Bimo Aria Fundrika | Sri Rahayu
Jembatan Krueng Tingkeum. [Dok. Istimewa]
Sri Rahayu

Khairunnisa seorang ibu di Aceh Tengah bertaruh nyawa menggunakan tali sling untuk menyeberang. Wanita itu nekat menyebrang demi mencari kebutuhan pokok bayinya.  Pemandangan miris yang membuat kita menahan nafas melihatnya.

Sling tersebut adalah penghubung darurat swadaya masyarakat dibantu oleh TNI dan Polri sebagai akses sementara untuk bisa menyalurkan bantuan ke desa-desa terisolir. Ada kurang lebih 9 desa di Ketol yang masih terisolasi akibat banjir bandang yang menerjang Aceh.

Bayi kecil dalam gendongan Khairunisa terlihat menangis, mungkin karena takut, lapar, haus, atau rasa tidak nyaman lainnya. Video yang diunggah oleh akun @algamahateara itu langsung mendapat respons dari warganet yang menontonnya.

Warganet menahan napas membayangkan seberapa kuat tali sling tersebut mampu bertahan. Bagaimana jika tiba-tiba sling putus saat berada tepat di atas sungai? Pemandangan itu seperti sedang bermain flying fox, hanya saja ini sungguhan, bukan permainan.

Dalam video lain yang diunggah oleh portal berita @inilah_com, kejadian kurang beruntung dialami seorang relawan asal Gayo yang terjatuh saat menyeberang menggunakan tali sling. Alhamdulillah, pria tersebut berhasil menyelamatkan diri dari derasnya arus sungai.

Inilah kondisi nyata yang terjadi di Aceh Tengah akibat terputusnya akses jalan setelah dihantam banjir besar. Situasi ini membutuhkan perhatian dan penanganan khusus. Jembatan menjadi kebutuhan penting agar Aceh dapat pulih dari kondisi saat ini.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Dirjen Bina Marga bergerak sigap dengan mengambil langkah untuk membantu memulihkan konektivitas antarkota di Aceh, salah satunya melalui perbaikan Jembatan Krueng Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Menurut Rita Marleni, PPK 1.2 Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, “Jembatan Krueng Meureudu berada di ruas jalan Meureudu–Pidie Jaya. Jalur ini sangat penting karena menjadi penghubung menuju Kabupaten Bireuen.”

Tersambungnya kembali Jembatan Krueng Meureudu menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat proses pemulihan. Masyarakat tidak perlu lagi bertaruh nyawa untuk terhubung dengan Kota Bireuen. Relawan dan donatur pun dapat lebih cepat mengakses lokasi bencana dan menyalurkan bantuan kepada warga yang sebelumnya terisolasi.

Perbaikan jembatan ini menjadi bukti kehadiran peran pemerintah dalam mempercepat pemulihan akses nasional Lintas Timur Aceh.

Selain Jalur Lintas Timur, Kementerian PU juga mengupayakan pemulihan 12 koridor jalan nasional lainnya di Sumatra agar dapat kembali dilalui. Kementerian PU turut menggandeng BUMN Karya dan TNI untuk mempercepat pemulihan sarana pendidikan pascabencana di Aceh Tamiang.

Menurut Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, kolaborasi lintas sektor akan mempercepat proses pemulihan di Aceh Tamiang dan daerah terdampak banjir lainnya. Kehadiran alat berat menjadi bantuan nyata untuk memudahkan proses pemulihan. Kolaborasi aktif yang didukung alat berat diperlukan untuk memulihkan aksesibilitas, memastikan aktivitas masyarakat kembali normal, serta membersihkan kawasan terdampak.

Pulihnya akses jalan akan meningkatkan keselamatan pengguna jalan sekaligus memperlancar distribusi logistik sehingga tidak menimbulkan korban akibat kelaparan. Salah satu koridor yang telah kembali terhubung adalah Tarutung–Sipirok sepanjang kurang lebih 68 kilometer.

Perbaikan akses jalan penghubung juga berdampak pada sektor lain, salah satunya pendidikan, yang harus menjadi prioritas sebagai ruang “pulih” dan simbol harapan bagi generasi emas di Sumatra.

Kementerian PU juga melakukan pembersihan jalan nasional batas Pidie Jaya–Kota Bireuen setelah beberapa ruas strategis di Provinsi Aceh kembali terhubung. Semoga melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah dan masyarakat, proses pemulihan dapat berlangsung lebih cepat dan menyeluruh.

Baca Juga