Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Komunitas Lari Perempuan, Kind Pace, dalam acara Kebaya Run di ReVerse Cafe, Melawai, Jakarta Selatan, Minggu (16/8). (dok.Kind Pace)
Chairun Nisa

Dari dulu saya selalu mengira bahwa bagian tersulit untuk mulai berlari adalah menjaga ritme napas agar tidak ngos-ngosan. Ternyata, bagi sebagian perempuan, tantangannya bisa dimulai bahkan sebelum kaki berlari.

Ada rasa takut untuk memulai, bingung karena tidak punya teman berlari, sampai pertanyaan sesederhana mengenai pakaian apa yang harus digunakan atau rute yang dilewati sudah cukup aman atau belum.

Hal tersebutlah yang saya temukan ketika saya menyambangi daerah Melawai, Jakarta Selatan. Pandangan saya terpaku pada sekelompok perempuan berpakaian kebaya, namun tetap sporty. Tidak lama, seorang perempuan bernama Anita memperkenalkan dirinya sebagai pendiri Kind Pace.

Pertemuan itu kemudian membawa saya pada cerita mengenai perjalanan perempuan dalam menemukan tempat aman. Masih banyak dijumpai perempuan yang ingin memulai berlari, namun menyimpan banyak keraguan untuk mengambil langkah pertama.

Selaku pendiri Kind Pace, Anita mengakui juga merasakan hal yang serupa.

"Sebenarnya pertama kali dimulainya dari aku dulu. Aku dulu gak suka banget lari dan takut untuk mulai," ungkap Anita.

Perlahan ia mulai mencoba berjalan kaki di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat. Dari sana, Anita melihat cukup banyak perempuan yang berlari seorang diri.

Pemandangan tersebutlah yang membuatnya berpikir bahwa mungkin bukan hanya dirinya yang ingin mulai berlari. Ada perempuan lain yang mungkin ingin mencoba, tetapi belum menemukan teman atau merasa takut untuk bergabung dengan komunitas.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Anita kemudian mencoba mengajak perempuan untuk berlari bersama melalui Threads. Jauh tak disangka, para pengguna aplikasi itu ternyata tertarik. Mulai dari situlah, Anita membentuk Kind Pace pada Juni 2026.

Mengobrol dengan Anita membuat saya menyadari bahwa alasan seseorang tidak berani memulai berlari ternyata bisa karena hal sederhana. Bukan karena tidak ingin olahraga, melainkan karena tidak tahu harus memulai dari mana dan dengan siapa.

Menemukan Pace Tanpa Takut Judgement

Para peserta Kind Pace sedang melakukan pemanasan dalam acara Kebaya Run di ReVerse Cafe, Melawai, Jakarta Selatan

Demi menjawab kekhawatiran para pelari pemula perempuan ini, Kind Pace mencoba menyediakan ruang ramah bagi perempuan, khususnya bagi mereka yang masih pemula.

Komunits ini tidak berfokus pada kecepatan sebagai tolak ukur utama. Para anggota justru dapat memilih pace yang sesuai dengan kemampun mereka. Untuk kegiatan lari, Kind Pace biasanya menyediakan pace delapan hingga sepuluh.

Sebelum berlari, anggota komunitas tersebut wajib melakukan pemanasan untuk meminimalisir cedera. Kemudian mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan pace yang sudah ditentukan.

Selama berlari mereka akan ditemani oleh pacer (pelari berpengalaman yang bertugas memandu dan menjaga peserta lain) dan sweeper (anggota tim yang posisinya paling belakang dalam suatu kelompok). Usai berlari, tidak lupa juga mereka melakukan pendinginan untuk merileksasikan otot-otot.

"Sebelum mulai running juga kita adain pemanasan dulu, terus pembagian grup semua pace. Sama ini ya pacernya yang pace 8, abis itu kita lari, dan ada pendinginan," jelasnya.

Setelah mengetahui bahwa ada orang-orang yang akan menemani sepanjang rute, membuat rasa khawatir saya perlahan hilang tergantikan dengan rasa aman. Apalagi Kind Pace menjunjung tinggi prinsip untuk tidak menghakimi perempuan.

