M. Reza Sulaiman | Andik Irwanto
Seorang bayi menagis digendong ibunya saat menyeberangi sungai dengan Tali Sling, melewati sungai Jembatan Berawang Gajah, Aceh Tengah (source; @algamahateara)
Andik Irwanto

Ada masa ketika sebuah jalan kini bukan lagi bentangan aspal, melainkan berubah menjadi lumpur. Ia mengubah penanda hidup: apakah hari ini bisa bekerja, apakah anak-anak bisa bersekolah, atau apakah seseorang bisa sampai ke layanan kesehatan tepat waktu. Di beberapa wilayah Sumatra, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, pascabencana, jalan dan jembatan mendadak bukan hanya rusak, melainkan hilang dari keseharian. Dan ketika itu terjadi, yang terguncang bukan hanya satu kampung, melainkan denyut kecil dari kehidupan kita sebagai bangsa.

Seperti pagi itu, di sebuah wilayah Aceh Tengah yang dikelilingi sungai dan tanah basah, seorang ibu berdiri cukup lama di tepi aliran air. Di tubuhnya, seorang bayi terikat kuat dalam gendongan sembari ia meniti penyeberangan darurat. Untuk menyeberang, ia harus berpegangan pada tali sling yang dibentangkan seadanya. Peristiwa ini terjadi di Jembatan Berawang Gadah, Ketol. Sang ibu, Khairunnisa, menyeberang untuk membeli kebutuhan bayinya. Tidak ada jembatan. Tidak ada pegangan pasti. Hanya kebutuhan dan keberanian yang membuatnya melangkah.

Ratusan warga setiap hari melintas untuk belanja, berobat, dan menjual hasil tani. Tali sling itu dipasang secara swadaya oleh warga bersama aparat setempat. Sebanyak sembilan desa di wilayah ini masih terisolasi akibat jembatan yang putus pascabanjir. Cerita seperti ini pastinya bukan satu-dua. Di banyak sudut Sumatra, nyatanya bencana memutus lebih dari sekadar akses fisik.

Bencana memutus rutinitas, memperlambat ekonomi, dan diam-diam juga mengikis rasa aman. Jalan yang sebelumnya dilalui tanpa berpikir kini berubah menjadi tantangan harian yang penuh pertaruhan. Di titik itu, kita sadar bahwa infrastruktur bukan soal kemewahan lagi, melainkan hak dasar agar hidup bisa berjalan wajar, normal, dan aman.

Ketika Akses Terputus, Kehidupan Ikut Tertahan

Akses jalan dan jembatan adalah penghubung utama kehidupan warga. Sekali bencana menghantam dan akses utama terganggu, dampaknya menjalar begitu cepat dan senyap. Penjual kesulitan membawa hasil dagangan, anak-anak harus menempuh jalur memutar, dan warga yang sakit sering kali menunggu waktu yang tepat untuk berangkat. Roda kehidupan seperti mampet dan jalan di tempat. Semua terasa tertahan, seolah kehidupan diminta berhenti sejenak tanpa aba-aba.

Di situ kita belajar bahwa jalan bukan sekadar soal infrastruktur dan mobilitas. Jalan adalah urat nadi kehidupan. Ketika ia terputus, yang terhenti bukan hanya kendaraan, melainkan juga harapan kecil warga untuk menjalani hari secara normal. Di negeri kepulauan seperti Indonesia, konektivitas adalah cara kita saling menjaga satu sama lain. Karena itu, pembukaan kembali akses pascabencana menjadi langkah krusial agar kehidupan bergerak lagi.

Pemulihan pascabencana tidak selalu datang dengan sorak-sorai karena memang bukan perayaan. Hadirnya perlahan, bertahap, dan sering kali nyaris tidak disadari. Namun, justru dari sanalah dampaknya terasa paling nyata. Ketika akses mulai dibuka kembali melalui pengerukan material longsor, perbaikan badan jalan, pemasangan jembatan darurat, atau jalur alternatif, warga mulai merasakan perubahan kecil yang berarti.

Jembatan yang Menyambung Rasa Percaya

Jembatan yang berdiri kembali bukan hanya menyambung dua sisi sungai. Ia menyambung kembali rasa percaya untuk pulih; bahwa setelah bencana, selalu ada upaya untuk memulihkan dan menjaga konektivitas antarwilayah agar kehidupan warga tidak terlalu lama tertahan. Pada akhirnya, selalu ada upaya agar kehidupan bisa berjalan kembali meski tidak persis sama seperti sebelumnya.

Di lapangan, proses pemulihan sering kali berlangsung tanpa banyak kata. Ada kerja bersama, gotong royong, dan sinergi bahu-membahu. Dalam konteks inilah, kerja-kerja pemulihan akses jalan dan jembatan yang dilakukan oleh Ditjen Bina Marga bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menjadi bagian penting dari proses bangkitnya wilayah terdampak. Fokusnya sederhana namun vital: memastikan jalur transportasi kembali terbuka agar aktivitas warga dapat berjalan kembali.

Kesadaran bahwa akses yang terbuka atau tersambung berarti masa depan juga akan kembali terlihat bentuknya. Jalan yang kembali bisa dilalui menjadi simbol bahwa perhatian terhadap kebutuhan pokok masyarakat tetap dijaga, bukan hanya untuk hari ini, melainkan juga untuk keberlanjutan hidup ke depan.

Contohnya, Jembatan Krueng Meureudu di Pidie Jaya yang rusak akibat diterjang banjir kini telah selesai diperbaiki. Jembatan sudah kembali dibuka sebagai jalur penting penghubung menuju Kabupaten Bireuen. Akses jalan di lintas timur sudah kembali berangsur normal.

Suara motor kembali terdengar di pagi hari. Anak-anak berangkat sekolah tanpa harus melepas sepatu. Aktivitas yang sempat berhenti perlahan menemukan ritmenya lagi. Hal-hal sederhana ini cukup untuk mengingatkan bahwa kehidupan memang layak diperjuangkan bersama.

Sumatra sendiri adalah pulau yang akrab dengan ujian. Dari Aceh hingga Sumatra Barat, dari pesisir hingga pegunungan, bencana kerap datang tanpa permisi. Namun, yang selalu menarik adalah cara warganya bertahan. Ada ketangguhan yang tidak riuh. Ada gotong royong yang tidak selalu terdokumentasi. Di sanalah sebenarnya wajah Indonesia sering kali paling jujur terlihat.

Jalan sebagai Awal Harapan

Ketika seorang ibu tidak lagi harus menyeberangi sungai dengan tali sling, ketika akses jalan dan jembatan kembali aman dilalui, kita tahu bahwa pemulihan bukan sekadar membangun ulang fisik. Ia adalah upaya mengembalikan martabat hidup sehari-hari seorang anak, seorang ibu, seorang bapak, dan sebuah keluarga.

Jalan yang kembali terbuka mengingatkan kita bahwa Indonesia dibangun bukan hanya dari beton dan baja, melainkan dari kepedulian dan rasa saling terhubung sebagai satu bangsa. Selama akses dijaga dan konektivitas dipulihkan, harapan akan selalu menemukan jalannya pulang, baik di Sumatra maupun di seluruh penjuru Indonesia.

Baca Juga