Tahukah kamu dengan kucing Schrödinger? Kucing Schrödinger bukanlah seekor kucing sesungguhnya, melainkan adalah kucing imajiner yang diciptakan Erwin Schrödinger (1887-1961) seorang Fisikawan Austria sekaligus bapak fisika kuantum pada tahun 1935.
Schrödinger membuat ekperimen dalam pemikirannya. Dia membayangkan seekor kucing yang dimasukkan ke dalam sebuah kotak bersamaan dengan botol kecil yang berisi racun. Jika ada aktivitas peluruhan radioaktif dari racun tersebut, maka racun itu akan jatuh dan membunuh si kucing.
Aktivitas radioaktif tersebut mamakai prinsip fisika kuantum yang berisi probabilitas (antara meluruh dan tidak meluruh) atau dikenal juga dengan istilah superposisi.
Schrödinger yang mengamati dari luar kotak tentu tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Apakah si kucing hidup? Apakah si kucing mati? Pertanyaan ini memiliki jawaban superposisi.
Schrödinger menyimpulkan bahwa si kucing di dalam kotak dalam keadaan hidup dan mati secara bersamaan. Bagaimana mungkin ada keadaan mati dan hidup secara bersamaan. Inilah paradoks kucing Schrödinger tersebut.
Schrödinger dan Virus Corona
Jika kita ganti kisah kucing Schrödinger ini dengan wabah COVID-19 saat ini, maka kitalah yang menjadi kucing tersebut. Kita berada dalam kondisi superposisi. Pemerintah dibuat pusing dalam mengambil kebijakan untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 ini. Berbagai opsi bermunculan seperti lockdown atau karantina.
Jika karantina dilakukan maka secara bersamaan kegiatan ekonomi akan lumpuh. Seruan lain yang sering digaung-gaungkan adalah untuk tetap berada di rumah, bekerja dari rumah, dan diam di rumah.
Di sisi lain, untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang dan pangan kita harus keluar rumah. Inilah bentuk kondisi mati dan hidup secara bersamaan ala kucing Schrödinger.
Sampai saat ini wabah COVID-19 di Indonesia telah banyak memakan korban. Tercatat sampai tanggal 12 April 2020 korban meninggal sebanyak 373 orang. Dari jumlah tersebut salah satu korbannya adalah tim medis, di mana sudah lebih dari 30 orang yang meninggal dunia.
Banyaknya tim medis yang menjadi korban dikarenakan mereka terpapar oleh pasien yang positif terkena COVID-19. Akumulasi paparan dari pasien membuat mereka menjadi korban juga.
Seakan-akan kondisi ini seperti pameo buah simalakama, jika tidak obati pasien mati, jika diobati tim medis yang mati. Ini juga paradoks kucing Schrödinger pada kasus penanganan wabah COVID-19 di Indonesia.
Paradoks Kucing Schrödinger
Bentuk lain paradoks kucing Schrödinger adalah bagi para pekerja harian, seperti pedagang kaki lima, buruh harian, pengendara ojek online maupun ojek pangkalan dan lain sebagainya. Mereka menggantungkan hidup dari pengahasilan tiap hari.
Jika tidak keluar rumah, maka mereka tidak makan. Jika keluar rumah ancaman virus di mana-mana. Kondisi sulit ini terjadi secara bersamaan. Keputusan untuk tetap berada di rumah adalah bentuk menghindari paparan virus namun disaat bersamaan paparan kelaparan menggerogoti mereka. Begitu juga sebaliknya.
Saat ini kawasan Jabodetabek telah melakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan tujuan memutus rantai penyebaran COVID-19. PSBB ini diberlakukan agar membatasi aktivitas orang-orang dalam suatu kegiatan yang menimbulkan suatu kerumunan atau yang melibatkan orang banyak.
Jika kedapatan ada masyarakat yang melanggar PSBB maka akan dikenakan sangsi hukum. Sampai saat ini kita belum mengetahui apa bentuk sangsi hukumnya.
Seandainya sangsi hukum berupa penahanan, maka ini adalah bentuk kegiatan mengumpulkan orang yang secara otomatis melanggar PSBB. Lalu jika sangsinya tidak jelas atau tidak tegas dapat dipastikan akan banyak masyarakat akan melanggar PSBB ini.
Satu lagi hal menarik yang dapat kita amati adalah banyaknya pasien maninggal yang dikubur dengan protap COVID-19. Pasien tersebut meninggal sebelum keluar hasil tes swabnya. Apakah pasien tersebut positif terinfeksi corona? Kita tidak akan benar-benar tahu sebelum kotak dibuka (ada pengamatan).
Sebelum ada hasil tes yang keluar, kita tidak benar-benar tahu apakah pasien tersebut positif atau negatif. Posisinya adalah separuh positif dan separuh negatif.
Lalu apakah kita sebagai kucing Schrödinger akan hidup atau mati dalam melawan COVID-19 ini? Tidak seorangpun yang tahu sebelum kotak dibuka (wabah ini berakhir). Artinya dalam hidup ini kita tidak ada dalam posisi setengah hidup atau setengah mati. Yang ada adalah persentase hidup dan mati adalah 50 persen atau dengan kata lain kita hidup dan mati secara bersamaan.
Oleh: Dr. Nofi Yendri Sudiar / Dosen Fisika Universitas Negeri Padang.
Baca Juga
-
Adaptasi Iklim Masih Lemah, Wilayah Lokal Semakin Rentan
-
Terbiasa Menyisakan Makanan? Berarti Anda Penyumbang Laju Pemanasan Global
-
Hari Bumi 2020: Aksi Iklim dan Introspeksi Diri di Tengah Pandemi
-
Kondisi Nyaman untuk Berwisata dari Perspektif Iklim dan Cuaca
-
Indeks Kenyamanan Iklim dan Potensi Peningkatan Kunjungan Wisata
Artikel Terkait
-
Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun
-
Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19
-
IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19
News
-
Bukan Sekadar Bola, Konflik Mbappe vs Senator Paraguay Berpotensi Jadi Masalah Diplomatik!
-
Masa Depan Pariwisata Yogyakarta: Menjaga Budaya di Tengah Arus Global
-
"Diutus" Presiden: Mengapa Ucapan Ketua MPR Ahmad Muzani Picu Kontroversi Konstitusi?
-
Rumah Kosong di Banjarmasin Jadi Saksi Bisu: Mengapa 'Ngelem' Kembali Marak di Kalangan Remaja?
-
Che Cupumanik Rilis Single 'Luka Kolektif' Bersamaan dengan Buku 'Luka Kolektif Manusia Digital'
Terkini
-
Review Moana Live Action: Hadirkan Sentuhan Budaya Polinesia yang Autentik
-
Bye Kemerahan! 4 Moisturizer Cream Madecassoside Cocok untuk Kulit Kering
-
Rumah Kecil dengan Seribu Tawa
-
Romansa Quinn dan Staten Berlanjut di Ransom Canyon Season 2
-
FIFA Turun Tangan Selidiki Dugaan Rasisme Terhadap YouTuber IShowSpeed