah memiliki kebebasan secara finansial. Karena itu adalah momen di mana kita nggak perlu khawatir lagi soal penghasilan maupun kebutuhan hidup. Bukan hanya itu. Kita juga tidak perlu lagi takut atau merasa bersalah saat mengeluarkan uang, tak harus jadi kalkulator hidup yang terus memperhitungkan semuanya, hingga tak perlu peduli dengan harga yang dikeluarkan demi kesenangan pribadi. Lalu di masa depan, kita bisa menjalani hidup tenang tanpa kekhawatiran soal apapun.
Pikiran semacam itu mungkin juga dirasakan oleh anak muda lainnya hingga banyak di antara mereka yang memiliki keinginan untuk mencapai kebebasan itu secepat mungkin. Sayangnya, bukan hal yang mudah bagi kita untuk bisa sampai ke sana. Rasanya satu atau dua pekerjaan saja tidak cukup untuk bisa mencapai target financial freedom dan menjalani masa tua dengan slow living. Mungkin ini juga salah satu alasan yang membuat banyak anak muda yang akhirnya terjebak dalam hustle culture.
In this economy, ketika standar hidup semakin tinggi dan biaya hidup juga meningkat, untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, sebagian orang harus kerja dengan begitu keras. Menabung seolah menjadi privilege untuk "yang mampu-mampu aja". Jadi nggak heran kalau Gen Z sekarang mulai mencari berbagai cara demi bisa memperoleh pemasukan tambahan. Mulai dari membuka jasa editing video, jadi affiliator sekaligus content creator, menulis di media online, buka jasa fotografer, hingga jasa teman nongkrong. Di luar itu, tidak sedikit pula generasi muda yang mulai belajar investasi, baik itu saham, emas, atau yang lainnya.
Namun masalahnya, proses yang harus dilalui tentu tidak mudah, bahkan bisa terasa sangat melelahkan. Hari-hari dihabiskan untuk bekerja tanpa henti, muncul perasaan harus selalu menghasilkan sesuatu di tiap menit yang ada, hingga waktu luang pun dianggap sebagai kesempatan untuk bisa menjalani pekerjaan yang lain. Kalau ada ungkapan yang cocok untuk kondisi ini, mungkin kalimat itu adalah "hidup untuk bekerja".
Ironisnya, jebakan hustle culture yang berawal dari keinginan untuk bebas ini, terkadang malah membuat seseorang merasa tertekan. Terus-menerus bekerja tanpa waktu istirahat yang cukup membuat kita lama-lama merasa lelah, bukan hanya secara fisik tapi juga mental. Kebebasan di masa depan yang diidam-idamkan justru membuat kita menghabiskan masa sekarang untuk bekerja, tanpa sempat untuk sekadar menepi sejenak dari riuhnya pekerjaan.
Sebenarnya sah-sah saja kalau seseorang mau bekerja sangat keras demi mencapai financial freedom di masa depan. Namun, apakah mengejar kebebasan harus membuat seseorang merasa terpenjara dalam satu titik saja di hidupnya?
Nggak juga. Menurut saya, mungkin hal semacam ini bisa terjadi karena kita sudah terlalu banyak melihat standar hidup orang lain. Hal itu kemudian mempengaruhi cara pandang kita terhadap financial freedom itu sendiri. Padahal jika dipikirkan lebih dalam, setiap orang punya batas kemampuan yang berbeda-beda. Kita juga tidak memiliki keharusan untuk mengikuti standar orang lain yang bisa jadi tidak selaras dengan kapasitas yang kita miliki.
Saya rasa begitu pula dalam hal mengejar kebebasan finansial. Mungkin kita sering mendengar para influencer edukasi finansial yang mengatakan "harus punya uang dengan nominal sekian" untuk mencapai financial freedom. Namun, tidak ada keharusan bagi kita untuk mengikuti ukuran tersebut. Sebab pada akhirnya, masing-masing orang bisa memiliki standar dan batas rasa cukup yang berbeda.
Kita boleh saja bekerja keras dan mengurangi waktu istirahat agar memperoleh lebih banyak pendapatan, asalkan kita masih mampu melakukannya. Sesekali menikmati hidup pun tetap bisa dilakukan demi menjaga mental tetap aman. Artinya mengejar keinginan untuk bebas secara finansial di masa depan tidak harus sampai membuat kita lupa menikmati kehidupan yang sedang kita jalani sekarang.
Baca Juga
-
Ulasan My Bias, My Boss: Romcom yang Bikin Baper Tanpa Terasa Berlebihan
-
Marry My Husband: Kesempatan Kedua Jadi Jalan Keluar dari Hubungan Toxic
-
The Affair Was Just the Beginning Lebih Kompleks dari Drama Perselingkuhan
-
Gaji Pertama Anak Muda: Awal Kemandirian atau Jebakan Finansial?
-
Usia 20-an dan Rasa Cemas soal Masa Depan: Mengupas Makna Lagu Takut
Artikel Terkait
-
Stres Bisa Mengganggu Skin Barrier, Kenali Kandungan Skincare yang Tepat untuk Kulit Tetap Sehat
-
Stres dan Diet Tinggi Protein Bisa Jadi Pemicu Bau Mulut
-
12 Tips Mengatasi Stres Berdasarkan Zodiak, Cara Gemini dan Scorpio Berbeda
-
Pengaruh Stres Kurang Tidur terhadap Flek Hitam di Wajah, Benarkah Bisa Memicu?
-
Lagi Booming di Korea! Mainan Bola Lilin 'Wakppubol' Ampuh Usir Stres, Kok Bisa?
Kolom
-
Bencana Bukan Akhir Masalah: Negara Wajib Belajar dan Berbenah
-
Jangan Cuma Perampasan Aset: Siapa Tanggung Aset Sitaan yang Rusak?
-
Cantik di Luar, Krisis di Dalam: Sisi Gelap Beauty with a Purpose yang Sering Kita Abaikan
-
Data, Sains, dan Keselamatan: Seperti Apa Negara yang Siap?
-
Gambut Terbakar, Narasi Bermunculan: Di Mana Mitigasi Karhutla?
Terkini
-
Review Hope: Ketika Ketidaktahuan Manusia Jadi Kekacauan yang Mematikan
-
Berawal dari Drama, Yoo Jong Hoon dan Han Eun Seo Umumkan Menikah November!
-
Makna Lagu 'Dunia Tipu-Tipu' Yura Yunita: Menemukan Sosok untuk Bersandar
-
Review Chronovisor: Saat Kebenaran dan Teori Konspirasi Sulit Dibedakan
-
5 Alasan The Ramparts of Ice Jadi Anime Romance yang Wajib Ditonton!