Bahkan untuk nama Kind Pace sendiri lahir dari pandangan bahwa setiap orang memiliki pace atau fase yang berbeda. Demikian tidak seharusnya seseorang merasa lebih baik hanya karena mampu berlari lebih cepat.

"Ih, kok pace lo lebih gede atau lebih kecil itu gak boleh nge-judge. Lebih kita saling belajar sama-sama untuk menjadi lebih baik lagi," katanya.

Saya turut setuju dengan prinsip tersebut. Menurut saya itu salah satu hal yang membuat olahraga terasa lebih ringan. Bukan suatu keharusan juga untuk mengejar pencapaian orang lain. Setiap orang cukup berlari sesuai kemampuannya.

Rasa Aman Juga Bergantung Pada Ruang

Ilustrasi Jalanan Jakarta

Semakin jauh saya mengobrol dengan Anita, saya jadi tahu bahwa persoalan berlari perempuan tidak sekadar berhubungan dengan kemampuan fisik. Ada bahasan lain yang mungkin terasa sepele, namun cukup dengan keseharian perempuan.

"Karena ini kan perempuan, ya. Jadi, kita sesama perempuan harusnya lebih mengerti problen kita. Misalnya aja, 'pakai baju apa ya yang cocok buat lari?' atau misalnya mau curhat-curhat, biasanya agak segan ya kalau curhat ke cowok. Jadi ini lebih untuk tempat bercerita, terkoneksi," paparnya.

Mendengar penjelasan Anita, saya jadi berpikir bahwa teman berlari ternyata bisa punya arti lebih. Bukan hanya seseorang yang berada di samping kita saat berlari, melainkan juga orang yang bisa menjadi tempat bertanya atau berbagi keluh kesah.

Senada dengan Anita, saya juga merasa alasannya masuk akal. Terkadang ada beberapa hal yang mungkin lebih mudah dibicarakan ketika berada di antara sesama perempuan, termasuk soal pakaian, pengalaman di ruang publik, maupun sekadar rasa tidak nyaman saat berlari sendirian.

Lebih mendalam mengetahui arti aman sendiri ternyata tidak berpatokan dengan siapa teman berlarinya. Kondisi ruang publik juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Menurutnya, fasilitas lari di Jakarta masih belum sepenuhnya menunjang aktivitas para pelari.

"Sebetulnya, menurut aku belum menunjang. Karena jalanannya itu masih suka yang naik turun tiba-tiba dan banyak lubang. Nah, itu yang kadang suka bikin runner-runner kesandung," katanya.

Berkaca pada kenyataan jalanan di Jakarta yang memang belum sepenuhnya ramah bagi pelari. Kondisi tempat yang digunakan juga menjadi penentu rasa nyaman bagi seseorang ketika berolahraga.

Bagi perempuan yang baru ingin memulai lari, jalanan berlubang atau permukaan yang naik turun bukan persoalan kecil, apalagi harus melewati rute tersebut sendirian. Hal inilah yang membuat saya melihat keberadaan komunitas seperti Kind Pace dari sudut pandang berbeda.

Meskipun keberanian tiap orang berbeda-beda, Anita pun memiliki harapan sederhana bagi perempuan yang masih ragu untuk mencoba.

"Mudah-mudahan makin banyak yang gak takut untuk mulai dulu aja. Karena ketika kalian mulai, kalian bakal ngerasain pas di akhir, oh ternyata happy juga, oh seru juga ya ternyata lari," ungkapnya.

Menurutnya, berlari juga bisa menjadi salah satu cara untuk mengalihkan pikiran yang terlalu penuh.

"Karena kan kalau cewek itu biasanya suka overthinking, suka cari masalah saja kan di kepala. Jadi, lepasinnya dengan lari, dengan distraksi gitu," tambahnya.

Di balik langkah mereka, ada keberanian untuk mencoba sesuatu yang terasa menakutkan. Ada pula keinginan untuk menemukan teman dan ruang seperti berlari terasa lebih nyaman dan aman.

Dari pertemuan singkat tersebut, saya akhirnya memahami bahwa tantangan terbesar untuk mulai berlari memang bukan persoalan seberapa kuat kita menjaga napas. Bisa juga dengan mengalahkan rasa takut untuk melangkahkan kaki keluar rumah.