Memasuki tahun 2026, fenomena trust issue atau krisis kepercayaan di kalangan Generasi Z terhadap berbagai institusi formal—mulai dari pemerintah, partai politik, hingga korporasi besar—mencapai titik nadir.
Generasi yang lahir dan tumbuh di tengah derasnya arus informasi ini tidak lagi mudah terbuai oleh retorika manis di podium atau kampanye pemasaran yang tampak sempurna. Berdasarkan laporan Edelman Trust Barometer, terdapat tren penurunan kepercayaan yang signifikan di kalangan anak muda terhadap institusi global dan lokal. Mereka cenderung lebih memercayai informasi dari sesama pengguna media sosial (peers) dibandingkan pernyataan resmi otoritas.
Skeptisisme ini tidak muncul dari ruang hampa. Gen Z adalah saksi mata bagaimana janji-janji perubahan sering kali menguap begitu saja setelah kursi kekuasaan didapat. Mereka adalah saksi bagaimana isu lingkungan hanya dijadikan komoditas greenwashing oleh korporasi besar, dan bagaimana keadilan sering kali terasa tebang pilih.
Ketajaman mereka dalam membedakan mana yang asli dan mana yang sekadar pencitraan digital membuat mereka menjadi kritikus yang paling sulit untuk ditaklukkan. Bagi mereka, institusi bukan lagi pelindung, melainkan labirin birokrasi yang sering kali tidak inklusif dan jauh dari realitas kehidupan anak muda.
Di ranah politik, isu kepercayaan ini termanifestasi dalam bentuk apatisme yang kritis. Mereka memandang politik bukan sebagai jalan ninja menuju kesejahteraan umum, melainkan panggung sandiwara para elite yang hanya peduli pada siklus lima tahunan. Mengapa harus percaya pada sistem yang sering kali gagal melindungi hak-hak dasar, atau sistem yang membiarkan biaya hidup melambung sementara upah minimum hanya berjalan pelan?
Ketidakpercayaan ini semakin diperparah dengan maraknya korupsi yang seolah menjadi tontonan rutin di layar ponsel mereka setiap pagi. Bagi Gen Z, integritas bukan lagi standar minimal, melainkan barang langka yang hampir punah dalam kamus institusi kita.
Beralih ke dunia kerja, skeptisisme ini mengubah cara mereka memandang korporasi. Generasi ini adalah pelopor tren quiet quitting dan pencari kerja yang sangat mementingkan kesehatan mental. Mereka tidak lagi percaya pada konsep “loyalitas tanpa batas” kepada perusahaan. Mengapa harus setia pada institusi yang bisa melakukan PHK massal hanya melalui surel demi menjaga grafik keuntungan pemegang saham?
Ketidakpercayaan terhadap stabilitas yang dijanjikan perusahaan membuat Gen Z lebih memilih jalur gig economy atau membangun usaha sendiri, meski penuh risiko, daripada harus menggantungkan hidup pada institusi yang tidak punya empati.
Namun, kita tidak bisa menyalahkan skeptisisme mereka secara sepihak. Trust issue ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri. Di era saat deepfake dan hoaks bisa diproduksi dalam hitungan detik, keraguan adalah alat untuk bertahan hidup.
Masalahnya, ketika institusi gagal menjawab keraguan ini dengan transparansi dan aksi nyata, yang terjadi adalah keterputusan komunikasi yang fatal. Institusi yang masih menggunakan pola komunikasi satu arah, kaku, dan defensif hanya akan semakin dijauhi oleh generasi ini. Gen Z tidak membutuhkan jargon “kolaborasi” atau “inovasi” jika praktiknya masih feodal dan tertutup.
Krisis kepercayaan ini seharusnya menjadi alarm keras bagi setiap pemimpin institusi. Memperbaiki kepercayaan Gen Z tidak bisa dilakukan dengan menyewa agensi branding mahal untuk memoles citra di TikTok. Kepercayaan hanya bisa dibangun kembali dengan kejujuran yang brutal (transparansi radikal) dan akuntabilitas yang nyata.
Mereka ingin melihat aksi, bukan sekadar infografis cantik. Mereka ingin melihat pejabat yang berani mengakui kesalahan dan perusahaan yang benar-benar menerapkan etika bisnis, bukan sekadar mengejar keuntungan. Jika institusi-institusi di Indonesia tetap bebal dan gagal bertransformasi menjadi lebih manusiawi serta transparan, jangan kaget jika pada tahun-tahun mendatang partisipasi publik akan terus menurun.
Generasi Z akan membangun dunianya sendiri dengan sistem kepercayaannya sendiri yang terdesentralisasi, meninggalkan institusi-institusi "tua" yang hanya tinggal nama dan gedung megah. Pada akhirnya, kepercayaan adalah mata uang paling berharga di masa depan. Saat ini, institusi kita sedang mengalami kebangkrutan moral di mata generasi masa depan.
Baca Juga
-
Dilema 'Tidurnya Orang Berpuasa', Sebuah Alibi atau Kompensasi Energi?
-
Putaran Tanpa Arah Menjelang Magrib: Pelajaran Kecil dari Jalanan yang Saya Dapat Saat Ngabuburit
-
Scroll, Klik, Ngiler! Cara Menyiksa Diri di Aplikasi Makanan saat Ramadan
-
Menggugat Adab Membangunkan Sahur: Atas Nama Tradisi, Bolehkah Teriak-teriak?
-
Logika vs Durhaka: Mengapa Berargumen Sering Kali Dianggap Tidak Tahu Adab?
Artikel Terkait
-
Alarm 84 Persen: Penolakan Gen Z Pilkada Lewat DPRD dan Bahaya Krisis Legitimasi
-
Gen Z Bisa Miliki Rumah, Hunian Terjangkau Ini Jadi Alternatif di Tengah Harga Melambung
-
Gen Z dan Dilema Cari Kerja: Minim Kesempatan atau Terlalu Pilih-Pilih?
-
Aturan Baru Soal Akuntan Dinilai Buka Peluang Kerja untuk Gen Z
-
Gen Z Paling Vokal! 84 Persen Tolak Wacana Kepala Daerah Dipilih DPRD
News
-
Logika Terbalik Cukai Tembakau Ancam Generasi Muda
-
Kecemasan Gen Z: Apa yang Tersisa Saat AI Menguasai Dunia?
-
Bukan Sekadar Jabatan, Ini Tantangan Karier Gen Z di Era Otomatisasi
-
WNA Rasis di Medsos: Bisa Nggak Sih Dijerat Hukum Indonesia?
-
Pejuang Otodidak: Suka Duka Belajar Bahasa Jepang Mandiri dari Nol
Terkini
-
BLACKPINK Bawa Pesan Keberanian dan Persatuan di Comeback Lagu Terbaru, Go
-
Antara Idealisme dan Uang: Realita Pembajakan Buku dalam Selamat Tinggal
-
4 Hybrid Sunscreen SPF 35, Penyelamat Kulit Berminyak Atasi Jerawat dan PIE
-
5 Jajanan Korea Favorit untuk Buka Puasa, Manis dan Menggoda Selera
-
Frieren: Beyond Journey's End Season 2, Musim yang Lebih Emosional dan Sepi