Segenap insan tentu mendambakan akhir cerita yang bahagia, terutama dalam urusan asmara. Kita ingin cinta yang diperjuangkan berlabuh di pelaminan dan direstui oleh semesta. Namun, realitas sering kali menyuguhkan jalan yang terjal dan berliku. Tak jarang, tembok besar bernama adat, strata sosial, hingga restu orang tua menjadi penghalang yang meremukkan hati. Perasaan sesak itulah yang tergambar jelas dalam roman klasik Layla Majnun karya Syekh Nizami Ganjavi.
Kisah ini berawal dari Lembah Hijaz, di mana seorang pemimpin kabilah Bani Amir bernama Syed Omri meratapi hidupnya yang terasa hampa. Meski bergelimang harta bak Nabi Sulaiman dan memiliki wibawa yang disegani, ia didera kesedihan karena tak kunjung dikaruniai keturunan. Baginya, segala emas dan permata tak ada gunanya tanpa kehadiran permata hati sebagai penerus nasab. Setelah doa-doa panjang yang menyayat hati, lahirlah seorang putra tampan bernama Qays.
Qays tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan puitis. Namun, takdir berubah saat ia disekolahkan di sebuah daerah Badui dan bertemu dengan Layla. Gadis itu digambarkan memiliki kecantikan yang mampu membuat jantung berhenti berdetak.
Pertemuan itu menjadi awal dari segala bencana sekaligus keindahan. Qays jatuh cinta sedalam-dalamnya, hingga dunia di sekitarnya memudar. Sayangnya, cinta mereka terbentur tembok tradisi. Ayah Layla menolak Qays karena perilaku pemuda itu yang dianggap menyimpang dari kewajaran akibat terlalu menyuarakan cintanya lewat syair-syair di depan umum.
Dalam keputusasaannya karena dipisahkan dari pujaan hati, Qays memilih meninggalkan kemewahan rumahnya dan pergi mengembara ke gurun pasir. Ia mengabaikan kebutuhan fisik, hidup bersama binatang buas, dan terus meratapi kerinduannya hingga dijuluki Majnun atau orang gila. Berikut ini sedikit kutipan gambaran kepedihan hati Qays saat jiwanya luluh lantak:
"Duhai, sekarang pencinta telah terpisah jauh dari kekasih hatinya, hidup dengan hati gundah-gulana, hancur lebur dan tubuh terkoyak, laksana gelap malam tanpa terang mentari, bagai raja tanpa singgasana, atau seperti orang buta kehilangan tongkat." (hlm. 23).
Penderitaan Qays tak hanya berhenti pada kerinduan. Ia melakukan berbagai tindakan ekstrem yang di luar nalar manusia sehat demi bisa sedikit saja mendekati kediaman Layla. Ia tak lagi memedulikan harga diri, bahkan rela menanggung hinaan dan rasa sakit fisik yang luar biasa asalkan bisa berada di dekat bayang-bayang kekasihnya. Baginya, luka di tubuh tidak ada apa-apanya dibandingkan luka di hati yang tak kunjung sembuh.
Sementara itu, Layla sendiri tak kalah menderita. Ia dipingit, dijauhkan dari pandangan orang, dan dipaksa tunduk pada aturan keluarga yang menyesakkan. Jiwanya tersiksa dalam diam, merindukan sosok Qays yang kini telah dianggap asing oleh masyarakat. Kisah ini bukan sekadar romansa picisan, melainkan sebuah alegori mendalam tentang perjalanan spiritual seorang hamba menuju Tuhannya (cinta ilahi).
Apakah akhirnya Qays dan Layla bisa bersatu di dunia ini, ataukah maut yang justru menjadi jembatan pertemuan mereka? Bagaimana nasib Syed Omri yang harus melihat putra dambaannya hidup merana layaknya pengembara tak bertuan? Apakah Layla mampu mempertahankan kesetiaannya saat takdir mencoba memisahkan mereka?
Ikuti perjalanan mereka dalam buku Layla Majnun yang diadaptasi dari literatur klasik Persia ini. Kisahnya ditulis dengan bahasa yang sangat puitis, penuh metafora, dan sanggup menyentuh relung hati pembacanya.
Pesan berharga yang bisa dipetik dari kisah ini adalah tentang ketulusan yang melampaui logika manusia. Kita diajak memahami bahwa cinta sejati sering kali menuntut pengorbanan ego dan keterikatan duniawi secara total. Sebuah mahakarya yang mengingatkan kita bahwa ada cinta yang lebih besar dari sekadar pertemuan fisik, yakni penyatuan jiwa yang abadi.
Identitas Buku
Judul Buku: Layla Majnun
Penulis Asli: Syekh Nizami Ganjavi (Nizam Ad-Din Abu Muhammad Ilyas Ibn-Yusuf)
Disadur dari: The Classic Love Story of Persian Literature (Terbitan John Blake Publishing, 1997)
Penyadur: Umu Kusnawati dan Lathifatul Izzah
Penerbit: DIVA Press
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Maret 2020
Jumlah Halaman: 224 Halaman (14 x 20 cm)
ISBN: 978-602-391-900-0
Baca Juga
-
Pendamping Tak Kasatmata
-
Novel Tentang Kamu: Manifestasi Kesabaran dan Keteguhan Hati
-
Wayahe Ngopi: Mengapa Kita Perlu Berhenti Sejenak dari Hiruk Pikuk Dunia?
-
Bedah Literasi dan Ketangguhan Mental dalam Novel Harga Sebuah Percaya
-
Belajar Adaptasi dan Profesionalitas dari Novel Dirty Play Karya Ghyna Amanda
Artikel Terkait
Ulasan
-
Film Pocong Merah: Debut Horor Hendra Lee yang Kuat dan Menyeramkan!
-
Drama China A Little Thing Called First Love: Perlahan, Menemukan Jati Diri
-
Romansa Cinta dalam Diam di Novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
-
Sampaikanlah Walau Satu Konten, Kiat Menjadi Kreator Konten Profesional
-
Kawan Lama Ayahmu: Wajah Suram Australia di Era Kolonial