Yoursay Talk edisi Rabu (20/9/2023), kembali lagi dengan tema yang sangat menarik. Siapa yang sering berusaha tidak mau tahu dengan inner child sendiri karena merasa itu semua hanya sifat kekanak-kanakan dan tidak pernah menganggap keberadaannya?
Bersama Rafika Syaiful, M.PSI., kita akan diajak untuk mengenal dan menerima inner child pada acara Yoursay Talk dengan tema ‘Love and Heal Your Inner Child’ melalui live instagram yang seru dan menarik!
Narasumber Yoursay Talk sore hari ini adalah seorang Psikolog Klinis Dewasa, yakni Rafika Syaiful, M.PSI. Ia biasanya menangani klien usia 18 tahun ke atas dan bekerja di biro psikologi. Kesibukannya belakangan ini adalah mengisi webinar, konseling, serta mengurus anak-anak.
Inner child itu apa sih?
Istilah inner child belakangan ini sedang ramai dibahas di berbagai media sosial. Berdasarkan pemaparan Rafika, inner child ini memang istilah yang sedang hype sekarang ini. Teori tentang inner child ini memang telah ada sejak dulu, tetapi istilahnya saja yang berbeda.
“Inner child adalah kumpulan perjalanan atau masa lalu seseorang. Kayak bagaimana orang itu terbentuk, itu baru namanya konsep inner child. Kumpulan pengalaman individu seseorang di masa kecilnya,” terang Rafika.
Inner child pasti dimiliki oleh semua orang karena pada dasarnya kita semua pasti melewati beberapa fase dalam hidup, mulai dari bayi hingga menjadi dewasa seperti sekarang.
BACA JUGA: Menolak Lupa: Genosida Etnis Yahudi di Nemencine, Lithuania 20 September 1941
“Kita semua pasti memiliki inner child karena kita tidak langsung gede. Kita melewati banyak fase mulai dari bayi hingga dewasa. Setiap orang pasti memiliki masa masa yang mereka alami saat masih kecil,” ujar Rafika lebih lanjut.
Inner child yang terluka
Lantas, bagaimana bisa inner child seseorang terluka? Inner child terluka itu biasanya dapat disebabkan oleh berbagai hal yang terjadi di masa lalu, terutama ketika masih kecil dulu. Seperti misalnya kekerasan saat kecil, mengalami abusive, pengabaian, atau orang tua yang sering berperilaku kasar. Semua hal ini dapat menyebabkan trauma tersendiri, dan sekarang ini ramai disebut dengan inner child yang terluka.
Misalkan, kita menginginkan es krim, ada yang bilang menginginkan es krim itu adalah hal yang kenak-kanakan. Sebenarnya hal ini adalah hal yang wajar, karena tidak semua inner child itu memiliki konotasi negatif. Sekarang ini, kebanyakan orang mengasosiasikan inner child sebagai hal yang negatif.
Hal ini akan menjadi masalah ketika menginginkan es krim dan tidak bisa kesampaian, kita justru marah-marah dan jadi agresif. Ini bisa jadi salah satu tanda bahwa ada permasalahan dengan inner childnya. Untuk mendiagnosa inner chlid bermaslaha atau tidak, prosesnya panjang dan sangat personal untuk tiap orang.
Aspek yang memengaruhi inner child
“Bagaimana individu itu terbentuk, jadi semua aspek bisa memengaruhi,” ujar Rafika kemudian.
Ketika kita ada permaslaahan di masa lalu yang tidak selesai, hal ini bisa terbawa hingga dewasa. Anak-anak zaman sekarang mungkin lebih pandai mengatur atau menangani rasa marah dan emosi negatif lainnya karena ada banyak ilmu yang bisa diakses dengan mudah, apalagi banyak media sosial yang membahas hal ini.
“Kita gak bisa hidup cuman fisiknya doang yang sehat, mentalnya enggak, begitu pula sebaliknya. Keduanya saling berkaitan,” terang Rafika saat menjelaskan tentang hubungan antara kesehatan mental serta jiwa dengan kesehatan fisik.
Jadikan inner child sebagai hal yang positif
“Jangan jadikan ini suatu hal negatif, tapi kita bisa memilih kita mau jadikan pengalaman kita sebagai hal yang positif kah, atau jadi hambatan. Jangan sungkan untuk cari bantuan profesional, ke psikolog bukan berarti kalian terdiagnosa gangguan mental atau mental bermasalah, itu belum pasti,” jelas Rafika.
Kamu bisa menyimak keseruan live instagram sore hari tadi melalui rekaman video berikut ini!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Tag
Baca Juga
-
Anti Kusam dan Keriput: 5 Facial Wash Melembapkan untuk Usia 40-an
-
7 Buku yang Dibaca Juhoon Cortis, Seleranya Mencakup Semua Genre!
-
Kita Semua Punya 'Topeng' yang Berbeda, Buku Ini Ajak untuk Menerimanya
-
Dari Viral ke Layar Lebar: 4 Fakta Film Baby Udon yang Bikin Sesak
-
Dari Misteri hingga Klasik, Ini Deretan Novel yang Jadi Teman Bacaan Para Idol K-Pop
Artikel Terkait
News
-
Ritel Adalah Cermin Sosial: Membaca Karakter Pelanggan dari Gaya Belanja Mereka
-
Urban Eco Journey: Cara Seru Trash Ranger Rayakan Ulang Tahun Sambil Menyelamatkan Bumi
-
FH UNY Berdayakan UMKM Desa Galuhtimur Lewat Legalitas Hukum & Inovasi Produk
-
Tim FIP UNY Bekali Guru PCM Tonjong Modul Ajar Berbasis Deep Learning
-
FH UNY Gelar PkM di MIM Tonjong, Kenalkan Pendekatan 'Deep Learning' untuk Guru Muhammadiyah
Terkini
-
Jelajahi Jakarta Lewat Stamp Hunting MRT, Seru dan Ramah di Kantong
-
Mengejar Koruptor Tak Perlu ke Antartika! Cukup Penegakan Hukum Konsisten
-
Argentina ke Semifinal! Rating Pemain Jadi Sorotan Usai Tumbangkan Swiss
-
Budaya 'Kondangan Akademik' Mahasiswa: Bentuk Dukungan atau Tekanan Sosial?
-
Di Balik Sorot Lampu Stadion: Jayden Adams dan Bukti Bahwa Pesepak Bola Juga Manusia Biasa