Bimo Aria Fundrika | Ninyoman Sutini
Pemulihan pasca bencana, salah satunya dengan membuat jembatan darurat untuk akses masyatakat
Ninyoman Sutini

Tidak ada  suatu musibah yang bisa diprediksi, karena datangnya dari arah yang tidak disangkakan manusia dan hanya Allah yang tahu kapan waktunya tiba. Termasuk bencana banjir yang melanda wilayah Sumatra, dan provinsi Aceh, yang kini sudah menginjak waktu satu bulan.

Memang air sudah surut pada sebagian wilayah dan warga harus mencoba bertahan hidup meski di tengah sisa-sisa kehancuran pemukiman dan infrastruktur setempat. Yang mana faktanya masalah yang ditinggalkan setelah bencana, jauh lebih berat dan kompleks.

Apalagi masyarakat kalangan bawah, penuh dengan keterbatasan. Bahkan untuk menempati rumah mereka sendiri tidak bisa, dikarenakan rusak parah dan terbawa arus deras. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk kembali pulang, tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari sana.

 Saya pernah merasakan banjir bandang yang menerjang, tetapi tidak separah di Sumatra dan Aceh. Itu terjadi bertahun-tahun, karena bendungan jebol. Meski diperbaiki setiap kali hujan deras turun, kembali jebol karena tidak kuat menahan derasnya arus.

 Ya, siapa sangka? Air yang setiap hari menjadi kebutuhan kita mampu juga melenyapkan segala hal. Bisa jadi alam murka, atas apa yang kita perbuat. Hal sepele sekalipun dengan membuang sampah sembarangan, bisa membuat lingkungan marah.

Yang terparah banjir tersebut sampai dada, saya dan keluarga rasanya kesal jika harus membenahi segala hal selepas banjir. Tidak hanya genangan air yang tersisa, tetapi tumpukan lumpur tebal yang mengeras dan merusak seluruh isi rumah. Pada lumpur tebal yang masuk, banyak material sampah yang terselip, sungguh menjadi kenangan memilukan setiap kali hujan menderas jatuh.

Saat itu tinggal masih menjadi pilihan keluarga kami, tetapi bagaimana dengan warga Sumatra dan Aceh yang terdampak banjir bandang? Rumah hilang, rusak parah, dan dengan berat hati harus mengungsi di posko-posko yang tersedia. Masih untung yang memiliki saudara yang membantu, tetapi jika tidak? Bertahan pada posko yang kadang tidak layak, menjadi pilihan satu-satunya.

Untunglah Indonesia memiliki donatur yang luar biasa banyaknya, karena bantuan terus berdatangan dimulai dari obat-obatan, makanan, kebutuhan pakaian, dan masih banyak lagi. Dari pemerintah, relawan, dan swasta terus berusaha keras menyalurkan logistik ke segala titik. Bahkan melalui helikopter dengan cara airdrop atau heli box ke wilayah terisolir sedikit membantu. Metode tersebut memang tidak maksimal, setidaknya banyak masyarakat yang terdesak kelaparan bisa bertahan sementara.

Salah satu yang mendapat protes atas bantuan lemparan dari helikopter tersebut adalah Bobby Nasution, Gubernur Sumatra Utara, "Tadi sudah disampaikan daerah terisolir itu, artinya tidak bisa terjangkau.

Kalau misalnya tidak bisa dijangkau, berarti kan ada bantuan dari udara. Untuk apa helikopter yang diberikan dari pemerintah pusat, dari Polri, dari TNI, tujuannya mempercepat bantuan," ungkapnya saat konferensi pers di Posko Tanggap Bencana di Jalan AH Nasution, Medan, Minggu (7/12/2025) malam.

Fakta Infrastruktur yang Lumpuh Total, Terpantau Gerak Cepat Bina Marga

Berita yang wara-wiri di televisi, maupun media sosial seringkali membuat rontok hati. Dengan kondisi yang memprihatinkan dari segala sisi, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi daerah yang terisolasi, melihat bantuan dengan cara airdrop saja mengenaskan, tapi apa daya hal tersebut menjadi satu-satunya cara agar warga bisa terus bertahan.

