Sistem pembayaran makin berinovasi dari tahun ke tahun seiring dengan kemajuan TI (Teknologi informasi). Awalnya transaksi dilakukan secara tunai atau dengan uang fisik, kemudian berinovasi menjadi transaksi nontunai atau cashless seperti menggunakan kartu ATM/Debet dan kartu kredit. Ditambah lagi dengan inovasi terbaru yaitu digitalisasi sistem pembayaran dengan model uang elektronik (e-money).
Tidak terasa pandemi Covid-19 sudah berlangsung berbulan-bulan hampir mendekati satu tahun. Masyarakat mulai makin beradaptasi dengan keadaan yang entah sampai kapan usai. Kini platform digital sudah menjadi kebutuhan sehari-hari seperti untuk menggunakan transaksi cashless.
Transaksi nontunai (cashless) berkembang dan sudah menjadi kebiasaan masyarakat dalam melakukan pembayaran. Transaksi cashless saat ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, berdasarkan riset penelitian, di mana masyarakat dalam waktu seminggu sekitar satu hingga dua kali menggunakan pembayaran transaksi mencapai 68 persen. Berimbas kepada perbankan saat ini juga makin gandrung jadi jasa keuangan.
Di tengah pandemi saat ini cashless mengalami peningkatan akibat pandemi Covid-19. Hal ini berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi uang elektronik sebesar Rp 17,23 triliun pada Agustus 2020. Jumlah tersebuut meningkat sebesar 33,8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Peningkatan transaksi uang elektronik di bulan Agustus 2020 lebih tinggi dibandingkan pada bulan Juli 2020 dengan transaksi uang elektronik mencapai 24,42 persen.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan Bank Indonesia akan terus mempercepat digitalisasi pembayaran serta perluasan ekosistem digital bersama dengan pemerintah, bank, fintech, serta e-commerce dalam rangka pemulihan ekonomi nasional dengan penyaluran kredit dan digitalisasi UMKM. Secara totalitas, transaksi sistem pembayaran tunai maupun nontunai (cashless) yang menunjukkan peningkatan demi perbaikan ekonomi dengan percepatan digitalisasi ekonomi dan juga keuangan.
Disisi lain adanya cashless ini juga menjadikan masyarakat menjadi lebih konsumtif dikarenakan kemudahan layanan transaksi melalui digital. Berdasarkan hasil riset lembaga berbasis aplikasim Transaksi snapchart yaitu transaksi retail (28 persen), pemesanan transportasi online (27 persen), dan pemesanan makanan online (20 persen).
Sisanya, untuk transaksi e-commerce (15 persen) dan pembayaran tagihan (7 persen). Bisa dikatakan bahwa masyarakat menjadi perilaku yang konsumtif dikarenakan kemudahan-kemudahan yang ada dan makin bergantung pada teknologi. bahkan pandemi benar-benar membuat orang meminimalisasir entah itu kontak fisik lewat medium apa pun, termasuk uang itu sendiri.
Oleh: Salwan Hanafi / Mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta
Baca Juga
Artikel Terkait
News
-
Gandeng Astra, Perjuangan Kang Edai Angkat Budaya Suku Osing Berbuah Manis
-
Kembangkan Literasi Digital Siswa, Dosen UNP Kediri Ciptakan Model Belajar Berbasis AR dan AI
-
Menumbuhkan Rimba Bawah Laut: Perjuangan Sunyi Nyoman Nadiana dari Desa Les
-
Di Tangan Nyoman Nadiana, Tradisi Garam Desa Les Terus Hidup dan Lekat dengan Masyarakat
-
Kasus Pertanahan Capai 56.844, Mengapa Masyarakat Perlu Melek Soal Tanah?
Terkini
-
Bosan Lari Gitu-Gitu Aja? Coba 5 Spot Jogging di Jogja Ini, Suasananya Asri Banget!
-
Viral Gegara Natalius Pigai, Ini 5 Buku Tipis Wajib Baca untuk Anak Muda yang Malas Baca Buku Tebal
-
4 Rekomendasi Buku dari Hyunjin Stray Kids, Ada 'Vegetarian' hingga 'Almond'!
-
Bye Kulit Kering! 4 Hydrogel Mask Korea Panthenol Kunci Skin Barrier Kuat
-
Bali United Bertekad Dominasi Laga Kandang di BRI Super League 2026/2027