Kalau kata pepatah jangan menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja. Hal itu bisa dijadikan pengingat bagi setiap orang sebelum menilai buruk sesuatu yang hanya dilihat dari luar lebih baik diam.
Pepatah tersebut menjadi gambaran tentang video viral satu ini. Video viral yang diunggah akun media sosial Instagram 2tankgank memperlihatkan seorang cewek memakai seragam pramuka berada di parkiran sepeda motor di sekolahnya.
Cewek itu mengambil sepeda motornya untuk dikendarai pulang. Sepeda motor yang dimiliki oleh cewek ini modelnya jadul.
Hal tersebut membuat teman-temannya menertawakan sepeda motor milik cewek itu. Namun, dia tampak cuek tidak mendengarkan ledekan teman-temannya.
"Digeguyu kancane mergo motore tuwek dewe (Ditertawakan temannya karena motornya tua sendiri). Tertawalah karena mereka enggak tahu harganya," keterangan dalam video seperti dikutip oleh Yoursay.id, Rabu (31/08/2022).
Siapa sangka jika sepeda motor model jadul yang dikendarai oleh cewek ini harganya fantastis. Bahkan harganya melebihi sepeda motor bebek yang digunakan oleh teman-temannya.
Sepeda motor tersebut apabila dijual bisa laku hingga Rp 80 juta apabila kondisinya masih bagus dan pajak masih hidup. Sementara, jika sepeda motor masih bagus tetapi pajaknya sudah mati 10 tahun harga jualnya masih tinggi yakni Rp 56 juta.
Harga Sepeda Motornya Fantastis Bikin Minder
Rupanya sepeda motor jadul dengan harga fantastis ini jenis Yamaha 125 Z. Apabila dibandingkan dengan harga sepeda motor ini setara dengan harga 2 atau 3 buah sepeda motor keluaran terbaru.
Fantastisnya harga Yamaha 125 Z kini berkaitan ketika pengeluaran awalnya di tahun 2001-2002 sudah langka dijual Rp 25 juta per sepeda motor. Jadi tidak heran semakin ke sini, sepeda motor ini semakin langka pula.
Hingga kini, video tersebut sudah mendapatkan tayangan 1,2 juta kali di reels dan 37,6 ribu suka. Video ini menarik perhatian warganet yang menonton untuk menuliskan berbagai tanggapan.
Tak sedikit warganet memberikan dukungan moril kepada cewek pengendara sepeda motor jadul berharga fantastis ini yang ditertawakan oleh teman-temannya.
"Yang maticnya masih kredit, diam dulu," sarkas warganet.
"Pasti yang ngetawain punya beat kredit upppsss," sahut yang lain.
"Kamu akan dihargai ditempat yang tepat," ujar lainnya.
"Tambah dikit bisa beli mobil seken," pendapat yang lain.
"Diketawain naik motor itu. Gue mah hormat sama neng nye. Keren neng dari gue, 10 jempol buat si eneng nye," komentar warganet lainnya.
Tag
Baca Juga
-
Ganteng Kali Mas Dhimas Prasetyo, Kru Denny Caknan saat Cek Sound Bikin TerDhimas-Dhimas
-
Trend Sound 'Aku Ada Type' di TikTok, Profil Meerqeen Si Aktor Tampan yang Bikin Candu Gegara Konten Swipenya
-
Wanda Hamidah Tiba-Tiba Tulis Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi, Ada Apa?
-
Petinggi Dunia Kenakan Batik Dihina saat Jamuan Gala Dinner KTT G20, Netizen Pasang Badan: Ini Pakaian Indonesia
-
Cek Besar Belanjaan Dewi Perssik, Aurel, dan Nagita Slavina di Shopee, Fuji: Wih Borong Abis Ibu-Ibu
Artikel Terkait
-
Update Harga Tiket Sari Ater, Pemandian Air Panas dengan Panorama Memikat
-
Harga Emas Naik, Alarm Krisis Ekonomi di Depan Mata
-
Penthouse dengan Pemandangan Cantik Kota New York Ini Dijual Murah, Cuma Rp 1,8 Triliun!
-
Harga Tiket Kapal Laut Makassar-Surabaya April 2025 dengan Jadwal Terbaru
-
Update Harga Emas Antam Logam Mulia, 4 April 2025: Lengkap dari 0,5 Gram Hingga 1 Kg
News
-
Kode Redeem Genshin Impact Hari Ini, Hadirkan Hadiah Menarik dan Seru
-
Pasar Literasi Jogja 2025: Memupuk Literasi, Menyemai Budaya Membaca
-
Bukan Hanya Kembali Suci, Ternyata Begini Arti Idulfitri Menurut Pendapat Ulama
-
Contoh Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa yang Menyentuh dan Memotivasi
-
Hikmat, Jamaah Surau Nurul Hidayah Adakan Syukuran Ramadhan
Terkini
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Menelaah Film Forrest Gump': Menyentuh atau Cuma Manipulatif?
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?