Tidak hanya akses transportasi yang terputus total, semua jalur tertimbun dengan longsor yang tinggi, badan jalan yang ambles, jembatan yang menjadi nadi utama juga ambrol. Bantuan tidak bisa sampai dengan segera, termasuk yang paling penting yakni layanan kesehatan yang menjadi barang paling mereka butuh.

Pemerintah telah berkoordinasi dengan Bina Marga, TNI, POLRI dan pihak terkait untuk menangani banjir di Aceh. Presiden Prabowo menekankan bahwa seluruh bantuan harus menjangkau titik terdalam wilayah terdampak. Keselamatan warga memang sudah selayaknya menjadi prioritas utama

Contoh kecil, saat kita kehujanan sedikit saja kadang membuat tubuh meriang. Ini berhari-hari badai datang, menyerang, bahkan merubuhkan seluruh rumah dan infrastruktur. Tubuh menggigil, kelaparan, keadaan mental yang tidak stabil dan masih banyak lagi.

Saya melihat salah satu video yang diunggah kompascom melalui instagram, sungguh ngilu hati ini. Ada ibu yang menggendong bayinya ketika menyeberang sungai Bah, dengan tali sling di ketol, Aceh Tengah, Selasa (23/12/2025).

Rasanya sedih, rasanya dada sesak, bagaimana jika itu terjadi pada saya? Mengingat saya juga masih ada bayi berusia 5 bulan dan toddler 3 tahun. Ibu tersebut akan pergi membeli kebutuhan bayinya. AllahuAkbar. Semoga Allah mudahkan segalanya yang sedang diuji dengan musibah.

Real bukan? Jika jembatan yang terputus merupakan penghalang fisik yang nyata dan membuat masyarakat merasa sendirian dalam penderitaan yang terjadi. Untunglah pemerintah oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU), segera menyusun langkah untuk membangun kembali jembatan yang rusak, agar jalur segera bisa dilalui.

Faktanya kadang prosedur yang pemerintah lakukan butuh diskusi panjang di atas meja rapat.  Namun semoga tidak kali ini ya? Faktanya ada jembatan yang dibangun dengan kurun waktu 15 hari saja, tidak bisa lebih cepat dari itu. Tidak hanya terkendala jalan, cuaca, tapi bagaimana membawa alat-alat berat tersebut bisa sampai dengan tepat waktu.

Semoga banjir yang terjadi di Sumatra dan Provinsi Aceh dapat membawa pelajaran berharga untuk kita semua dan menjadi PR bagi pemerintah. Bahwa infrastruktur publik harus dibangun atas dasar yang kuat dan layak.

Tidak berhenti dalam pembangunan saja dan perbaikan, tetapi warga juga dibantu agar bisa mendapatkan bantuan yang layak tidak hanya dari segi bahan makanan. Namun juga bisa semen, batu bata, dan lain sebagainya untuk pembangunan rumah kembali. Modal benih untuk petani yang gagal panen, perpindahan dari posko darurat ke pengungsian yang lebih layak lagi. Kasihan lansia dan anak-anak terutama.

Tolong, jangan tinggalkan warga yang terdampak bencana, karena dari segi kemandirian ekonominya pastinya mereka belum bisa berdiri tegak. Dan soal percepatan membangun kembali, yang sudah porak poranda, semoga bukan proyek asal jadi tetapi soal membangun kembali masa depan ribuan warga.

Semoga pun pemangku kebijakan bisa turun langsung, untuk melihat yang terjadi. Terkadang kebutuhan di desa satu berbeda dengan desa yang lain. Program rehabilitasi yang dibangun juga semoga tidak salah sasaran, dan benar-benar bisa memberikan kebutuhan yang sebenar-benarnya.

Sejauh ini, saya yakin pemerintah sudah memberikan yang terbaik yang bisa dilakukan dengan maksimal. Oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dengan berbagai divisinya. Semoga dilancarkan dan dimudahkan dalam pemenuhan kesejahteraan warga pasca banjir. Aamiin.

Baca Juga