Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Buku Humor Jurnalistik karya Mahbub Djunaidi (Divapress Online)
Fathorrozi 🖊️

Berbeda saat membaca buku yang lain. Khusus ketika membaca buku Humor Jurnalistik karya Mahbub Djunaidi ini, saya membacanya sambil menyungging senyum, sesekali tertawa, lalu beberapa kali berhenti karena merasa, “Kok bisa kepikiran menulis seperti ini?”

Begitulah kesan saya setelah merampungkan buku setebal 432 halaman ini. Buku yang diterbitkan IRCiSoD pada 2018 ini merupakan kumpulan tulisan Mahbub Djunaidi yang memperlihatkan bagaimana jurnalistik, kritik sosial, sastra, dan humor bisa duduk satu meja tanpa saling bertengkar.

Humor dalam buku ini bukan humor tempelan. Mahbub tidak sedang memaksa pembacanya tertawa dengan lelucon yang dibuat-buat. Ia justru melihat kenyataan yang kadang pahit, rumit, bahkan menyebalkan, kemudian memotretnya dari sudut yang tidak biasa. Dari sanalah kelucuan muncul.

Saya merasa inilah kekuatan terbesar buku Humor Jurnalistik. Mahbub tidak perlu berteriak bahwa keadaan sedang kacau. Ia cukup memilih kata yang tepat, membangun perbandingan yang aneh tetapi masuk akal, lalu membiarkan pembaca tertawa sekaligus menyadari bahwa yang sedang ditertawakan sebenarnya adalah persoalan serius.

Lucu, tetapi Tidak Garing

Setelah membaca beberapa tulisan Mahbub, saya semakin memahami bahwa menulis cerita lucu dan menulis dengan cara yang lucu adalah dua hal berbeda. Mahbub tidak selalu menceritakan kejadian lucu. Yang ia lakukan justru membuat kejadian biasa terasa lucu melalui cara bertutur.

Dalam esai Kesatria, misalnya, ketika berbicara tentang ketidakmampuannya bermain sepak bola, Mahbub menulis, “Sejak muda, saya tidak pernah bisa bermain bola. Ini membuat perasaan rendah diri, seakan-akan kaki saya cuma sebelah.”

Kemudian ia menutup keluhan itu dengan kalimat yang jauh lebih menggelitik, “Tentu saja bukan ikut main, melainkan dipersilakan jaga sepeda.”

Humornya muncul bukan karena ada pelawak yang sedang melucu, melainkan karena Mahbub mampu melihat sesuatu dari sisi yang tidak terpikirkan oleh kita.

Ia sebenarnya cukup mengatakan bahwa dirinya tidak pandai bermain sepak bola. Selesai. Tetapi Mahbub tidak berhenti di sana. Ia menambahkan “kaki saya cuma sebelah” dan “jaga sepeda”. Di situlah tulisan menjadi hidup.

Hal serupa terlihat ketika ia menggambarkan Our Dumb Friend League, sebuah organisasi yang merawat binatang. Alih-alih menggunakan kalimat biasa seperti “organisasi penyayang binatang”, Mahbub memilih ungkapan, “Organisasi yang merawat binatang seperti keponakan sendiri.”

Ungkapan sederhana, tetapi imajinatif. Kita langsung mendapatkan gambaran sekaligus senyum. Begitu pula ketika Mahbub menggambarkan kerumunan anak muda dalam demonstrasi di Luneta, Manila. Ia tidak memilih kata-kata standar seperti “remaja dan anak-anak”. Namun, ia menulis, “Sebagian sudah remaja, sebagian masih mengulum es lilin.” (hlm. 13).

Saya sampai berpikir, bagaimana mungkin “mengulum es lilin” bisa menjadi cara yang begitu efektif untuk menggambarkan usia seseorang? Inilah kecerdikan Mahbub. Ia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi memberikan gambar di kepala pembaca.

Kritik yang Diselipkan di Antara Tawa

Kalau hanya berisi kelucuan, tentu Humor Jurnalistik tidak akan menjadi buku yang menarik untuk dibaca sampai selesai. Di balik humornya, Mahbub adalah seorang pengamat sosial yang tajam. Ia membaca persoalan politik, kehidupan masyarakat, tokoh, organisasi, kebiasaan manusia, hingga berbagai peristiwa zamannya dengan mata yang kritis.

Menariknya, kritik itu tidak selalu disampaikan dengan bahasa yang keras. Mahbub justru sering membuat kritik terasa ringan karena dibungkus humor.

