Hikmawan Firdaus | Ruslan Abdul Munir
Tagkap layar Ahman Sahroni & Salsa Erwina (Instagram/@admadsahroni88, @salsaer)
Ruslan Abdul Munir

Belakangan ini, jagat media sosial dihebohkan oleh tantangan debat terbuka yang dilayangkan oleh seorang diaspora bernama Salsa Erwina Hutagalung kepada Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni.

Polemik ini bermula dari komentar Sahroni yang menyebut "orang tolol sedunia" bagi mereka yang mengusulkan pembubaran lembaga legislatif tersebut.

Alih-alih mereda, pernyataan ini justru memantik api perlawanan dari Salsa, seorang influencer dan juara debat internasional yang bermukim di Denmark.

Apa yang terjadi selanjutnya bukan sekadar pertarungan lisan, melainkan sebuah cerminan betapa jauhnya wakil rakyat dari suara rakyatnya sendiri.

Tantangan Salsa Erwina bukanlah hal sepele. Dengan lugas, ia menuntut pertanggungjawaban Sahroni dan anggota DPR lainnya terkait besarnya gaji serta tunjangan yang mereka terima, yang dinilai tidak sebanding dengan kondisi ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Dalam serangkaian unggahan di media sosialnya, Salsa menyampaikan kritik pedas namun terstruktur, menyoroti inkonsistensi antara janji politik dengan realitas yang ada.

Tantangan ini menjadi representasi kekecewaan masyarakat, terutama kaum muda dan diaspora, yang merasa aspirasi mereka tidak pernah didengar.

Namun, yang memuat publik semakin geram adalah respons dari Ahmad Sahroni. Ia memilih untuk menolak tantangan debat tersebut dengan alasan yang terkesan meremehkan. "Ane gak akan ladenin org yg ajak debat ane, ane mau bertapa dl bia pinter krn ane masih bloon," tulisnya dalam sebuah unggahan yang kemudian dihapus.

Respons ini, meskipun mencoba terlihat santai, justru memunculkan interpretasi lain. Bagi banyak warganet, respons tersebut menunjukkan ketidaksiapan, bahkan mungkin ketidakmauan.

Ketidakmauan untuk berhadapan langsung dengan kritik yang berbasis data dan logika. Sahroni seolah memilih untuk menghindari dialog alih-alih memberikan penjelasan yang transparan.

Sikap Sahroni ini kemudian dibalas kembali oleh Salsa dengan argumen yang semakin tajam. Ia menyindir bahwa "uang sebanyak itu tidak bisa membeli keberanian."

Sindiran ini bukanlah sekadar serangan pribadi, melainkan kritik terhadap sistem politik di mana kekuasaan dan kekayaan sering kali digunakan untuk membungkam suara kritis, bukan untuk membangun komunikasi yang sehat.

Konflik ini semakin memanas ketika Salsa mengungkapkan dugaan intimidasi, di mana ia mendapatkan informasi bahwa Sahroni berencana "mengunjungi" rumah keluarganya di Pamulang.

Meski Sahroni membantah tuduhan ini dan menyebutnya berlebihan, insiden tersebut meninggalkan jejak ketidaknyamanan dan kekhawatiran publik tentang bagaimana pejabat publik menanggapi kritik.

Pada akhirnya, debat antara Salsa Erwina dan Ahmad Sahroni memang tidak pernah terjadi. Namun, polemik ini justru memberikan pelajaran penting bagi kita semua.

Pertama, ia menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi arena debat publik yang kuat di mana suara-suara dari luar lingkaran kekuasaan dapat menantang narasi yang ada.

Salsa Erwina, sebagai representasi diaspora dan anak muda, membuktikan bahwa keberadaan fisik di luar negeri tidak mengurangi kepedulian terhadap kondisi bangsa.

Kedua, kasus ini menyoroti kegagalan wakil rakyat dalam membangun dialog yang konstruktif. Penolakan Sahroni untuk berdebat tidak hanya menunjukkan ketidakmauan untuk berdialog, tetapi juga memperlihatkan bahwa kritik sering kali dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai masukan.

Padahal, transparansi dan akuntabilitas adalah pilar utama demokrasi. Dengan menghindari debat, pejabat publik justru memperlebar jurang kepercayaan antara mereka dan rakyat yang diwakilinya.

Ketiga, tantangan Salsa Erwina mencerminkan kekuatan moral dari suara rakyat. Ketika kekuasaan dihadapkan pada kritik yang jujur dan berani, ia sering kali goyah.

Meskipun tidak ada debat fisik, Salsa telah memenangkan debat moral di mata banyak orang. Keberaniannya untuk menantang keadilan telah menginspirasi banyak pihak untuk tidak lagi diam dan mulai menyuarakan ketidakpuasan mereka.

Masyarakat kini lebih cerdas, lebih terhubung, dan lebih berani dalam menuntut pertanggungjawaban. Suara rakyat, meskipun datang dari kejauhan, tetap memiliki kekuatan untuk mengguncang fondasi kekuasaan.

Debat yang tak kunjung terjadi ini justru menjadi bukti paling nyata bahwa ada banyak hal yang perlu diperbaiki dalam sistem politik kita, dimulai dari kesediaan untuk mendengar dan berdialog.