M. Reza Sulaiman | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Vape (Unsplash/@elsaolofsson)
Oktavia Ningrum

Banyak orang beralih ke vape karena satu alasan sederhana: aromanya sedap. Wanginya menyerupai toko kue: stroberi, vanila, mangga, hingga karamel. Tidak seperti rokok konvensional, vape tidak berbau aspal, tidak membuat napas menjadi "bau naga", dan terasa lebih "bersih" secara sosial.

Vape kemudian dipersepsikan sebagai alternatif yang lebih aman, lebih modern, bahkan lebih sehat. Namun, ada satu kesalahan logika besar di sini: hanya karena racunnya wangi, bukan berarti zat tersebut bukan racun.

Hal ini seperti meminum cairan pembersih lantai yang dicampur sirup mapel. Rasanya mungkin manis dan aromanya mungkin harum, tetapi tetap saja itu racun. Tubuh Anda tidak peduli pada aroma; yang dikenali hanya zat kimia. Paru-paru manusia diciptakan untuk udara bersih, bukan untuk aerosol kimia.

Bukan Uap, melainkan Aerosol Kimia

Vape bukan uap air biasa. Secara ilmiah, yang dihirup adalah aerosol, bukan uap. Cairan vape terdiri atas propylene glycol (PG) dan vegetable glycerin (VG) yang dipanaskan oleh coil hingga berubah menjadi kabut mikro.

Saat Anda menghirupnya, Anda sebenarnya sedang "mengukus" jaringan paru-paru yang sangat lembut dengan kabut kimia hangat. Alveolus (kantong udara mikroskopis tempat pertukaran oksigen) bukan jaringan tahan panas, bukan pula filter kimia. Jaringan tersebut rapuh, tipis, dan sensitif.

Ancaman Vitamin E Asetat dan Popcorn Lung

Masalahnya tidak berhenti di situ. Dalam beberapa liquid vape, terutama yang kualitasnya rendah atau tidak terstandar, terdapat vitamin E acetate. Di dunia kosmetik, zat ini memang aman untuk kulit. Namun, ketika dipanaskan dan dihirup, zat ini berubah sifat menjadi lengket, berminyak, dan bisa menempel di alveolus seperti lem. Efeknya, pertukaran oksigen terganggu, paru-paru meradang, dan jaringan menjadi rusak secara struktural.

Belum lagi zat perasa seperti diacetyl. Aromanya memang terasa buttery, creamy, dan wangi, tetapi secara medis diketahui dapat menyebabkan bronkiolitis obliterans, atau yang dikenal sebagai popcorn lung. Ini adalah kondisi ketika saluran napas kecil mengalami luka dan penyempitan permanen. Napas menjadi berbunyi, kapasitas paru menurun, dan kerusakannya tidak bisa dipulihkan.

Inhalasi Logam Beracun dan Kecanduan Nikotin

Dari sisi alat, vape menggunakan coil logam sebagai pemanas. Ketika coil dipanaskan berulang-ulang, partikel mikro logam bisa ikut terlepas dan terhirup. Timbal, nikel, dan kromium semuanya bisa masuk ke paru-paru dalam bentuk partikel ultrahalus. Secara ilmiah hal ini disebut toxic metal inhalation. Efeknya mengerikan: peradangan jaringan, stres oksidatif, dan kerusakan sel jangka panjang. Anda bukan lagi bernapas, melainkan sedang "menelan" pabrik besi dalam bentuk mikro.

Masalah lain yang sering diremehkan adalah nikotin. Banyak liquid vape mengandung kadar nikotin tinggi dengan sensasi yang halus di tenggorokan sehingga terasa ringan dan tidak menyiksa seperti rokok. Justru inilah yang berbahaya. Tubuh tidak merasa diserang, tetapi otak menerima nikotin terus-menerus. Hasilnya adalah kecanduan tingkat tinggi tanpa disadari. Jantung distimulasi tanpa henti, tekanan darah naik, dan tubuh masuk ke mode stres kronis.

Bukti Medis dan Kerusakan Permanen

Dunia medis sudah mencatat dampaknya. Jurnal The New England Journal of Medicine mendokumentasikan fenomena EVALI (E-cigarette or Vaping product use-Associated Lung Injury), di mana banyak pengguna vape, terutama anak muda, masuk UGD dengan kondisi paru-paru putih pada rontgen akibat peradangan berat.

Sementara itu, American Journal of Preventive Medicine melaporkan bahwa pengguna vape memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit paru kronis dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan apa pun. Risiko ini meningkat tajam pada pengguna ganda (rokok dan vape).

Masalahnya sederhana: paru-paru bukan knalpot motor. Organ ini tidak bisa diganti jika rusak. Tidak ada "suku cadang" paru-paru. Sekali jaringan alveolus rusak, sebagian besar tidak bisa pulih sempurna. Jadi, jangan tertipu bau stroberi, vanila, mint, cokelat, atau mangga. Di balik wangi itu, ada perang kimia yang pelan-pelan menggerogoti sistem pernapasan Anda. Racun tetap racun meskipun dibungkus aroma toko kue.