Masalah menahun yang menghantui stasiun Cikini akhirnya selesai. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung hari ini meresmikan pelican crossing baru untuk para pejalan kaki yang akan menggunakan KRL dari stasiun Cikini.
Ia menegaskan Pemerintah Jakarta berkomitmen untuk memberikan kemudahan bagi warga untuk memanfaatkan fasilitas publik.
"Secara cepat kita merespons apa yang jadi masukan, saran dari publik. Alhamdulillah sekarang sudah terselesaikan (pelican crossing). Tapi saya minta nggak boleh ada yang parkir di sini, apapun itu ojol, taksi," tutur Pramono melansir media sosial Pemda DKI Jakarta, Selasa (16/9/2025).
Lalu apa itu Pelican Crossing dan apa bedanya dengan zebra cross? Meskipun kelihatannya mirip, cara kerjanya beda banget dan jauh lebih aman, terutama buat kita para pejalan kaki. Biar nggak salah kaprah lagi, yuk kita kenalan lebih jauh!
Apa Sih Bedanya Sama Zebra Cross Biasa?
Zebra Cross: Ini cuma "tanda" di aspal. Kita yang mau nyeberang harus adu nyali sama pengendara.
Kita berharap mereka mau berhenti, tapi sering kali mereka malah ngebut. Nasib kita ada di tangan kebaikan hati si pengendara.
Pelican Crossing: Ini adalah "bos"-nya penyeberangan. Dia punya kekuatan untuk memerintahkan kendaraan berhenti lewat lampu lalu lintas. Kita nggak perlu lagi pasrah, kita yang pegang kendali.
Metodenya simpel banget: tekan tombolnya, tunggu sampai lampu buat pejalan kaki menyala hijau (dan lampu buat kendaraan jadi merah), baru deh kita nyeberang dengan tenang dan aman.
Kenapa Namanya 'Pelican'? Emang Ada Hubungannya sama Burung?
Ternyata, nama "Pelican" ini cuma akal-akalan biar gampang diingat! Nama aslinya adalah singkatan dari 'Pedestrian Light Controlled Crossing' (Penyeberangan yang Dikendalikan Lampu untuk Pejalan Kaki), disingkat jadi PELICON.
Karena di Inggris (tempat metode ini lahir) sudah ada Zebra Cross yang pakai nama hewan, biar gampang dan nyambung, kata PELICON ini dipelesetkan jadi PELICAN. Cerdas juga ya marketingnya!
'Fitur Ajaib' yang Bikin Pelican Crossing Unggul
Pelican Crossing ini bukan cuma soal lampu. Dia punya beberapa "fitur ajaib" yang membuatnya jadi pilihan paling aman dan nyaman:
Speaker 'Anti Ngantuk': Selain lampu, ada juga suara "tit-tit-tit" yang super nyaring. Ini bukan cuma buat nandain waktu nyeberang, tapi juga buat "bangunin" pengendara yang mungkin lagi microsleep atau nggak fokus.
Ramah Disabilitas: Ini keunggulan terbesarnya. Buat teman-teman kita yang pakai kursi roda atau punya keterbatasan lain, nyeberang lewat JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) itu perjuangan banget. Dengan Pelican Crossing, mereka bisa nyeberang dengan mudah tanpa harus naik-turun tangga. Waktu yang dikasih buat nyeberang juga cukup lama, jadi nggak perlu buru-buru.
Efisien Buat Pengendara: Buat para pengendara, sistem ini juga adil, lho. Lampu merahnya cuma nyala kalau ada yang menekan tombol. Kalau nggak ada pejalan kaki, mereka bisa terus melaju tanpa hambatan. Jadi, nggak ada lagi drama berhenti sia-sia.
Panduan Singkat Buat Para Pengendara
Nah, buat kamu yang bawa kendaraan, ini etika dasar pas ketemu Pelican Crossing:
- Kurangi kecepatan kalau lihat ada penyeberangan ini di depan.
- Berhenti di belakang garis pas lampu merah, jangan nyerobot.
- Sabar! Kasih kesempatan pejalan kaki, terutama lansia atau penyandang disabilitas, buat nyeberang sampai selesai.
- Kalau lampu sudah hijau, tetap jalan perlahan sambil waspada.
Jadi, lain kali kamu lihat ada tombol penyeberangan, jangan ragu buat dipakai, ya! Itu adalah hakmu sebagai pejalan kaki untuk bisa menyeberang dengan aman dan beradab.
Baca Juga
-
DIY Kalung Makrame untuk Anabul: Modal 25 Ribu, Hasilnya Mewah!
-
Pendidikan Tinggi, Tapi Ekspektasi Lama: Dilema Perempuan di Dunia Akademik
-
Rel Padat dan Sistem Renggang: Catatan Kritis dari Kecelakaan KRL di Bekasi Timur
-
Bukan Sekadar Film Laga, Mengapa 'Ikatan Darah' Justru Bikin Merinding?
-
Saya Memihak Menteri PPPA: Menempatkan Lelaki di Depan Bukan Diskriminasi, Tapi Logika Perlindungan
Artikel Terkait
-
Baru Sehari, Pramono Lihat Uji Coba Tol Fatmawati 2 Gratis Efektif Urai Kemacetan TB Simatupang
-
Nggak Perlu Lompat Pagar lagi, Kini di Stasiun Cikini Ada Pelican Crossing
-
Siap-siap Cek Nama! 1.000 Calon Petugas Damkar DKI Diumumkan Rabu Ini
-
Gubernur Pramono Soroti 1.195 Kebakaran di Jakarta Sepanjang 2025, Puji Peran Warga
-
Pramono Resmikan Jakarta Fire Safety Challenge: 2000 Peserta Dilatih Hadapi Maut Si Jago Merah
News
-
Sisi Gelap Internet: Ketika Privasi Menjadi Ruang Nyaman bagi Para Predator
-
Rekor Baru! Sabastian Sawe Jadi Manusia Pertama Lari 42 Km di Bawah 2 Jam
-
Kurangi Ketergantungan Diesel, IESR Desak Prioritaskan PLTS di Daerah Terpencil
-
Dari Gubuk Seng di Pinggir Rawa ke Universitas Glasgow: Perjalanan Hengki Melawan Keterbatasan
-
5 Moisturizer Paling Sering Direkomendasikan Dermatolog, Andalan untuk Skin Barrier Sehat
Terkini
-
DIY Kalung Makrame untuk Anabul: Modal 25 Ribu, Hasilnya Mewah!
-
Pendidikan Tinggi, Tapi Ekspektasi Lama: Dilema Perempuan di Dunia Akademik
-
Rel Padat dan Sistem Renggang: Catatan Kritis dari Kecelakaan KRL di Bekasi Timur
-
Bukan Sekadar Film Laga, Mengapa 'Ikatan Darah' Justru Bikin Merinding?
-
Saya Memihak Menteri PPPA: Menempatkan Lelaki di Depan Bukan Diskriminasi, Tapi Logika Perlindungan