Hayuning Ratri Hapsari | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi vote (Pixabay)
Yayang Nanda Budiman

Di era media sosial berbasis video pendek, ruang publik mengalami pergeseran mendasar. Opini publik yang dahulu dibentuk melalui perdebatan, media arus utama, dan pengalaman sosial kini banyak dipengaruhi oleh halaman For Your Page atau FYP. Apa yang muncul di layar ponsel bukan sekadar hiburan, melainkan potongan realitas yang dikurasi algoritma. Dari sanalah pandangan, sikap, bahkan keyakinan politik dan sosial perlahan dibentuk.

Masalahnya, FYP tidak bekerja dengan logika kepentingan publik, melainkan logika keterlibatan. Konten yang memancing emosi, kontroversi, atau sensasi cenderung lebih sering ditampilkan. Akibatnya, opini publik tumbuh di ruang yang serba cepat, dangkal, dan minim konteks.

Algoritma sebagai Penentu Wacana

FYP berfungsi sebagai pintu utama konsumsi informasi. Pengguna tidak lagi aktif mencari isu, melainkan disuguhi konten berdasarkan riwayat interaksi. Dalam mekanisme ini, algoritma berperan sebagai editor tak terlihat yang menentukan isu mana yang layak diperbincangkan dan mana yang diabaikan.

Konsekuensinya, wacana publik menjadi sangat terfragmentasi. Setiap orang hidup dalam linimasa versinya sendiri, dengan isu dan sudut pandang yang bisa sangat berbeda. Apa yang dianggap penting oleh satu kelompok, bisa sama sekali tidak muncul bagi kelompok lain. Ruang publik yang seharusnya menjadi arena pertemuan gagasan justru terpecah menjadi gelembung-gelembung kecil.

Lebih jauh, algoritma cenderung memperkuat preferensi yang sudah ada. Konten yang sejalan dengan pandangan pengguna akan terus diulang, sementara perspektif berbeda tersingkir. Opini publik pun terbentuk bukan melalui dialektika, melainkan melalui pengulangan dan afirmasi sepihak.

Dari Diskursus ke Sensasi

Karakter FYP yang serba singkat mendorong penyederhanaan isu kompleks. Persoalan kebijakan publik, konflik sosial, atau isu lingkungan direduksi menjadi potongan video berdurasi singkat dengan narasi hitam-putih. Nuansa hilang, konteks dipangkas, dan emosi diprioritaskan.

Dalam situasi ini, popularitas sering mengalahkan akurasi. Kreator dengan kemampuan mengemas isu secara provokatif lebih mudah menjangkau audiens luas dibandingkan mereka yang menawarkan analisis mendalam. Opini publik pun rentan dibentuk oleh potongan informasi yang tidak utuh, bahkan menyesatkan.

Fenomena ini berbahaya bagi demokrasi. Ketika opini publik dibangun di atas sensasi, keputusan kolektif berisiko kehilangan dasar rasional. Polarisasi meningkat karena setiap pihak merasa memiliki kebenaran versi FYP mereka masing-masing.

Tantangan Literasi dan Tanggung Jawab Bersama

Menghadapi opini publik yang dibentuk FYP, literasi digital menjadi kunci. Masyarakat perlu menyadari bahwa apa yang muncul di linimasa bukan cerminan objektif realitas, melainkan hasil seleksi algoritmik. Kesadaran ini penting agar publik tidak menelan mentah-mentah informasi yang dikonsumsi.

Tanggung jawab juga tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pengguna. Platform digital perlu lebih transparan dalam cara kerja algoritma dan dampaknya terhadap ruang publik. Sementara itu, negara dan institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam memperkuat literasi media dan etika digital.

Pada akhirnya, FYP adalah alat, bukan penentu mutlak. Namun, tanpa kesadaran kritis dan regulasi yang memadai, ia berpotensi mengendalikan arah opini publik secara senyap. Menjaga kualitas ruang publik di era algoritma berarti memastikan bahwa opini dibentuk oleh pemahaman, bukan sekadar oleh apa yang paling sering lewat di layar.