Dikenal kritis terhadap pemerintah, Susi Pudjiastuti justru menyatakan dukungan atas usulan Menteri HAM terkait pembentukan zona demonstrasi di halaman Gedung DPR RI.
“Kali ini saya setuju.” Pernyataan singkat ini ditulis di X pada Sabtu (13/9/2025) oleh Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, dalam responnya terhadap usulan Menteri HAM, Natalius Pigai, yang mengajukan ide pembuatan lapangan khusus demonstrasi di halaman Gedung DPR RI.
Menteri HAM, Natalius Pigai, mengusulkan agar halaman Gedung DPR RI dijadikan tempat untuk demonstrasi. Menurutnya, halaman kantor-kantor besar pemerintah dengan lahan luas seharusnya menyediakan ruang terbuka untuk masyarakat menyampaikan aspirasi.
“Kantor besar seperti DPR RI, halaman luas jangan sampai masyarakat demonstrasi di pinggir jalan, mengganggu kenyamanan orang. Sebaiknya dibuat lagi halaman depan, dibuatkan supaya (menampung) 1.000-2.000 orang,” kata Natalius Pigai di sela kunjungan ke Kantor Wilayah Kementerian HAM di Denpasar, Bali, dilansir ANTARA, Jumat (12/9/2025).
Ia juga sempat menambahkan bahwa pemerintah, termasuk lembaga legislatif, yudikatif, hingga sektor swasta, seharusnya menerima kedatangan pengunjuk rasa.
“Kalau kementerian buat peraturan menteri, saya mau saja. Jadi setiap unjuk rasa, siapa pun baik pemerintah, legislatif, yudikatif, atau korporasi, pihak swasta wajib menerima pengunjuk rasa tapi dibuat ruang, ada tempat pusat demokrasi,” ujar Pigai.
Dukungan Mengejutkan dari Susi Pudjiastuti
Di tengah perdebatan soal usulan ini, dukungan datang dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Melalui media sosial X miliknya, ia memberikan respon singkat:
“Kali ini saya setuju.”
Pernyataan tersebut langsung mencuri perhatian publik. Susi selama ini dikenal sebagai sosok kritis terhadap kebijakan pemerintah, sehingga dukungannya kali ini terhadap usulan tersebut menuai berbagai komentar publik.
“Setuju apanya bu? Yang harus dilakukan itu mereka mendengar rakyat. Mau dibikin lapangan supaya keluar anggaran lagi, tapi kalau mereka masih budek ya buat apa? Harusnya tanpa demo pun mereka mengerjakan apa yang jadi keinginan rakyat,” komentar salah satu pengguna akun X (@Gyb***)
“Demonstrasi itu opsi terakhir karena mereka tidak mendengar suara rakyat, kalau anda setuju sama saja anda setuju dengan legislatif nggak bakalan bener kerja seterusnya,” komentar akun lainnya (@Umbu***)
Kritik dari warganet tersebut menandakan bahwa bagi sebagian masyarakat, demonstrasi bukan soal tempat, melainkan soal apakah suara yang disampaikan benar-benar didengar oleh wakil rakyat.
Wacana Demokrasi yang Perlu Dikawal
Meski baru sebatas wacana, usulan ini telah membuka ruang diskusi publik. Apakah zona demonstrasi ini akan menjadi solusi untuk menjembatani rakyat dan pemerintah? Atau justru menjadi cara baru untuk mengatur dan membatasi suara rakyat?
Yang jelas, jika benar-benar direalisasikan, kebijakan ini harus dijalankan dengan prinsip keterbukaan dan keberpihakan pada rakyat. Demokrasi bukan sekadar menyediakan tempat untuk berbicara, tetapi juga memastikan suara itu didengar.
Baca Juga
-
Campaign Anti-Bullying, Suara.com dan BLP UNISA Kunjungi SMA Mutiara Persada
-
100 Perempuan Muda Siap Raih Mimpi Bersama Glow & Lovely Bintang Beasiswa 2025
-
Spesial Hari Guru! Suara.com Dampingi Guru Ngaglik Pelatihan Menulis
-
Rayakan Natal dan Tahun Baru 2026 Penuh Warna di Satoria Hotel Yogyakarta
-
Segera Tayang! Intip 4 Fakta Menarik di Balik Film 'Belum Ada Judul'
Artikel Terkait
-
Gelar Aksi 'Pink', Aliansi Perempuan Tuntut Pembebasan Delpedro Cs di Polda Metro Jaya
-
Surat Terbuka Susi Pudjiastuti untuk Prabowo Soal Tambang Nikel Raja Ampat: Mohon Hentikan, Pak...
-
Skill Bahasa Inggris Menteri Pariwisata Dikritik, Eks Menteri Susi Pudjiastuti Justru Dipuji
-
Lapangan Demonstrasi dan Jarak Etis Demokrasi
News
-
Memahami Bencana Karhutla di Kawi-Butak: Saat Eksotisme Alam Berubah Jadi Tantangan Berbahaya
-
Bantuan IPB University dan ARM HA-IPB Tiba di Labuan Bajo, Ribuan Paket Pangan Siap Disalurkan
-
FESTVENT VOL.3 2026 Hadir Kembali, Usung Tema 'Own the Street, Own the Game'
-
Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
Terkini
-
Review Resident Evil: Hujan Fan Service yang Memanjakan Gamer Sekaligus Mengorbankan Ending
-
Relatable! Ini Alasan Novel Harga Teman Cocok Dibaca Pejuang Quarter-Life Crisis
-
Sinopsis Vibe, Film India yang Dibintangi Kunal Kemmu dan Preity Zinta
-
Bye Warna Kalem! Tren Cewek Buah Bikin Tampilan jadi Lebih Segar
-
Terjebak Clickbait dan Misinformasi: Ketika Kecepatan Membunuh Ketelitian Membaca