Dalam konteks jurnalistik, cara semacam ini sangat menarik. Kajian tentang rubrik Asal Usul menunjukkan bahwa Mahbub menggunakan gaya humor dan satire untuk mengomentari persoalan sosial-politik yang luput dari pemberitaan utama. Bahkan karakter rubrik tersebut memang cenderung ringan dan menekankan sisi humor.

Bagi saya, inilah alasan mengapa tulisan Mahbub masih terasa segar. Zaman boleh berubah, tokoh boleh berganti, teknologi komunikasi boleh berkembang, tetapi manusia dengan segala tingkahnya tetap saja manusia.

Kita masih melihat pejabat yang terlalu serius dengan dirinya sendiri. Kita masih menemukan orang yang gemar berdebat. Kita masih berhadapan dengan kepentingan politik. Kita masih melihat kesenjangan antara ucapan dan kenyataan.

Mahbub seperti mengajari kita satu hal, menghadapi semua itu tidak selalu harus dengan kemarahan. Kadang-kadang kita perlu menertawakannya agar pikiran tetap waras.

Mahbub, Sang Penulis Sekali Jadi

Mahbub Djunaidi bukan sekadar wartawan yang kebetulan pandai membuat lelucon. Tapi, ia mempunyai perjalanan intelektual, jurnalistik, organisasi, dan politik yang panjang. Ia pernah memimpin Duta Masyarakat, aktif di lingkungan NU, menjadi Ketua Umum pertama PMII, terlibat dalam GP Ansor, aktif di PWI, serta dikenal sebagai kolumnis di berbagai media. Namun, yang paling saya kagumi adalah kecintaannya terhadap dunia tulis-menulis.

Mahbub bahkan dikenal sebagai penulis yang dapat menyelesaikan tulisan dalam waktu relatif singkat. Prof. Dr. K.H. Chatibul Umam, sahabat sekaligus pakar sastra, menyebut di sampul belakang bahwa Mahbub sebagai sosok yang “menulis sekali jadi” dengan hasil yang alamiah dan spontan.

Kalimat itu terasa penting bagi saya sebagai orang yang juga menikmati dunia menulis. Sebab tulisan yang terasa alami sebenarnya tidak lahir dari kemalasan. Di belakang spontanitas biasanya ada kebiasaan membaca, pengalaman panjang, penguasaan bahasa, dan latihan yang tidak sedikit.

Mahbub pernah mengatakan bahwa dirinya lebih senang disebut sastrawan daripada politikus. Tidak mengherankan jika tulisan-tulisannya mempunyai rasa sastra yang kuat. Ia piawai menggunakan metafora, perbandingan, ironi, dan permainan kata.

Oleh karena itu, membaca Humor Jurnalistik bukan hanya belajar jurnalistik. Saya merasa sedang belajar bagaimana sebuah kalimat dapat bekerja lebih jauh daripada sekadar menyampaikan informasi.

Mengapa Anak Muda Perlu Membaca Karya Mahbub Ini?

Bagi generasi muda sekarang, Humor Jurnalistik masih sangat relevan. Kita hidup dalam zaman ketika informasi datang begitu cepat. Media sosial membuat siapa pun dapat menjadi komentator. Satu peristiwa bisa menjadi viral dalam hitungan menit. Orang mudah berkomentar, tetapi belum tentu mampu menyusun gagasan.

Mahbub menunjukkan bahwa tulisan yang menghibur tidak harus kehilangan kedalaman. Tulisan yang sederhana tidak berarti dangkal. Kritik tidak harus kasar. Dan humor tidak harus kosong.

Anak muda yang ingin belajar menulis opini, esai, kolom, jurnalistik, bahkan konten media sosial, menurut saya dapat mengambil banyak pelajaran dari buku ini. Terutama tentang bagaimana mengamati sesuatu dari sudut yang berbeda.

Mahbub juga mengajarkan bahwa bahasa adalah senjata yang menyenangkan. Dengan pilihan kata yang tepat, sebuah paragraf bisa membuat pembaca tertawa. Dengan gagasan yang kuat, tawa itu bisa berubah menjadi perenungan.

Saya sendiri merasa buku ini seperti teman ngopi yang cerewet, tetapi cerdas. Ia kadang membuat saya tertawa karena hal-hal kecil, lalu tiba-tiba menyodorkan persoalan besar. Setelah itu ia diam dan membiarkan saya berpikir sendiri.

Identitas Buku

  • Judul: Humor Jurnalistik
  • Penulis: Mahbub Djunaidi
  • Penerbit: IRCisoD
  • Cetakan: I, Oktober 2018
  • Tebal: 432 Halaman
  • ISBN: 978-602-7696-65-5
  • Genre: Jurnalisme / Humor