Di tengah-tengah isu perubahan iklim dan penumpukan sampah makanan di kota besar, sekelompok anak muda di Bandung berinisiatif untuk melakukan perubahan. Dari sanalah awal mula terbentuknya komunitas Hareudang Bandung, sebuah gerakan akar rumput yang telah berdiri sejak tahun 2023 dengan fokus pada isu pangan dan lingkungan.
Nama Hareudang sendiri merupakan akronim dari “Hayu Redakan Permasalahan Pangan”, yang juga sekaligus berasal dari kata Sunda “hareudang” yang berarti panas atau gerah. Makna ini tercipta dari pengalaman nyata yang mereka rasakan.
Mereka sempat merasakan suhu panas di kotanya, yang setelah ditelusuri, salah satu penyebabnya adalah tingginya emisi gas metana dari timbunan sampah makanan (food waste).
“Kita sebagai NGO (Non-Governmental Organization) yang memang grassroots organization, gerakan akar rumput [yang berdiri] tahun 2023. Selama dua tahun ini, fokusnya di bidang pangan sama lingkungan,” jelas Yoga Fauzan Renardi, selaku Founder and Strategic Advisor of Hareudang Bandung.
Tiga Jurus Jitu Melawan 'Food Waste'
Sebagai komunitas, Hareudang Bandung bergerak dengan tiga nilai inti: food educating, food handling, dan habit changing. Nilai-nilai ini kemudian diwujudkan dalam program-program nyata yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
1. Food Educating: Sampah Jadi 'Cuan'
Melalui program ini, Hareudang mengajarkan cara mengolah limbah makanan agar bisa kembali bernilai. Mereka berhasil menjangkau berbagai instansi, seperti Universitas Telkom, SMP Adhi Karya, hingga SMA Vokasi di bidang kuliner.
Tidak hanya di ranah pemuda, Hareudang juga berhasil merangkul komunitas ibu-ibu PKK. Melalui kegiatan ini, pemanfaatan limbah kulit bawang berhasil diubah menjadi barang yang punya nilai jual, misalnya seperti bumbu penyedap dan teh kesehatan.
“Kita punya program utama namanya program Nasi Goreng... kita berhasil melaksanakan program Nasi Goreng dengan cara memanfaatkan kulit limbah bawang, bawang merah dan bawang putih, itu bisa menjadi suatu nilai jual,” ucap Yoga.
2. Food Handling: Menyelamatkan Makanan Berlebih
Program ini fokus pada penyelamatan makanan berlebih (surplus food) dari tempat-tempat seperti restoran dan kafe. Hareudang Bandung berperan sebagai penghubung antara produsen makanan dengan komunitas sosial yang membutuhkan, memastikan bahwa makanan yang masih layak tidak berakhir di tempat sampah begitu saja.
3. Habit Changing: Mengubah Kebiasaan dari Akar
Untuk menciptakan perubahan dalam kebiasaan masyarakat, mereka juga meluncurkan program yang bertujuan untuk mengurangi jejak karbon, khususnya di daerah desa ketahanan pangan.
Program ini mendorong pengurangan limbah dan berfokus pada peningkatan kualitas hidup melalui pengolahan makanan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Komunitas Hareudang Bandung menyadari bahwa tantangan terbesar mereka adalah kurangnya pemahaman masyarakat mengenai masalah food waste.
Namun, mereka juga melihat adanya potensi besar di kalangan anak muda yang tertarik untuk berpartisipasi. Melalui pendekatan yang melibatkan hobi, seperti kolaborasi dengan komunitas lari, Hareudang berharap dapat menjangkau lebih banyak orang.
Dengan berfokus pada edukasi, pengelolaan makanan, dan perubahan kebiasaan, komunitas ini bertujuan untuk menciptakan dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan, tidak hanya di Bandung, tetapi juga bisa menjadi inspirasi bagi komunitas lainnya di Indonesia.
Penulis: Flovian Aiko
Baca Juga
-
ARMY Makin Bersiap, BTS Umumkan Jadwal Rilis Album dan Tur Dunia 2026
-
Sinopsis Ikkis, Film India yang Dibintangi Dharmendra dan Agastya Nanda
-
Rilis 15 Januari, Film Penunggu Rumah: Buto Ijo, Adaptasi Timun Mas Lebih Gila dan Seram
-
Deretan Artis yang Diprediksi Melahirkan pada 2026, Momen Penuh Kebahagiaan
-
Jejak-Jejak Miko
Artikel Terkait
-
The Papandayan Jazz Fest 2025: Satu Dekade Meresonansi Keindahan Dalam Keberagaman
-
Generasi Sadar Mental Health, Tapi Kenapa Masih Takut Cari Bantuan Psikolog?
-
Tak Sekadar Nongkrong Young On Top Buktikan Anak Muda Bisa Bergerak dan Berdampak
-
Dianggap Relate Dengan Kehidupan Mahasiswa, Apa Itu Sindrom Duck Syndrome?
-
Generasi Z dan Karier Tanpa Tali: Kenapa Job-Hopping Jadi Strategi?
News
-
Educatopia Expo 2026 Hadir di Mojokerto, Jadi Ruang Eksplorasi Pendidikan dan Minat Generasi Muda
-
Ridwan Kamil dan Atalia Praratya Resmi Bercerai, Tak Ada Masalah Gono-Gini?
-
Lebih dari Sekadar Aspal: Menenun Kembali Harapan di Tanah Sumatera
-
Pemulihan Infrastruktur Sukses, Senyum Aceh Balik Kembali
-
Menyambung Nadi, Memulihkan Asa: Wajah Kemanusiaan di Balik Pemulihan Infrastruktur Aceh
Terkini
-
ARMY Makin Bersiap, BTS Umumkan Jadwal Rilis Album dan Tur Dunia 2026
-
Sinopsis Ikkis, Film India yang Dibintangi Dharmendra dan Agastya Nanda
-
Rilis 15 Januari, Film Penunggu Rumah: Buto Ijo, Adaptasi Timun Mas Lebih Gila dan Seram
-
Deretan Artis yang Diprediksi Melahirkan pada 2026, Momen Penuh Kebahagiaan
-
Jejak-Jejak Miko