Dahulu power bank menjadi salah satu barang yang tidak boleh ketinggalan saat bepergian. Kerisauan baterai habis di tengah perjalanan membuat banyak orang merasa butuh membawa sumber daya cadangan.
Sayangnya, kebiasaan tersebut perlahan mengalami perubahan. Kapasitas baterai ponsel kini semakin besar. Jika beberapa tahun lalu baterai 5.000mAh sudah terasa mampu menampung banyak waktu, pada tahun sekarang telah hadir ponsel-ponsel dengan kapasitas lebih dari itu.
Mengutip dari data yang dilaporkan oleh Counterpoint Research, rata-rata kapasitas baterai ponsel secara global mencapai 5.291 mAh pada Januari 2026. Angka tersebut ditaksir mengalami peningkatan sebesar 400mAh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, ponsel dengan baterai berkapasitas minimal 6.000mAh berkontribusi sebanyak 29 persen penjualan global pada Januari 2026. Hal itu memperlihatkan bahwa ponsel berkapasitas baterai besar melonjak dari 10 persen pada Januari 2025.
Peningkatan kapasitas baterai ini juga didorong oleh perkembangan teknologi silikon-karbon. Teknologi tersebut memiliki kepadatan energi lebih tinggi sehingga produsen dapat memposisikan baterai berkapasitas lebih besar tanpa harus membuat bodi ponsel jadi lebih tebal.
Masifnya penggunaan ini pun mulai terlihat di pasar Indonesia. Ponsel dengan baterai 7.000mAh kini tidak hanya ada pada perangkat mahal dan inklusif, melainkan juga telah masuk ke berbagai segmen harga.
Sejumlah merek hadir dengan menawarkan kapasitas baterai jumbo. Penawaran tersebut kerap bersinggungan sebagai penunjang aktivitas, seperti bekerja, bermain game, menonton video, menggunakan navigasi, hingga mengakses media sosial dalam jangka waktu lama.
Kapasitas yang kian membesar ini memang sangat memudahkan penggunanya untuk tidak lagi membutuhkan colokan listrik. Dalam penggunaan normal, sejumlah ponsel berkapasitas 7.000mAh dinilai mampu digunakan seharian, bahkan beberapa juga dapat bertahan hingga hari berikutnya.
Namun, daya tahan sebenarnya tetap bertumbuh pada cara penggunaan si pemakainya. Mulai dari tingkat kecerahan layar, jenis jaringan, aplikasi yang digunakan, hingga aktivitas berat seperti bermain game dan bahkan menggunakan ponsel sebagai hotspot.
Peralihan inilah yang membuat penggunanya berpikir tidak lagi membutuhkan power bank. Bagi sebagian pengguna mungkin tidak selalu demikian. Orang yang bekerja di dalam ruangan sehingga memiliki kemudahan dalam mengakses listrik tidak butuh power bank seperti sebelumnya.
Saat ini juga beberapa ponsel telah dibekali fitur reverse charging. Fitur yang membuat ponsel dapat dipakai untuk mengisi daya perangkat lain, seperti earbuds, smartwatch, bahkan ponsel lain. Dalam kondisi tertentu pun, ponsel berkapasitas besar mampu menjalankan fungsi yang selama ini dijalani oleh power bank.
Meski demikian, tidak serta-merta power bank langsung kehilangan fungsinya. Perangkat ini masih diperlukan oleh beberapa orang dengan mobilitas tinggi. Pekerja lapangan, pengemudi ojek online, pelancong, hingga pengguna yang menghabiskan banyak waktu bermain game. Dalam situasi tersebut, kapasitas sebesar apa pun belum pasti cukup memenuhi kebutuhannya.
Power bank juga tetap bermanfaat bagi penggunanya yang membawa lebih dari satu perangkat. Satu power bank dapat digunakan oleh banyak perangkat, seperti ponsel, earbuds, jam tangan pintar, atau perangkat lain. Keberadaannya pun masih menjadi opsi penting ketika penggunanya berada jauh dari jangkauan listrik.
Demikian, baterai ponsel yang semakin besar belum sepenuhnya akan menghapus kebutuhan terhadap power bank. Namun, posisinya mulai berubah. Jika dulu perangkat tersebut menjadi barang wajib yang selalu dibawa setiap hari, kini power bank lebih berperan sebagai sumber daya cadangan saat berada di perjalanan jauh, aktivitas luar ruangan, hingga keadaan darurat.
Baca Juga
-
Mengenal Urban Rainfall Effect: Alasan Ilmiah Kenapa Hujan di Perkotaan Jauh Lebih Ekstrem
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
-
Ratusan Ton Karbon untuk Satu Film: Saatnya Industri Sinema Bergerak Lebih Hijau
-
Melihat Langsung Dapur 'Stunt Fighting': Saat 1 Detik Bertarung Butuh Keringat Panjang
-
Mengintip Keseruan TNT Fighter: Komunitas Stunt Fighting yang Buka Jalan ke Layar Lebar
Artikel Terkait
-
Penyimpanan Energi Baterai Kini Andalkan Sistem Pendingin Baru Cegah Overhead
-
7 Pilihan HP Murah Layar AMOLED 120 Hz, Scrolling Mulus dan Baterai Awet
-
Jeda dari Media Sosial: Kita Tetap Baik-baik Saja Tanpa Update Setiap Hari
-
Realme P4s Lite Resmi Rilis: Usung Baterai 7.000 mAh dan Ketahanan 6 Tahun
-
Secangkir Kopi Pagi Hari Tanpa Scroll: Jeda Kecil yang Sering Kita Lewatkan
Lifestyle
-
Samsung Galaxy A27 5G: HP Rp5 Jutaan dengan Snapdragon 6 Gen 3, Apa Saja Kelebihannya?
-
Nggak Perlu Mahal, Healing Duduk di Taman Kota Sambil Baca Buku Ternyata Bikin Pikiran Plong
-
Bye Kusam dan Penuaan! 4 Sunscreen Formula Pollustop Buat Aktivitas Outdoor
-
Jeda dari Timeline Kehidupan: Tidak Semua Orang Harus Sukses di Usia Sama
-
5 Bi-Phase Micellar Water: Bersihkan Makeup Tebal Tanpa Bikin Kulit Kering
Terkini
-
Terjebak Situasi Right Person Wrong Time? Film Tune In for Love Punya Jawabannya
-
You Are The Apple of My Eye: Tentang Cinta Pertama yang Tak Berakhir Sama
-
Four Hands Two Sonatas Tamat, Ini 5 Kejanggalan yang Masih Belum Terjawab
-
Ironi Kursi Pejabat: Cukup Pintar Bicara, Keahlian Nomor Dua
-
Bukan Musim Semi, Mengapa Bunga-Bunga Bermekaran Serentak di Jalanan Kota?