Bagi banyak orang, work from cafe mungkin terdengar hanya seperti kegiatan bekerja bersama sambil membuka laptop di coffee shop. Namun bagi komunitas WFC Journal, aktivitas mereka ternyata tidak berhenti di sana. Di balik agenda kerja bersama, komunitas ini juga rutin mengadakan berbagai kegiatan lain yang membuat hubungan antaranggota menjadi lebih dekat dan terasa seperti pertemanan sungguhan.
Lebih dari Sekadar Wadah Bekerja Bersama
Founder WFC Journal, Amel, mengatakan bahwa komunitas mereka memang dibangun bukan hanya untuk menjadi tempat bekerja, tetapi juga menjadi ruang sosial bagi para pekerja remote dan hybrid yang sering merasa kesepian. Karena itu, selain agenda work from cafe, mereka juga memiliki kegiatan lain bernama WFC Break. Kegiatan ini dilakukan tanpa laptop dan lebih fokus untuk membangun koneksi antaranggota lewat aktivitas santai.
“WFC Break ini adalah hal-hal apa pun di luar WFC yang kita lakuin,” kata Amelia.
Aktivitas yang dilakukan pun cukup beragam. Mulai dari hangout bersama, olahraga, hingga kegiatan hiburan yang dilakukan secara santai di luar pekerjaan. Menurut Amel, komunitas mereka pernah mengadakan badminton, tenis, yoga, hingga lari bersama di kawasan Gelora Bung Karno.
“Terus juga kita pernah nobar beberapa kali, main board game pernah,” ujarnya.
Mereka bahkan memiliki istilah khusus bernama no laptop day yaitu hari ketika anggota dilarang membuka laptop dan benar-benar fokus untuk bersantai.
“Kita balancing antara kerja-kerja-kerja, tapi ada no laptop day-nya juga,” lanjutnya.
Menurut Amelia, kegiatan-kegiatan tersebut penting karena banyak anggota komunitas yang sehari-harinya bekerja sendiri dari rumah. Terlalu lama bekerja sendirian membuat banyak orang kehilangan ruang sosial dan kesempatan untuk membangun pertemanan baru setelah memasuki dunia kerja.
Berawal dari Kerja Bareng, Berakhir Jadi Sahabat
Hal itu juga dirasakan oleh Ridho, anggota WFC Journal yang sudah bergabung selama dua tahun terakhir. Menurutnya, komunitas ini membuat hubungan antaranggota berkembang jauh lebih dalam dibanding sekadar teman kerja.
“Konsepnya memang from strangers to friends banget,” kata Ridho.
Ridho bercerita bahwa salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika ia dan anggota lain pergi traveling bersama ke Bandung setelah awalnya hanya bertemu lewat agenda WFC.
“Kayak traveling bareng temen aja, tapi temen-temennya dari WFC Journal,” ujarnya.
Selain traveling, mereka juga pernah melakukan staycation bersama di Bogor setelah agenda work from cafe selesai. Menurut Ridho, kegiatan seperti itu membuat hubungan antaranggota terasa lebih dekat karena mereka tidak hanya bertemu saat bekerja saja.
“WFC di Bogor, lanjut staycation, nge-grill bareng,” katanya sambil tertawa.
Kegiatan santai seperti ini ternyata menjadi alasan banyak anggota merasa nyaman untuk terus kembali mengikuti agenda komunitas. Healthy, salah satu anggota lain, mengatakan bahwa hubungan pertemanan mereka tidak berhenti hanya saat acara WFC berlangsung.
“Acara-acara casual kita juga sering ketemu di luar WFC Journal,” ujarnya.
Menurut Healthy, komunitas ini membuat banyak orang yang awalnya datang sendirian akhirnya memiliki lingkar pertemanan baru dari berbagai latar belakang pekerjaan dan kehidupan.
Dari cerita founder dan para anggotanya, komunitas seperti WFC Journal menunjukkan bahwa WFC bukan hanya soal mencari tempat kerja yang nyaman. Di tengah budaya kerja fleksibel yang semakin berkembang, komunitas ini menjadi ruang bagi para pekerja remote dan hybrid untuk membangun koneksi sosial yang lebih personal.
Lewat berbagai kegiatan santai di luar pekerjaan, WFC Journal membuktikan bahwa hubungan yang dimulai dari meja kerja dan laptop ternyata bisa berkembang menjadi pertemanan yang nyata.
Baca Juga
-
Penelitian Ungkap Mikroplastik Kini Ditemukan di Awan, Berpotensi Pengaruhi Iklim
-
Kamar Gerah Bikin Susah Tidur? Lakukan 7 Trik Sederhana Ini Agar Tetap Sejuk Tanpa AC
-
Menjaga Nostalgia, Merangkul Semua: Upaya Orutaku Club Agar Tetap Inklusif
-
Lebih dari Sekadar Panutan: Cara Anak Sulung Mengembangkan Diri Bersama di Persulungan
-
Eco Parenting, Cara Sederhana Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan pada Anak
Artikel Terkait
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
Rasio Wirausaha RI Loyo, Eddy Sambuaga Pimpin KWG Siap Kejar Ketertinggalan
-
Lebih dari Ruang Curhat, Persulungan Hadir sebagai Wadah Belajar dan Bertumbuh bagi Anak Sulung
-
Semangat Kebersamaan dan Interaksi Bermakna Warnai Nadaloka 2026
-
Fandom Mark Lee Salurkan 5 Hewan Qurban untuk 300 Warga Pelosok Jawa Barat
News
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
-
Indonesias Horse Racing: 45 Kuda Raih Posisi Podium di IHR Merdeka Cup 2026
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Mengenal Proyeksi Gall-Peters: Mengungkap Distorsi Geografis di Peta Mercator
-
Generasi Muda Harus Melek Tradisi: Bagaimana Topeng Blantek Tetap Eksis?
Terkini
-
Jung Chaeyeon Perankan 3 Karakter di Drakor M: Reboot, Siap Tayang 2027
-
UlasanA Bona Fide Killer: Ketika Ibu Rumah Tangga Menyimpan Identitas sebagai Pembunuh
-
Petualangan ke Dunia Tanpa Titik Akhir di Buku Princess, Bajak Laut & Alien
-
Mobile Suit Gundam RG XARX-ZERO Tayang April 2027, Hadirkan Dunia Baru
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur