Tanggal 27 Juli merupakan salah satu hari yang tentunya cukup bersejarah bagi dunia militer Indonesia, khsususnya bagi TNI-AU. Di tanggal inilah TNI-AU pada 76 tahun yang lalu melakukan serangan udara pertama kalinya dalam sejarah militar angkatan udara Indonesia. Serangan yang juga menjadi bagian dari masa Agresi militer Belanda I ini menjadi salah satu bukti bahwa kekuatan militer Indonesia saat itu masih ada dan kuat.
Peringatan serangan udara pertama kalinya dalam sejarah TNI-AU atau yang dahulu dikenal dengan nama AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) ini juga dikenal dengan peringatan Hari Bakti TNI-AU. Peringatan ini dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 27 Juli.
Kronologis Jalannya Serangan Udara Pertama AURI
Seminggu setelah militer Belanda melaksanakan aksi polisionil atau yang dikenal dengan kode Operatie Pelikaan, pihak militer Indonesia berada di posisi yang cukup terdesak akibat serangan dadakan tersebut. Pada saat itu, memang kekuatan militer Indonesia hanya bersenjatakan beberapa senjata peninggalan Jepang, terutama dari kekuatan angkatan udara.
Namun, serangan Belanda yang memang secara kekuatan lebih unggul saat itu berhasil melemahkan kekuatan para pejuang sehingga banyak persenjataan yang rusak atau hancur. Di sisi kekuatan udara, pesawat-pesawat milik AURI yang notabene merupakan peninggalan Jepang dihancurkan yang pada saat itu berada di Lapangan udara Maguwo, Yogyakarta. Hal ini membuat pimpinan AURI pada saat itu geram dan ingin melakukan serangan balasan.
Melansir dari situs aviahistoria.com, terdapat beberapa versi mengenai otak pimpinan dari rencana serangan dadakan ke markas Belanda tersebut. Namun, satu hal yang pasti adalah misi serangan udara ini pada saat itu dianggap sebagai misi bunuh diri. Bagaimana tidak? Penerbang yang tersisa saat itu hanya berstatus sebagai siswa yang minim jam terbang. Namun, para penerbang yang tersisa tersebut justru sangat ingin menyerang balik dan bahkan beberapa diantara mereka mengajukan diri secara sukarela.
Akhirnya, terpilihlah 4 penerbang beserta 3 pendamping yang akan melakukan misi serangan. Keempat penerbang dan 3 pendamping tersebut adalah Mulyono, Bambang Saptoadji, Soetardjo Sigit, Suharnoko Harbani, Dulrakhman, Sutarjo dan Kaput. Mereka berencana melakukan serangan dengan 4 pesawat, yakni 1 uni pesawat Mitsubishi Ki-51 atau yang dikenal dengan nama “Guntei”, 2 pesawat latih “Cureng” dan 1 pesawat tempur Hayabusha.
Perlu diketahui hanya Guntei dan Hayabusha saja yang memang didesain sebagain pesawat tempur murni, sedangkan 2 pesawat “Cureng” yang digunakan ini merupakan pesawat latih yang tidak dilengkapi sistem senjata. Namun, pada saat itu pada akhirnya kedua pesawat latih tersebut dimodifikasi seadanya guna melakukan serangan dengan menggunakan bom yang ada.
Tepat pada dini hari tanggal 29 Juli 1947, pesawat Hayabusha yang sejatinya akan dipiloti oleh Bambang Saptoadji mengalami kerusakan mesin dan tidak dapat terbang. Hal ini membuat serangan hanya dilakukan dengan 3 pesawat saja. Tepat menjelang subuh, misi mulai dilakukan dengan sasaran di Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Singkat cerita, misi tersebut berhasil dijalankan meskipun tingkat kesuksesan misi tersebut kurang begitu diketahui. Akan tetapi, dengan adanya misi serangan ini memberikan suntikan moral kepada para pejuang dan sekaligus menandakan bahwa kekuatan Indonesia secara militer masih kuat untuk melakukan serangan ke Belanda.
Baca Juga
-
Sejarah Tercipta, Wasit Wanita Pimpin Laga di Ajang Piala Dunia 2026
-
Resmi Disetujui DPR, Mengapa PSSI Ngotot Naturalisasi Pemain Liga Amatir?
-
Sorotan Tajam Piala Dunia 2026: Kontroversi Visa AS dan Bayang-Bayang Kesuksesan Rusia 2018
-
2026 Tahun Terakhir Melihat Messi dan Ronaldo di Piala Dunia: Akhir dari Sebuah Era?
-
PSSI Lanjutkan Naturalisasi Timnas Indonesia, Pemain Ini Diprediksi Datang!
Artikel Terkait
News
-
Tanpa Alas Kaki dan Tanpa Suara, Makna di Balik Mubeng Beteng Malam 1 Suro
-
Catat Tanggalnya! Intip Keseruan Event Besar Thai Festival Jakarta 2026
-
3 Tahun Kabar Terdepan: Merajut Keberagaman, Mengawal Kebenaran
-
Beruang Kutub Dulu Putih Kini Kelabu: Tanda Alam yang Terabaikan dari Krisis Iklim Global
-
Bosan Kerja Sendirian? WFC Journal Mengubah Meja Kopi Jadi Lingkaran Pertemanan
Terkini
-
Mentalitas Baja Samurai Biru: Mengapa Jepang Layak Jadi Kuda Hitam Paling Berbahaya
-
RIIZE Ajak Kita Lebih Ekspresif dan Nikmati Momen di Lagu Do Your Dance
-
Lewis Hamilton Podium ke-106 Bersama Ferrari, Rekornya Makin Tak Tersentuh!
-
Skin Barrier Kamu Terganggu? 4 Moisturizer 5% Panthenol untuk Kulit Sehat
-
Resmi! Konser BTS 'Arirang' di Jakarta Ditambah Jadi 3 Hari, Cek Daftar Harga dan Jadwal Presalenya