Bimo Aria Fundrika | Chairun Nisa
Komunitas Kind Pace saat mengadakan acara Kebaya Run di ReVerse Cafe, Melawai, Jakarta Selatan, Minggu (16/8). (dok. Kind Pace)
Chairun Nisa

Bagi Anita, membangun komunitas lari bukan sekadar mengumpulkan orang untuk berlari bersama. Ada pertanyaan lain yang terus muncul setelah semakin banyak perempuan bergabung: bagaimana membuat mereka merasa benar-benar menjadi bagian dari komunitas?

Pertanyaan itu mulai dirasakan Anita setelah mendirikan Kind Pace pada Juni 2026. Dalam waktu sekitar dua bulan, komunitas lari perempuan tersebut telah memiliki sekitar 100 anggota aktif. Grup WhatsApp-nya bahkan telah diisi sekitar 500 orang.

Pertumbuhan tersebut tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Anita. Namun, di balik semakin banyaknya orang yang bergabung, muncul pekerjaan rumah baru. Ia perlu memikirkan bagaimana menjaga agar para anggota tidak sekadar datang ketika ada kegiatan, lalu pergi begitu saja.

"Tantangan terbesarnya adalah mikirin gimana caranya supaya member-member pada happy, ngerasa 'Oh join Kind Pace itu bukan cuma datang event doang, tapi mereka bisa dapat sesuatu dari sini,'" kata Anita.

Bagi Anita, sesuatu yang ingin dibangun melalui Kind Pace bukan hanya rutinitas berlari. Lebih dari itu, ia ingin menciptakan ruang bagi perempuan untuk bertemu, saling mengenal, dan membangun koneksi satu sama lain.

Semakin Banyak yang Bergabung, Banyak Hal yang Harus Diurus

Para peserta Kebaya Run sedang melakukan pemanasan sebelum memulai lari

Seiring bertambahnya anggota, Kind Pace mulai menerapkan sistem kuota agar setiap kegiatan tetap terkelola. Beberapa acara dibatasi untuk 50 pendaftar pertama, sementara agenda rutin weekly run menampung maksimal 100 peserta.

“Kalau kita post di grup, oke yang bisa ikutan cuma 50. Jadi yang ikut ya 50 pendaftar pertama yang bisa ikut ke event Kind Pace,” jelas Anita.

Peserta juga dibagi berdasarkan pace, mulai dari 8 hingga 10, sehingga dapat memilih kelompok sesuai kemampuan saat mendaftar.

Untuk memastikan anggota tetap terpantau selama berlari, Kind Pace menyediakan aksesori khusus sebagai penanda anggota komunitas. Setiap kelompok juga memiliki pemandu yang disesuaikan dengan pace peserta.

“Karena ini anggotanya banyak, jadi kita sediain aksesori kayak jepitan biar gampang kita notice kalau itu member Kind Pace,” kata Cimut.

Dengan sistem tersebut, anggota diharapkan dapat berlari dengan lebih nyaman tanpa khawatir tertinggal atau harus berlari sendirian.

Di Balik Lancarnya Acara, Ada Tim yang Bekerja Keras

Tim Kind Pace

Semakin besar komunitas, semakin banyak pula hal yang harus dikelola. Anita menyadari, mengurus Kind Pace seorang diri bukan lagi pilihan.

Ia kemudian membagi tanggung jawab kepada sejumlah anggota tim. Ada yang menangani acara dan media sosial, menentukan rute, mengatur pacer dan sweeper, hingga mengurus kerja sama dengan sponsor.

Meski sudah dibantu tim, mengelola Kind Pace tetap menyita waktu. Apalagi, Anita juga masih harus menjalankan aktivitas di luar komunitas.

“Jujur, antara karier dan komunitas ini saya jadinya kurang tidur, ya,” ujarnya.

Untuk menyiasatinya, Anita biasanya mengerjakan urusan Kind Pace pada malam hari atau pagi-pagi sebelum memulai aktivitas lainnya.

Tetap Melangkah Maju, Meski Sempat Burnout

Anita, Pendiri Kind Pace, Komunitas Lari Perempuan saat ditemui di ReVerse Cafe, Melawai, Jakarta Selatan, Minggu (16/8)

Kesibukan tersebut sempat membuat Anita kelelahan. Bahkan, ia pernah berpikir untuk berhenti mengurus Kind Pace.

“Minggu lalu aku baru curhat. Aku capek banget ngerjain Kind Pace, aku pengen udahin aja lah,” ungkapnya.

Namun, keinginan itu tidak berlangsung lama. Teman-temannya di Kind Pace menyemangati dan mengingatkan bahwa komunitas tersebut masih berusia muda serta memiliki banyak hal untuk dikembangkan.

Dukungan itu datang bersamaan dengan mulai tumbuhnya kepercayaan dari sejumlah brand. Setiap minggu, menurut Anita, ada peluang satu brand menjadi mitra weekly run mereka selama satu bulan.

“Jadi, ya, harus semangat, walaupun lelah!” kata Anita.

Di tengah pertumbuhan tersebut, keselamatan peserta tetap menjadi perhatian. Setiap kegiatan dilengkapi kotak P3K sebagai antisipasi jika terjadi cedera atau kondisi yang membutuhkan pertolongan.

Anita juga berupaya menjaga agar kegiatan Kind Pace tetap gratis bagi anggota.

“Kita mengusahakan tiap event gratis, ya. Karena kita gak mau jadi beban ke para member,” ujarnya.

Untuk lokasi, weekly run umumnya digelar di kawasan Gelora Bung Karno (GBK). Beberapa kegiatan lain berlangsung di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, seperti Blok M dan Sarinah. Pemilihan lokasi tersebut mempertimbangkan akses agar anggota tidak perlu menempuh perjalanan terlalu jauh.

Kini, tantangan Anita berbeda dari ketika pertama kali membangun Kind Pace. Jika sebelumnya ia hanya perlu mencari cara untuk mengajak perempuan berlari bersama, kini ia harus memastikan ratusan orang yang telah bergabung tetap merasa nyaman dan menjadi bagian dari komunitas.

Bagi Anita, bertambahnya anggota bukan sekadar soal angka. Bersamaan dengan itu, muncul pula tanggung jawab untuk menjaga mereka tetap terhubung. Dan di situlah perjalanan Kind Pace sebenarnya baru dimulai.