Setelah membaca novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan rasanya seperti ditarik masuk ke dunia yang puitis namun penuh dengan ironi.
Di sebuah kota fiksi bernama Halimunda Dewi Ayu bangkit dari kuburannya setelah 21 tahun kematiannya. Sebuah kemunculan yang langsung menandai bahwa novel ini tidak sekedar menyajikan realisme magis semata, melainkan sejarah yang membusuk dan hidup kembali.
Dewi Ayu merupakan seorang perempuan berdarah Belanda Indonesia yang terpaksa menjadi pelacur demi bertahan hidup di masa penjajahan Jepang.
Kisah Dewi Ayu memberikan pelajaran bahwa kecantikannya bukanlah anugerah, melainkan alat tukar yang pahit dan getir.
Di novel ini Eka Kurniawan sebagai penulis memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan dapat menjadi ruang pertempuran antara kekuasaan perang dan juga sejarah.
Empat anak Dewi Ayu yang lahir dari laki-laki yang berbeda yang bahkan identitas ayahnya tak jelas menjadi simbol dari kelanjutan luka yang diwariskan.
Anak-anak Dewi Ayu mewarisi kecantikannya dan selalu jadi primadona di Halimunda. Namun, yang paling mengguncang adalah sosok anak ke-4 yaitu si Cantik yang namanya justru tidak sesuai dengan rupa dan nasibnya.
Melalui dirinya pembaca dipaksa mempertanyakan ulang apa sebenarnya makna kecantikan yang sesungguhnya. Apakah sebagai anugerah ataukah kutukan?
Kecantikan yang diwarisi oleh ketiga anak Dewi Ayu seakan menjadi candu bagi siapa pun laki-laki yang mengidamkan dirinya.
Setiap laki-laki tersebut akan dibuat menderita karena cintanya sendiri kepada perempuan tersebut, bahkan dirinya rela bertaruh dengan nyawa.
Novel ini menunjukkan bahwa di masyarakat patriarkal dan penuh dengan trauma, kecantikan bisa berubah menjadi kutukan kekuasaan bahkan komoditas yang terus diperebutkan.
Semua perempuan dalam novel ini Dewi Ayu dan anak-anaknya hingga generasi sesudahnya digambarkan sebagai objek bagi negara masyarakat dan laki-laki yang mengaku mencintai mereka.
Eka Kurniawan menggunakan kekerasan, absurditas, dan vulgaritas bukan sekadar untuk mencari sensasi murahan tapi sebagai senjata naratif.
Membacanya mungkin akan menimbulkan ketidaknyamanan dan kegelisahan, penulis memaksa pembaca untuk melihat betapa rusaknya dunia yang dibangun oleh kolonialisme, patriarki, dan militerisme.
Unsur realisme magis yang muncul juga seperti hantu, kebangkitan dari kubur, kutukan, sangat persis dengan budaya dan kepercayaan yang selama ini berkembang di Indonesia.
Novel ini berlapis mitologi, humor, dan tradisi lokal. Bagi aku pribadi novel ini terasa begitu hidup, antara fantasi dan kenyataan saling melengkapi sebagai cara untuk menjelaskan hal-hal yang terlalu pahit jika disampaikan apa adanya.
Melalui perjalanan membaca hampir 500 halaman ini aku menyadari bahwa kecantikan tidak selalu berarti keindahan atau kemurnian, justru kecantikan juga bisa menjadi trauma, beban, bahkan kutukan antargenerasi.
Novel ini membuatku berpikir bahwa ketika luka dianggap biasa, ketika kekerasan menjadi hal yang diwariskan dari ibu ke anak, masyarakat perlahan lupa bagaimana caranya untuk sembuh.
Dan pada akhirnya pertanyaan besarnya menjadi siapa yang paling diuntungkan dari obsesi terhadap kecantikan dan kekuasaan tersebut?
Setelah menutup buku ini aku merasa telah menyelesaikan salah satu karya sastra Indonesia paling kompleks dan paling jujur tentang luka sejarah.
Dari detail cover novel hingga absurditas ceritanya semuanya menjadi representasi sempurna dari dunia fiksi Halimunda yang begitu gelap, tragis dan juga memikat.
Namun, perlu diingat terdapat trigger warning yang perlu di perhatikan sebelum membaca novel ini. Pastikan kamu telah berusia 20 tahun ke atas.
Novel Cantik Itu Luka mengingatkanku bahwa sejarah bukan hanya deretan peristiwa besar tapi juga penderitaan yang menempel di tubuh-tubuh perempuan.
Dari novel ini juga aku belajar bahwa setiap kecantikan tidak selalu menyelamatkan kadang juga bisa membawa kehancuran.
Baca Juga
-
Toy Story 5 Angkat Fenomena Screen Time Addiction pada Anak-Anak
-
Menghargai dan Merayakan Diri Sendiri dalam Buku Kios Pasar Sore
-
Rahasia di Balik Impotensi Ajo Kawir: Mengapa Novel Eka Kurniawan Ini Begitu Kontroversial?
-
Mencintai Kehidupan dengan Bekerja: Refleksi Almustafa Karya Kahlil Gibran
-
Kejahatan Moral Institusi Peradilan dalam Novel 86 Karya Okky Madasari
Artikel Terkait
-
Kami (Bukan) Sarjana Kertas: Satir Pendidikan dan Perjuangan Anak Muda
-
Novel Sejuta Waktu untuk Mencintaimu: Belajar Tetap Utuh Meski Terluka
-
Ulasan Novel Aib dan Nasib, Pertarungan Eksistensial Melawan Stigma Sosial
-
7 Our Family: Luka Keluarga dari Sudut Anak Paling Terlupakan
-
Ulasan Novel Timun Jelita: Bukti Mengejar Mimpi Nggak Ada Kata Terlambat!
Ulasan
-
Melihat Pengarang Tidak Bekerja: Ketika Musuh Terbesar Penulis Adalah Dirinya Sendiri
-
Spider-Man: Brand New Day dan Awal Era Mutan di Marvel Cinematic Universe
-
Ulasan Film Unlocked: Ketika Kehilangan Ponsel Jadi Awal Teror Paling Nyata
-
Ulasan Novel Rumah Kaca, Menyingkap Sisi Gelap Pengawasan Kekuasaan Kolonial
-
The Blanket Cats: Ketika Kehadiran Kucing Menjadi Obat bagi Luka Hati
Terkini
-
4 Pelembap Retinol Ampuh Pudarkan Bekas Jerawat dan Muluskan Tekstur Kulit
-
Anime Mii-chan and Yamada-san Picu Perdebatan, Tim Produksi Beri Tanggapan
-
Bukan Konten Joget, 4 Bocah Ini Pilih Bersihkan Selokan hingga Dijuluki Pandawara Cilik
-
Harga Cuma Rp1 Jutaan, 5 HP Ini Punya Kamera di Atas Ekspektasi
-
Ironi Ruang Kota: Ketika Mal Harus Terbuka, tapi "Rumah Rakyat" Dipagari Kawat Berduri