Film dokumenter Netflix “Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso” membuat keluarga mendiang Wayan Mirna Salihin kesal. Seperti ayah Mirna, Edi Darmawan menyebut jika dirinya ditipu oleh Netflix.
Kisruhnya kasus kopi sianida itu sampai ke telinga saudara kembar Mirna, Sandy Salihin, yang sekarang tinggal di luar negeri.
Ketika diminta konfirmasi oleh Denny Sumargo, Sandy Salihin mengaku tak ingin muncul di podcast untuk mengklarifikasi berbagai isu yang berbalik memojokkan keluarganya.
Berbeda dari sang ayah, Sandy Salihin pribadi mengaku tidak masalah jika saat ini publik berbalik membela Jessica Wongso.
“Kayaknya nggak perlu tapi coba saya pikirkan. Karena begini Mas Den, dengan semua isu yang ada di luar sana, orang melupakan kalau Mirna sudah tidak ada,” ujar Densu menirukan apa yang disampaikan Mirna, dikutip pada Kamis (12/10/2023).
“Kalaupun Jessica dibebaskan dan kalaupun publik lebih membela Jessica, saya nggak apa-apa. Karena itu pun tidak akan bisa mengembalikan nyawa Mirna,” sambungnya.
Akan tetapi, Sandy Salihin berusaha mengimbangi pendapat warganet dengan mengunggah beberapa video terkait kasus kopi sianida di Instagram-nya.
Salah satu yang diunggahnya adalah program 60 Minutes Australia yang sempat memuat sesi wawancara dengan dirinya.
Video tahun 2018 itu memperlihatkan Sandy Salihin menyebut Jessica Wongso sebagai satu-satunya orang di lokasi kejadian yang tak menangis kendati mengaku Mirna sang korban adalah temannya.
“Dia sama sekali nggak nangis. Dia satu-satunya orang yang nggak nangis di sana,” ungkap Sandy Salihin menggambarkan sosok Jessica yang saat itu menyaksikan detik-detik Mirna sekarat.
Jessica Wongso bahkan digambarkan tenang ketika Mirna Salihin tengah diburu-buru dibawa ke rumah sakit. Saat Jessica Wongsi tampak tidak nyaman di rumah duka Mirna pun turut menjadi sorotan.
Sandy Salihin secara khusus mengomentari Jessica Wongso yang masih bisa tertawa dan tersenyum kendati ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Mirna oleh Polda Metro Jaya.
Secara blak-blakan, Sandy Salihin menyebut Jessica Wongso malah menikmati semua perhatian yang diterimanya setelah Mirna meninggal dunia. Menurut Sandy, Jessica tidak peduli sekalipun publik memerhatikannya karena melakukan pembunuhan keji yang menewaskan Mirna.
“Saya pikir dia menikmati semua perhatian itu. Sepertinya dia menyukai semua perhatian yang datang karena tidak pernah merasakannya, mungkin,” ujar Sandy.
“Saya rasa dia memang menikmati perhatian media,” tandas Sandy.
Baca Juga
-
Portofolio Digital Jadi Ijazah Baru, Senjata Gen Z Tembus Dunia Kerja?
-
Review Serafina Makes Waves: Buku Bergambar Penuh Tawa dan Pelajaran Hidup
-
4 Rekomendasi Parfum Lokal Aroma Teh, Cocok untuk relaksasi!
-
Budaya Menghakimi Era Digital: di Balik Layar, Dia Tetaplah Seorang Manusia
-
Cermin Politik Hari Ini: Ketika Fanatisme Memaklumi Etika yang Terabaikan
Artikel Terkait
-
Profil Pemilik Netflix, Disinggung Ayah Mirna Salihin Hingga Saham Emiten Anjlok
-
Ngaku Punya Masalah dengan Otto, Hotman Paris Tetap Kekeuh Perjuangkan Keadilan untuk Jessica: Nggak Ada Kaitan
-
Wamenkumham Sebut Jessica Wongso ke Olivier 3 Hari Sebelum Tragedi Mirna, Otto Hasibuan: Fitnah Keji!
-
Hotman Paris Sebut Mahkamah Agung Beri Perlakuan Berbeda Terhadap Jessica Wongso: Kalo yang Lain Bisa Bebas
-
Cerita Ibu Jessica Wongso Soal ART-nya Menghilang Saat Mau Dijadikan Saksi: Katanya Diamankan...
News
-
Ilmuwan Temukan Spons Laut yang Bisa Bersihkan Pelabuhan Tercemar
-
Hidup Berpindah Mengikuti Hutan: Perjuangan Punan Batu Benau-Sajau Mempertahankan Ruang Hidup
-
Naik Transportasi Umum, Langkah Sederhana yang Bisa Bikin Kota Lebih Nyaman
-
Mengapa Transportasi Umum Adalah Jawaban Buat Bumi Kita
-
Healing Murah Meriah: Keliling Jakarta Naik Transum
Terkini
-
Portofolio Digital Jadi Ijazah Baru, Senjata Gen Z Tembus Dunia Kerja?
-
Review Serafina Makes Waves: Buku Bergambar Penuh Tawa dan Pelajaran Hidup
-
4 Rekomendasi Parfum Lokal Aroma Teh, Cocok untuk relaksasi!
-
Budaya Menghakimi Era Digital: di Balik Layar, Dia Tetaplah Seorang Manusia
-
Cermin Politik Hari Ini: Ketika Fanatisme Memaklumi Etika yang Terabaikan