Pandemi COVID-19 masih belum menunjukkan tanda-tanda menghilang, meski berbagai upaya telah dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus tersebut.
Penerapan perilaku 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) menjadi upaya utama untuk menekan angka pasien positif COVID-19.
Dengan adanya himbauan jaga jarak atau physical distancing, maupun karantina mandiri, membuat banyak orang harus bekerja dan belajar di rumah.
Kondisi tersebut yang mengubah banyak perilaku masyarakat, terutama di sektor pendidikan. Kegiatan belajar mengajar yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka harus dilaksanakan jarak jauh.
Terhitung sejak Maret 2020 hingga akhir tahun ini, banyak kegiatan sekolah yang harus dilaksanakan dari rumah. Hampir semua aktivitas belajar dan mengajar dilakukan tidak secara tatap muka.
Kepala Sekolah SD Negeri 5 Wates Mojokerto ikut berkomentar soal polemik sekolah daring yang harus dilaksanakan akibat pandemi.
“Karena smartphone itukan rata–rata milik orang tua, bukan milik sendiri. Kalau pembelajaran daring, misal orang tuanya tidak kerja, ya tidak masalah, orang tua bisa mendampingi anaknya secara langsung, tapi kalau orang tuanya kerja, biasanya nunggu sampai orang tuanya pulang dulu, baru mengerjakan,” ucap Kepala Sekolah SDN Wates 5 Mojokerto.
Namun bentuk solusi yang ditawarkan oleh pihak sekolah untuk mengatasi kekurangan fasilitas yang dimiliki siswa–siswi SDN Wates 5 Mojokerto adalah dengan menyediakan fasilitas semacam laptop.
“Mungkin untuk beberapa, tapi ga banyak juga, 7-8 anak itu mereka pembelajaran daring di sekolah, mereka diberi fasilitas berupa laptop, kalau hanya sedikit tidak masalah,” lanjut ucapan Kepala Sekolah SDN Wates 5 Mojokerto.
Menurutnya, pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak bisa efektif dan maksimal. Terlebih lagi, pembelajaran jarak jauh tersebut dilakukan tanpa adanya persiapan yang benar-benar matang.
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
News
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
-
Ratusan Ton Karbon untuk Satu Film: Saatnya Industri Sinema Bergerak Lebih Hijau
-
Susah Fokus Bukan Cuma karena 'Gadget': Memahami Mitos Attention Span di Era Digital
-
Akhir Era Naik Kelas Otomatis: Mendikdasmen Kaji Ulang Kebijakan Demi Cegah Fenomena RMS
Terkini
-
I Need Space: Belajar Mengelola Emosi Lewat Petualangan di Luar Angkasa
-
Comeback dengan Lagu Stay, Yuqi i-dle Yakin Hari Esok Pasti Akan Lebih Baik
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Pelukan Suzume dan Pelajaran tentang Inner Child yang Sering Disalahpahami
-
Langkah Kecil Menuju Mimpi