Suara tangisan bayi kembali terdengar di Korea Selatan seiring dengan peningkatan angka kelahiran nasional setelah bertahun-tahun mengalami penurunan tajam.
Negara yang selama ini dikenal dengan angka kelahiran yang terus merosot tersebut kini menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Dilansir dari media Allkpop pada Jumat (30/1/2026), terdapat data terbaru yang menunjukkan bahwa jumlah bayi yang lahir dari Januari hingga November tahun lalu telah melampaui angka 230.000.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan data-data sebelumnya, sekaligus menjadi penanda pemulihan signifikan dan tingkat pertumbuhan tertinggi dalam 18 tahun terakhir.
Total Kelahiran Mencapai 233.708
Berdasarkan laporan Tren Populasi November 2025 yang dirilis oleh Kantor Data Nasional pada 28 Januari, total kelahiran kumulatif selama periode Januari hingga November mencapai 233.708 bayi. Angka ini meningkat 13.647 kelahiran atau sekitar 6,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut menjadi yang terbesar sejak tahun 2007, ketika tingkat pertumbuhan kelahiran mencapai 10,4 persen.
Secara khusus, jumlah kelahiran pada November tercatat sebanyak 20.710 bayi. Angka ini mengalami kenaikan 627 kelahiran atau 3,1 persen dibandingkan dengan November tahun sebelumnya. Selain itu, jumlah tersebut merupakan yang tertinggi untuk bulan November sejak 2019—sebelum pandemi COVID-19 melanda—yang kala itu mencatatkan 23.727 kelahiran bayi.
Kantor Data Nasional menyebutkan bahwa tren pemulihan ini telah berlangsung selama 17 bulan berturut-turut sejak Juli tahun lalu. Kelahiran bayi secara bertahap kembali mendekati tingkat sebelum pandemi, yang sempat memperburuk krisis demografi di negara tersebut.
Faktor-Faktor Penting yang Berkontribusi pada Peningkatan
Beberapa faktor dinilai berkontribusi terhadap peningkatan ini. Di antaranya adalah naiknya angka pernikahan, bertambahnya populasi perempuan berusia 30-an (kelompok usia yang secara demografis paling aktif melahirkan), serta perubahan persepsi masyarakat terhadap pernikahan dan persalinan.
Selain faktor tersebut, pemerintah Korea Selatan juga berperan penting terhadap kenaikan angka kelahiran ini. Pemerintah di sana terus menggulirkan berbagai kebijakan untuk mendorong keluarga muda, termasuk subsidi pengasuhan anak, dukungan perumahan, dan insentif keuangan bagi pasangan menikah.
Berbagai faktor itu akhirnya membuat pemulihan terjadi secara berangsur-angsur dan turut tercermin pada tingkat kesuburan total. Pada November tahun lalu, tingkat kesuburan total yang mengukur rata-rata jumlah anak yang diperkirakan dimiliki seorang perempuan sepanjang hidupnya tercatat sebesar 0,79. Angka tersebut meningkat 0,02 poin dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Secara tahunan, tingkat kesuburan total Korea Selatan diperkirakan akan kembali berada di kisaran 0,8. Kantor Anggaran Majelis Nasional sebelumnya memproyeksikan tingkat kesuburan total tahun lalu mencapai 0,80. Perkembangan ini dianggap positif meski masih jauh di bawah angka ideal 2,1 yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas populasi.
Dengan tren peningkatan yang terus berlanjut, jumlah kelahiran tahunan diperkirakan akan naik untuk tahun kedua berturut-turut setelah pertumbuhan yang tercatat pada 2024. Hal ini memberi secercah harapan bagi Korea Selatan, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia.
Meski demikian, para ahli tetap mengingatkan bahwa tantangan jangka panjang masih ada. Biaya hidup yang tinggi, tekanan pekerjaan, serta ketimpangan peran gender masih menjadi faktor yang memengaruhi keputusan masyarakat untuk memiliki anak. Pemerintah pun didorong untuk tidak hanya fokus pada insentif jangka pendek, tetapi juga pada reformasi struktural yang mendukung keseimbangan antara kehidupan kerja dan keluarga.
Pemulihan angka kelahiran ini menjadi sinyal awal yang positif, namun keberlanjutannya akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan perubahan sosial yang lebih luas di masa mendatang.
Baca Juga
-
Sinopsis Whispering Water, Film Horor Baru yang Dibintangi Kim Hye Yoon
-
Ketika Air Keras Menjadi Pesan: Ancaman Nyata bagi Suara Kritis Demokrasi
-
Terlalu Tua untuk Bekerja? Wajah Ageisme di Dunia Kerja Indonesia
-
Usai 7 Tahun Vakum, Son Dam Bi Siap Comeback Akting Lewat Drama Pendek Baru
-
70% Perempuan Alami Kekerasan di Tempat Kerja, Ini Saatnya Benahi Sistem
Artikel Terkait
-
Gokil! Chen Turun Panggung dan Sodorkan Mic di Konser Jakarta, Ajak Fans Nyanyi Bareng
-
Sukses Digelar! Chen EXO Persembahkan Konser Penuh Emosi di Jakarta
-
Semua Penonton Bisa Selfie Bareng, Ini Rundown Lengkap Konser Solo Chen di Jakarta
-
Jang Dong-ju Muncul ke Publik, Ungkap Hidupnya Hancur karena Hacking
-
Gilas Korsel 5-0 di Piala Asia Futsal 2026, Ini Deretan Fakta Menarik Timnas Futsal Indonesia
News
-
Yakin Itu Self Reward? Jangan-Jangan Kamu Sedang Self Sabotage
-
Gaji Ratusan Ribu, Tanggung Jawab Selangit: Ironi Guru Honorer sang "Iron Man" Pendidikan
-
Bukan Cuma Luka di Kulit, Demokrasi Kita Juga Ikut Cedera Gara-Gara Cairan Keras
-
Social Battery Habis Saat Lebaran? Ini Tips Survive Ala Introvert
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
Terkini
-
Ulasan Film Na Willa: Nostalgia Hangat yang Bikin Rindu Masa Kecil
-
Seiyu Awards 2026 Umumkan Pemenang, VA Denji Chainsaw Man Bawa Pulang Piala
-
Film Dream Animals: The Movie, Hewan Lucu Selamatkan Dunia Camilan
-
WFH demi Hemat BBM: Solusi Visioner atau Sekadar Geser Beban ke Rakyat?
-
Review S Line: Garis Merah yang Menguak Rahasia Terdalam Manusia